Kami Melayani Anda dalam Desain / We Serve You in Building Design

Kami Melayani Anda dalam Desain / We Serve You in Building Design

Formulir Pemesanan Desain (Silakan Diisi) / Order Form (Please Fill It)

Contact Form

Name*
Email*
Subject*
Message*
Image Verification
captcha
Please enter the text from the image:
[Refresh Image][What's This?]

Sabtu, 16 Februari 2008

SOS ! JABODETABEK


Gambar foto satelit kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS ) Cisadane, Pesanggrahan, Ciliwung, Cikeas dan Bekasi, yang meliputi wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi.

(klik gambar untuk memperbesar / click picture to enlarge)


Gambar foto satelit kawasan tangkapan air bagi sungai-sungai di wilayah Jabodetabek, yang meliputi lereng utara Gunung Salak, Gede dan Pangrango, serta wilayah Cisarua dan Puncak, Kabupaten Bogor.

(klik gambar untuk memperbesar / click picture to enlarge)


Mengapa Banjir Setiap Tahun Melanda Jakarta?


Jakarta dilalui dan menjadi tempat bermuaranya 13 sungai yang berhulu di Kabupaten Bogor yang berada di sebelah selatan. Ketiga belas sungai itu yaitu Ciliwung, Pesanggrahan, Sunter, Krukut, Jati Kramat, Cipinang, Grogol, Angke, Buaran, Kali Baru, Kali Baru Timur dan Cakung. Sungai yang terbesar adalah Ciliwung yang berhulu di lereng Gunung Pangrango (3019 m) dan Talaga (1725 m) di sekitar wilayah Kecamatan Cisarua dan Megamendung, Kabupaten Bogor.

Di daerah hulu yang menjadi wilayah utama tangkapan air bagi Ciliwung relatif sempit, jika dibandingkan dengan wilayah tangkapan air Sungai Cisadane misalnya, yaitu hanya sekitar 100 km persegi (10.000 ha). Atau kurang lebih setara dengan luas Kota Bogor. Wilayah tangkapan air di Cisarua dan Megamendung ini sekarang sudah beralih fungsi dari hutan dan atau perkebunan bertanaman menahun menjadi wilayah pemukiman, fasilitas pariwisata dan komersial, serta untuk lahan pertanian bertanaman semusim.

Dalam gambar foto udara terlihat (sumber : www.maplandia.com), daerah hulu sungai Ciliwung di wilayah kecamatan Cisarua dan Megamendung pun sudah bernuansa warna coklat dan kemerahan, pertanda terjadi alih fungsi dan pembukaan lahan di daerah tersebut. Kedua wilayah kecamatan ini memang mempunyai posisi yang strategis, karena dilalui oleh jalur utama selatan Jakarta - Bandung. Dengan kondisi alam pegunungan berpemandangan indah, membuat kawasan ini (bersama dengan kawasan Puncak dan Cipanas di Kabupaten Cianjur) menjadi tempat tujuan wisata favorit bagi warga Jabodetabek.

Apalagi setelah dibangunnya jalan tol Jagorawi pada tahun 1980-an, menjadikan waktu tempuh dalam kondisi lalu lintas normal menjadi lebih singkat. Sebagai gambaran, jarak antara Cawang di Jakarta Timur sampai dengan Cisarua yang berjarak sekitar 60 km dapat ditempuh dengan kisaran waktu satu jam berkendaraan. Ditambah dengan pertambahan penduduk yang cepat di kawasan Jabodetabek, sebagai akibat cepatnya proses industrialisasi di kawasan itu pada kurun waktu 1990-an sampai sekarang, menjadikan kawasan Cisarua ini tak luput sebagai tempat limpahan perluasan kawasan pemukiman dan pembangunan fasilitas pendukung pariwisata.

Hanya sayang sekali, dengan tidak dibarengi dengan penerapan tata ruang yang jelas dan tegas, serta penegakkan hukum sejak Orde Baru sampai pemerintahan sekarang, menjadikan kawasan ini dengan cepat beralih fungsi menjadi kawasan pemukiman. Bahkan terkesan liar dan tanpa kendali. Dan mejadi sangat ironis ketika banyak perumahan mewah dan villa di kawasan Cisarua hanya dihuni pada akhir pekan saja. Selebihnya ditinggalkan dalam kondisi kosong, karena pemiliknya bekerja di Jakarta, dan hanya dijaga oleh pekerja rumah tangga.

Maka alur peristiwa bencana banjir sudah dapat diurutkan dengan gamblang dan logis. Dengan daerah tangkapan air Kali Ciliwung yang sempit di lereng Gunung Pangrango dan Talaga, yang seharusnya dijaga kelestariannya telah porak poranda menjadi lahan non-kehutanan dan non-perkebunan. Kawasan Cisarua sudah tidak seindah dulu lagi. Sejauh mata memandang kawasan itu dihiasi pemukiman, villa-villa, lahan pertanian sayuran di lahan berkontur miring berpadu dengan lahan tidur yang terlantar. Semua itu membuat kawasan ini menjadi terkesan semrawut. Ditambah lagi dengan kemiringan tanah yang curam sehingga erosi menjadi sangat tinggi setiap musim hujan. Sebagai gambaran, air hujan di lereng Pangrango di ketinggian 3019 m dpl, kemudian mengalir turun ke dataran yang lebih rendah di Kota Bogor yang berketinggian 260 m dpl, hanya menempuh jarak kurang dari 30 km.

Pada bagian tengah aliran sungai Ciliwung pun sudah sarat oleh pemukiman penduduk dan kawasan industri, mulai dari Kota Bogor, Cibinong dan Kota Depok. Daerah resapan air sudah semakin sempit. Apalagi memasuki wilayah DKI Jakarta, daerah aliran sungai Ciliwung sudah penuh sesak, padat oleh pemukiman penduduk, industri, fasilitas komersial dan berbagai peruntukan lain, yang tak menyisakan lahan sedikit pun sebagai tempat peresapan air. Belum lagi sampah dan pendangkalan sungai yang semakin menurunkan kemampuan fungsi seperti layaknya sebuah sungai.

Maka dapat disimpulkan, air hujan yang turun seketika menjadi aliran air permukaan, karena tidak dapat diserap oleh tanah. Sehingga kumpulan air tanah di sepanjang DAS Ciliwung hampir sepenuhnya mengalir bersamaan menuju ke laut dalam jalur dan kemampuan daya tampung yang sama, bahkan cenderung menurun setiap waktu. Jika musim hujan tiba dengan tingkat curah hujan yang tinggi di kawasan Bogor, menjadikan Ciliwung cepat meluap, mengikuti jumlah air hujan yang diterimanya.


langkah pencegahan

Fenomena ini juga terjadi pada sungai-sungai lain yang mengalir di kawasan Jabodetabek. Jika ingin Jakarta tidak banjir, segera batasi dengan ketat kawasan yang diperuntukkan bagi fungsi selain untuk kehutanan dan perkebunan menahun. Kembalikan lahan pada fungsi semula, walaupun di atasnya telah dibangun bangunan yang tidak sesuai ketentuan. Hijaukan lahan kritis dan lahan tidur yang ditelantarkan pemiliknya yang biasanya spekulan tanah dan properti yang menunggu “harga bagus”, bahkan bila perlu diambil alih pemerintah jika dalam jangka waktu tertentu tidak digunakan sesuai peruntukkannya.

Pada skala mikro, buat sumur-sumur peresapan sebanyak mungkin. Dapat dengan ketentuan, misalnya setiap 25 meter persegi lahan harus dibuat satu sumur peresapan, baik di pemukiman, fasilitas umum, komersial, industri dan fasilitas lainnya. Hindari bahkan larang plesterisasi untuk perkerasan tanah, untuk memberi kesempatan air meresap secara alami seluas mungkin. Sebagai jalan tengah, perkerasan dapat dilakukan dengan grassblock, atau plesterisasi manual pra-cetak in-situ (plesterisasi yang dapat dibuat sendiri dengan mencetak blok-blok kecil, misalnya berukuran 20x20 cm dari pasir, kerikil dan semen) yang dibentuk dengan tetap memberi celah – celah bagi tanah. Kemudian tidak menggunakan lapisan aspal pada jalan-jalan intern di pemukiman, perkantoran, dan industri. Pada kawasan ini dapat dibuat dengan lapisan pasir dan conblock dan grassblock.

Sebenarnya banyak cara untuk mencegah banjir, asal kita dan semua pihak mau peduli, mau belajar, mau berproses dan itropeksi, kompak, serta tidak ‘gengsian’.




Agama tanpa ilmu adalah buta. Ilmu tanpa agama adalah lumpuh -Albert Einstein


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar