Kami Melayani Anda dalam Desain / We Serve You in Building Design

Kami Melayani Anda dalam Desain / We Serve You in Building Design

Formulir Pemesanan Desain (Silakan Diisi) / Order Form (Please Fill It)

Contact Form

Name*
Email*
Subject*
Message*
Image Verification
captcha
Please enter the text from the image:
[Refresh Image][What's This?]

Kamis, 31 Juli 2008

Kemerdekaan Insani Pemuda

Halo Saudara! Selamat datang di blog Mannusantara!


Kemerdekaan bangsa kita belum mencapai kemerdekaan individu. Kemiskinan dan kebodohan adalah ciri ketidakmerdekaan yang kasat mata. Sedangkan yang tidak kasat mata adalah kecerobohan yang mengakibatkan kekacauan dalam pengelolaan hal yang menyangkut kepentingan umum. Termasuk rasa minder jika berhadapan dengan bangsa lain.

Pandangan negatif bangsa secara kolektif sampai pula ke individu pemuda. Dampaknya menjadi berlipat-lipat negatifnya, berupa kelumpuhan vitalitas yang melesukan produktivitas. Ketidakpercayaan diri menggunakan teknik penyelesaian masalah dan pemikiran ala kita yang sesuai dan kontekstual dengan lokalitas kita. Merosotnya kesetiaan pada produk kita sendiri, sehingga mematikan usaha-usaha berbasis, berbahan, bercita rasa dan bermanajemen ala kita sendiri.

Kekayaan alam negeri tidak dinikmati secara merata, akibat kurangnya solidaritas terhadap saudara sebangsanya yang sengsara. Sengsara sebagai keterpaksaan yang terekayasa secara terstruktur. Sedangkan kalangan yang tidak berempati, serta merta menjadi orang asing di negerinya sendiri. Mulai fasilitas yang dipakainya, pola pikir, sampai gaya manajemennya. Semua yang serba asing itu dikonotasikan dengan modern, stylish-seksi, mentereng, high-tech, dan ekslusif.

Untuk menciptakan dan menyebarkan sistem yang mereka bikin, tentu diperlukan lokalisasi tempat yang terkondisikan. Supaya gaya hidup itu dapat terekspresikan dengan baik dan tanpa hambatan. Seketika itu juga muncul enclave baru, berupa mall, perumahan mewah, lapangan golf, sampai ke tempat mandi sauna. Lengkap dengan pagar tertutup untuk menegaskan keunggulan semunya. Berada di tengah kemiskinan serta keterbatasan akses masyarakat pada ruang pendidikan, sosial, budaya, dan ekonomi.

Maka kemerdekaan kita telah terbukti sukses menghasilkan diskriminasi model baru. Mengesahkan pembedaan tajam antara aku-kamu, kami-mereka, kaya-miskin, berpendidikan-bodoh, perumahan mewah-kampung, mall-pasar tradisional, mobil mewah-angkutan umum, dan lain-lain. Suatu bentuk pembedaan yang tak lain membuktikan kegagalan negara.

Kegagalan untuk memakmurkan rakyat secara adil dan merata, memerdekakan rakyat menjadi merdeka sampai ke tingkat kemanusiaannya. Kegagalan mengentaskan manusia menjadi bermartabat, yaitu dengan menyelenggarakan pendidikan bagi semua. Ini berdampak langsung pada kemampuan berkarya. Dalam arti rakyat siap berkarya melalui lapangan kerja yang cukup disediakan oleh negara dan swasta, yang proporsional dengan kemampuannya menciptakan pekerjaan sendiri.

Kita mengekangkan diri pada dasar dan pola pikir lama. Cara pandang dan penanganan lama. Serta semua perilaku usang yang sudah tidak sesuai lagi di jaman ini. Namun anehnya kita masih mengusungnya sebagai pusaka yang bisa menyelesaikan segala masalah. Sehingga terus terjebak dan berputar-putar dalam stigma “negara berkembang”.

Rakyat, khususnya pemuda, sebenarnya sangat siap dan terbuka dengan perubahan menuju kebaikan. Namun selalu diabaikan. Sangat merindukan sinergi yang membebaskan, memerdekakan dan menyejahterakan. Namun rakyat selalu dikondisikan sebagai obyek bodoh dan dikasihani, sehingga dikondisikan untuk selalu disuapi terus tanpa bisa mandiri. Sedangkan kepemimpinan nasional telah dipatok dalam sebuah sistem tertutup, hanya merekrut dari segelintir organisasi tertentu saja. Dengan demikian sistem yang membelenggu, telah terterapkan selama ini. Maka sebagian rakyat bersinergi dengan kekuatan lain, yang membawa dampak yang tak dapat dipertanggungjawabkan terhadap cita-cita kolektif dan keutuhan bangsa.

Sebuah bentuk kemerdekaan yang lebih hakiki harus diwujudkan segera. Yaitu kemerdekaan insani. Pemuda sangat berpotensi dalam mewujudkannya, karena relatif bersih dari kepentingan pribadi sesaat yang semu. Kemerdekaan insani tidak tergantung pada suatu bentuk yang paternalistik atau menjadi bagian darinya. Kemerdekaan insani sekaligus juga tidak berdiri sendiri. Kemerdekaan insani adalah sebuah kemerdekaan mutlak yang mencakup semua bagian secara keseluruhan. Tidak membutuhkan birokrasi yang formalistik kaku, berbelit dan lambat. Kemerdekaan insani hanya membutuhkan sumber daya yang sederhana dan sangat dekat dengan manusia, yaitu nurani dan kesadaran jiwanya. Nurani dan kesadaran jiwa yang utuh, sehat dan merdeka. Pada akhirnya akan merembet pada cara berpikir, berperilaku dan bertindak yang memerdekakan, menyejahterakan dan berkeadilan.







Beri aku sepuluh pemuda untuk memindahkan Gunung Semeru sekalipun ! (Soekarno)

Terima kasih sudah mengunjungi halaman ini. Silakan membuka posting artikel lain di blog ini (silakan klik posting lama, halaman muka atau posting baru di bawah tulisan ini) untuk menjelajahi wilayah lain Nusantara, menyelami pemikiran dan mengenali permasalahan, supaya kita menjadi bagian dari solusi bagi bangsa ini.

Kontes Blogging HUT RI ke 63 by Rystiono.

Jumat, 25 Juli 2008

Jelang Dirgahayu Kemerdekaan : Mengenang Presiden Soekarno

Halo Saudara! Selamat datang di blog Mannusantara!



1. Soekarno sesaat sesudah memberikan pidato pembelaan diri (pledoi) berjudul "Indonesia Menggugat", Bandung, 1930;
2. Diapit Bung Hatta dan Sutan Sjahrir, bersama pejuang lain berjuang dalam masa Perang Kemerdekaan antara 1945 -1949 melawan Belanda yang ingin menjajah kembali Indonesia;
3 Pengibaran Sang Saka Merah Putih setelah membacakan teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia;
4. Bersama para pemimpin negara Asia dan Afrika dalam Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung;
5. Menyampaikan pidato berjudul "To Build The World Anew" di depan Majelis Umum PBB New York, tahun 1960.
(sumber yahooimage)

Majukan Bangsamu, dengan mengenal para pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan bangsamu. Mempelajari alur pemikiran mereka. Meneladani sikap, tingkah laku, keputusan dan tindakan mereka yang membawa dampak baik bagi bangsa. Serta menyediakan ruang di hati, pikiran dan jiwamu untuk membawa dan mengobarkan api semangat juang mereka untuk menerangi jalan kita untuk memerdekakan saudara setanah air sampai ke tingkat individu tanpa kecuali. (wongndesonensis)

Kemerdekaan memang tidak membawa kita bebas dari persoalan. Namun dengan kemerdekaan, kita mempunyai kesempatan untuk menyelesaikan segala persoalan dengan kemampuan kita. (Soekarno)

Dirgahayu Bangsaku !


Mengunjungi Makam Bung Karno, Juli 2008


Kompleks makam Presiden Soekarno, Blitar, Jawa Timur

1. Relief perjalanan perjuangan Presiden Soekarno;

2. Patung Bung Karno di dalam bangunan Perpustakaan Proklamator Bung Karno;

3. Bangunan makam;

4. Gapura makam;

5. Pusara makam Bung Karno diapit pusara kedua orang tuanya.


foto udara makam Bung Karno, Blitar

(klik gambar untuk memperbesar / click picture to enlarge)

1. Perpustakaan Proklamator Bung Karno (Soekarno Presidential Library);

2. Makam Bung Karno;

3. Pemakaman umum;

4. Kios pedagang kompleks makam Bung Karno;

5. Jalan Bung Karno;

6. Jalan Kalasan.


Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat. Dan diatas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa. (Soekarno)



Terima kasih sudah mengunjungi halaman ini. Silakan membuka posting artikel lain di blog ini (silakan klik posting lama, halaman muka atau posting baru di bawah tulisan ini) untuk menjelajahi wilayah lain Nusantara, menyelami pemikiran dan mengenali permasalahan, supaya kita menjadi bagian dari solusi bagi bangsa ini.

Kontes Blogging HUT RI ke 63 by Rystiono.

JELAJAH KOTA BANDUNG : Menyusuri Jalan Merdeka dan Jalan Juanda (Dago)

Mencari penginapan di Bandung? WISMA TAWA siap melayani Anda.
Wisma Tawa adalah Guest house untuk umum yang siap memberi pelayanan prima bagi anda sekeluarga. Hubungi 022 737378.
Wisma Tawa, jalan Taman Siswa no. 63, Palasari, Kota Bandung, Jawa Barat.

Halo Saudara! Selamat datang di blog Mannusantara!

foto satelit Kota Bandung dan sekitarnya
klik gambar untuk memperbesar


foto satelit kawasan Jalan Merdeka - Juanda (Dago) dan sekitarnya
klik gambar untuk memperbesar



peta kawasan Jalan Merdeka - Juanda (Dago) dan sekitarnya
klik gambar untuk memperbesar

1. Jalan Layang Surapati;
2. Lapangan Gasibu;
3. Gedung Sate (kantor Gubernur Jawa Barat);
4. Jalan Juanda (Dago);
5. Jalan Wastukencana;
6. Sungai Cikapundung;
7. Jalan Merdeka, Bandung Indah Plaza;
8. Balai Kota Bandung;
9. Taman Merdeka.



foto-foto kondisi kawasan Jalan Merdeka
klik gambar untuk memperbesar
1. Jalan Merdeka di sebelah timur Balaikota Bandung; 2. Balaikota Bandung; 3. Persimpangan Jalan Merdeka di sisi timur Taman Merdeka; 4. Pintu gerbang Taman Merdeka; 5. Kondisi Taman Merdeka.


Foto kondisi jalur pedestrian (pejalan kaki) di depan Bandung Indah Plaza (BIP), Jalan Merdeka. klik gambar untuk memperbesar


Kawasan Jalan Merdeka dan Juanda (Dago)

Jalan Merdeka dan Juanda, atau akrab disebut Jalan Dago adalah salah satu pusat keramaian di Bandung. Kedua ruas jalan ini saling bersambung membujur dari selatan ke utara, si mana Jalan Merdeka terletak di sebelah selatan Jalan Juanda. Kedua jalan ini menghubungkan wilayah antara lain Kosambi, dan Jalan Asia Afrika di selatan dengan kawasan pendidikan ITB, Unpad, Kantor Gubernur Jawa Barat (Gedung Sate), dan pemukiman berhawa sejuk Dago Pakar di utara. Dengan posisi strategis ini, maka jalan ini menjadi simpul keramaian. Hal ini tampak dengan banyaknya fasilitas usaha, komersial, perdagangan, akomodasi, hiburan dan perkantoran.
Jalan Juanda dirancang dan dibangun semasa penjajahan Belanda. Seperti halnya kawasan peninggalan kolonial lainnya, maka jalan ini bercirikan terdapat pohon besar peneduh di kesua sisinya, bangunan-bangunan bergaya tropis hindia timur yang anggun namun kokoh lengkap dengan tamannya.
Namun seiring laju pertambahan penduduk dan semakin cepatnya laju pembangunan berjudul pertumbuhan ekonomi, maka banyak bangunan peninggalan penjajah itu yang berubah fungsi, berubah wujud, bahkan dibongkar untuk dibangun gedung bertingkat. Taman-tamannya yang indah berubah menjadi tempat parkir. Sedangkan jalur pedestrian (jalur pejalan kaki alias trotoar) diserobot pula untuk pelebaran jalan, halte bus, tempat parkir dan pedagang kaki lima (PKL).
Ironisnya, ada hotel yang ternama di dunia juga melakukan penyerobotan jalur pedestrian untuk tempat parkir mereka (lihat foto). Wah kalau begini tak mungkin pihak terkait tak tahu, karena pelanggaran ini sangat mencolok mata. Namun seperti biasaaa, hanya didiamkan. Walhasil para pejalan kaki terpaksa turun ke jalur kendaraan bermotor untuk berjalan kaki, sehingga rawan menjadi korban kecelakaan. Kalau pejalan kaki mendapat kecelakaan, siapa yang akan bertanggung jawab? Ah, tapi percuma saja menggantungkan pada aparat pemerintah, karena hanya karena masalah sampah saja, pejabat Kota Bandung sampai mendapat terguran dari Presiden langsung. Waduuuh, ngerakeeuun Urang Sunda sareng lembur kuring waelah...
Maka harusnya visi misi pembangunan Kota Bandung dan Jawa Barat umumnya, sebagai kota jasa, propinsi termaju, dlsb, haruslah punya tata krama sosial yang memanusiakan manusia. Jangan sampai manusia sebagai pelaku dan penggerak pembangunan dikorbankan oleh hasil rekayasa dan kemajuan pembangunannya sendiri, serta oleh nafsu tamak segelintir orang. Bagaimana ini Kang Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf selaku Pemimpin Jawa Barat yang baru?


Foto kondisi jalur pedestrian (pejalan kaki) di sepanjang Jalan Juanda (Dago).
klik gambar untuk memperbesar



Foto kondisi jalan di kawasan Jalan Juanda (Dago).
klik gambar untuk memperbesar


Foto kondisi bangunan di sepanjang Jalan Juanda (Dago).
klik gambar untuk memperbesar


foto-foto diambil oleh penulis



J
ika satu bangsa telah mula berfikir, tidak ada satu kekuatan pun yang boleh menghentikannya -Voltaire



Terima kasih sudah mengunjungi halaman ini. Silakan membuka posting artikel lain di blog ini (silakan klik posting lama, halaman muka atau posting baru di bawah tulisan ini) untuk menjelajahi wilayah lain Nusantara, menyelami pemikiran dan mengenali permasalahan, supaya kita menjadi bagian dari solusi bagi bangsa ini.

Mencari penginapan di Bandung?
WISMA TAWA siap melayani Anda.
Wisma Tawa adalah Guest house untuk umum yang siap memberi pelayanan prima bagi anda sekeluarga.

Untuk konfirmasi dan pemesanan hubungi 022 737378.
Wisma Tawa, jalan Taman Siswa no. 63, Palasari, Kota Bandung, Jawa Barat.


JELAJAH KOTA BANDUNG : Kawasan Gedung Sate

Lagi jalan-jalan di Bandung tapi bingung cari penginapan?
WISMA TAWA siap melayani Anda. Wisma Tawa adalah Guest house untuk umum yang siap memberi pelayanan prima bagi anda sekeluarga.Untuk konfirmasi dan pemesanan hubungi 022 737378.Wisma Tawa, jalan Taman Siswa no. 63, Palasari, Kota Bandung, Jawa Barat.

Halo Saudara! Selamat datang di blog Mannusantara!


foto Gedung Sate, Bandung


foto satelit kawasan Gedung Sate dan sekitarnya
klik gambar untuk memperbesar



peta kawasan Gedung Sate dan sekitarnya
klik gambar untuk memperbesar

1. Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat;
2. RS Boromeus, jalan Juanda (Dago);
3. Jalan Surapati;
4. Lapangan Gasibu;
5. Gedung Sate.




foto-foto kawasan Gedung Sate dan sekitarnya
1. Lapangan Gasibu, pandangan ke arah Gedung Sate di selatan;
2. Lapangan Gasibu, pandangan ke arah Jalan Surapati dan Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat di utara;
3. Jalan Surapati, pandangan ke arah utara;
4. Jalan Surapati, pandnagan ke arah barat menuju jalan layang Pasupati.
klik gambar untuk memperbesar


Gedung Sate adalah nama bagi gedung yang sekarang dipergunakan sebagai kantor Gubernur Jawa Barat, yang beralamat di Jalan Diponegoro yang terletak di sebelah utara gedung. Gedung ini diapit oleh Gedung DPRD di sisi barat dan Pos Indonesia di sisi timur.
Dengan halaman yang luas, dan jarak dari jalan Diponegoro sejauh sekitar 50 meter, membuat Gedung ini membuat kejutan di tengah padatnya kawasan di sekitarnya.
Di seberang Gedung ini, tepatnya di sebelah Jalan Diponegoro terdapat Lapangan Gasibu, yang menjadi salah satu ruang terbuka publik di Bandung. Pada hari biasa, di pagi hari dan sore hari digunakan warga untuk berolah raga, bersosialisasi, maupun sekedar berjalan-jalan. Pada waktu-waktu tertentu menjadi tempat upacara resmi maupun hiburan.
Di sebelah utara Lapangan Gasibu terdapat Jalan Surapati, di sebelah utaranya lagi terdapat taman terbuka yang membujur ke utara yang berakhir di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat (MPRJB). Dengan adanya ruang-ruang terbuka yang saling berkesinambungan dari halaman depan Gedung Sate di sebelah selatan, hingga MPRJB di seblah utara, membentuk sebuah rangkaian ruang terbuka dengan skala yang monumental. Jika kita berada di Gedung Sate lalu memandang ke utara akan terlihat MPRJB, dengan latar belakanbg Gunung Tangkuban Parahu (2076 m dpl), demikian pula sebaliknya. Sungguh komposisi ruang yang indah.
Namun keindahan itu tak dapat dinikmati dengan nyaman sepenuhnya, terutama oleh pejalan kaki. Karena ramainya lalu lintas di jalan-jalan yang memisahkan ruang-ruang terbuka publik itu, sehingga menyulitkan untuk mencapainya, terutama untuk wanita, ibu hamil, anak-anak, penyandang cacat dan para lanjut usia. Maka ruang publik itu masih belum memenuhi harapan untuk dapat digunakan dan diakses oleh semua warga kota tanpa kecuali.
foto-foto diambil dan menjadi koleksi pribadi penulis


Seorang pemimpin adalah orang yang melihat lebih banyak daripada yang dilihat orang lain, melihat lebih jauh daripada yang dilihat orang lain, dan melihat sebelum orang lain melihat. (Leroy Eims)
Terima kasih sudah mengunjungi halaman ini. Silakan membuka posting artikel lain di blog ini (silakan klik posting lama, halaman muka atau posting baru di bawah tulisan ini) untuk menjelajahi wilayah lain Nusantara, menyelami pemikiran dan mengenali permasalahan, supaya kita menjadi bagian dari solusi bagi bangsa ini.
Mencari penginapan di Bandung?
WISMA TAWA siap melayani Anda.
Wisma Tawa adalah Guest house untuk umum yang siap memberi pelayanan prima bagi anda sekeluarga.

Untuk konfirmasi dan pemesanan hubungi 022 737378.
Wisma Tawa, jalan Taman Siswa no. 63, Palasari, Kota Bandung, Jawa Barat.

Permasalahan Kota yang tak Kunjung Tuntas : Pemukiman Kumuh dan Pencemaran Lingkungan

Halo Saudara! Selamat datang di blog Mannusantara!



Foto yang menunjukkan kondisi pemukiman kumuh di sepanjang sisi sungai yang tercemar (lokasi foto diambil penulis di Surabaya)

Perkampungan padat penduduk dan pencemaran lingkungan sepertinya sudah menjadi sahabat dekat yang tak terpisahkan bagi kota-kota besar di Indonesia. Dengan laju pertambahan penduduk yang pesat akibat industrialisasi yang terpusat di perkotaan yang menjanjikan fatamorgana kehidupan yang lebih baik, membuat kota-kota besar di Indonesia semakin tak layak untuk ditinggali.

Dengan harapan menjalani kehidupan yang lebih baik, tinggal di kota besar malah membawa ketidaknyamanan dan ketidakamanan hidup dari waktu ke waktu. Laju pembangunan yang menjanjikan kesejahteraan harus dibayar mahal dengan penurunan kualitas hidup manusia dan penurunan kualitas daya dukung lingkungan hidup. Maka menjadi sebuah kemubaziran, karena pengeluaran ekonomi untuk memenuhi standar kehidupan yang sehat hampir menyamai penghasilan dari jerih payah meningkatkan laju pembangunan, malah bisa melebihinya.

Perkampungan kumuh dan pencemaran lingkungan adalah salah satu bukti wujud ketidakberesan pengelolaan negara dan buruknya tata krama sosial secara massal.


Manusia tidak merancang untuk gagal, mereka gagal untuk merancang. ~ William J. Siegel



Terima kasih sudah mengunjungi halaman ini. Silakan membuka posting artikel lain di blog ini (silakan klik posting lama, halaman muka atau posting baru di bawah tulisan ini) untuk menjelajahi wilayah lain Nusantara, menyelami pemikiran dan mengenali permasalahan, supaya kita menjadi bagian dari solusi bagi bangsa ini.
Kontes Blogging HUT RI ke 63 by Rystiono.

Refleksi 63 tahun Kemerdekaan : Kondisi Lumpur Lapindo Terkini

Halo Saudara! Selamat datang di blog Mannusantara!

Foto Lumpur Lapindo Porong Sidoarjo, 12 Juli 2008


Foto Tanggul Lumpur Lapindo di sepanjang Jalan Raya Porong, Sidoarjo, 12 Juli 2008


Seiring hingar bingar persiapan kemeriahan menyambut peringatan kemerdekaan negara kita yang ke-63, ada baiknya kita sedikit menundukkan jiwa dan kepala kita, merasakan penderitaaan para korban lumpur Lapindo yang tak kunjung terentaskan dan tertuntaskan. Inilah pelajaran berharga bagi bangsa kita, supaya kita tak lagi mengulangi kesalahan orang kuat dan berkuasa saat ini yang bisa mempermainkan dan mengendalikan hukum dan keadilan menurut selera mereka. Segala permainan dan dagelan yang tak lucu yang menyelamatkan muka si pembuat onar yang kuat dan berkuasa tak akan menyurutkan semburan lumpur dan penderitaan korban baik fisik maupun moral.

Ternyata penyakit kanker moral bangsa kita masih parah (atau tambah parah?) dengan mengatasnamakan/menyalahgunakan reformasi. Dengan demikian, kendalikan pikiran dan nurani kita untuk menentukan masih adakah yang layak memimpin bangsa kita ke depan?

Dan, apakah 63 tahun kemerdekaan negara kita, sudah mencerminkan kemerdekaan rakyat yang paling melarat, tertindas dan tak berdaya? Dan menjadi refleksi diri kita, apakah pikiran, keputusan dan tindakan kita malah setali tiga uang dengan penjajah atau pemimpin masa lalu yang dulu kita benci, kita tentang dan kita lawan? Apakah kita hanya menjadi pelaku utama yang memberi andil berputarnya lingkaran setan kesengsaraan bangsa?

foto-foto diambil dan menjadi koleksi pribadi oleh penulis




Kepala yang tidak mempunyai fikiran sama halnya dengan sesebuah benteng yang tidak dibela -Napoleon Bonaparte

Terima kasih sudah mengunjungi halaman ini. Silakan membuka posting artikel lain di blog ini (silakan klik posting lama, halaman muka atau posting baru di bawah tulisan ini) untuk menjelajahi wilayah lain Nusantara, menyelami pemikiran dan mengenali permasalahan, supaya kita menjadi bagian dari solusi bagi bangsa ini.

Kontes Blogging HUT RI ke 63 by Rystiono.

SAVE OUR CULTURAL HERITAGE ! Jelajah Candi

Halo Saudara! Selamat datang di blog Mannusantara!



Foto dan foto satelit Candi Wringin Lawang, Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur
(klik gambar untuk memperbesar / click picture to enlarge)



Foto dan foto satelit Candi Prambanan dan Ratu Boko, Sleman, Yogyakarta
(klik gambar untuk memperbesar / click picture to enlarge)



Foto Candi Jago, Tumpang, Malang, Jawa Timur


Foto Candi Kidal, Tumpang, Malang, Jawa Timur



Foto dan foto satelit Candi Penataran, Blitar, Jawa Timur
(klik gambar untuk memperbesar / click picture to enlarge)


Foto Candi Sambisari, Kalasan Sleman, Yogyakarta



Foto Candi Sari, Kalasan Sleman, Yogyakarta

foto-foto diambil dan menjadi koleksi pribadi penulis



Ciri orang yang beradab ialah dia sangat rajin dan suka belajar, dia tidak malu belajar daripada orang yang berkedudukan lebih rendah darinya ~ Confucius

Terima kasih sudah mengunjungi halaman ini. Silakan membuka posting artikel lain di blog ini (silakan klik posting lama, halaman muka atau posting baru di bawah tulisan ini) untuk menjelajahi wilayah lain Nusantara, menyelami pemikiran dan mengenali permasalahan, supaya kita menjadi bagian dari solusi bagi bangsa ini.

Kontes Blogging HUT RI ke 63 by Rystiono.

Rabu, 23 Juli 2008

Jelajah Kota Bandung : Menyusuri Kawasan Jalan Braga



foto udara kawasan pusat kota Bandung.

1. Stasiun KA Bandung (station hall)
2. Pasar Baru
3. Masjid Agung Jawa Barat
4. Pendopo Kabupaten Bandung
5. Balai Kota Bandung
6. Jalan Asia Afrika

klik gambar untuk memperbesar


foto udara kawasan Jalan Braga, Bandung
klik gambar untuk memperbesar




foto-foto sudut ruas jalan Braga, Bandung
klik gambar untuk memperbesar



Jalan Braga di kota Bandung adalah jalan yang terkenal dengan bangunan-bangunan yang kaya dengan seni arsitektur peninggalan kolonial Belanda. Jalan ini pada masa penjajahan adalah jalan yang diperuntukkan sebagai pusat perbelanjaan, restoran dan hiburan. Pada masanya, banyak toko-toko yang menjual busana terbaik, makanan terlezat, dan benda karya seni terindah, karena memang diperuntukkan bagi para sinyo, noni dan juragan Belanda. Jadilah jalan Braga menjadi tempat paling bergengsi pada masanya. Apalagi letaknya sangat strategis, yang pada masanya menjadi jalur utama yang menghubungkan Alun-alun, Pendopo Kabupaten, dan jalan Asia Afrika di selatan, dengan Dago, ITB dan Gedung Sate di utara kota.

Di sepanjang jalan itu terdapat bangunan yang berderet-deret saling menempel satu dengan yang lain. Umumnya berlantai dua, bagian bawah untuk fasilitas usaha, sedangkan atasnya utuk tempat tinggal. Bagian muka dan pintu masuknya tanpa halaman dan langsung terhubung dengan jalur pedestrian (trotoar) di sepanjang jalan ini. Detail-detail arsitektur pada bangunan ini terlihat indah, kaya dengan seni art deco, dan menggabungkan unsur ornamen dan model bangunan tradisional Nusantara. Dengan kekayaan ornamen artdeco pada bangunan di sepanjang jalan ini turut menyumbang kemasyhuran Bandung sebagai top ten kota dengan bangunan ber-art deco terbanyak di dunia yang masih ada.

Namun kondisi sekarang hampir terbalik 180 derajat dengan kondisi masa lalu. Ketika saat ini banyak pusat perbelanjaan dan hiburan dibangun di tempat lain seperti di kawasan Dalem Kaum dekat alun-alun, Dago, Cihampelas dan Pasteur, maka kawasan Jalan Braga ini semakin sepi, seolah ditinggalkan dan dilupakan. Banyak tempat usaha yang tutup. Kalaupun ada hanya satu dua, karena sudah terkenal, mampu mempertahankan kualitas produk usaha dan pelayanannya sejak dulu, serta punya pelanggan setia. Sedangkan yang lain kembang kempis bahkan tutup. Banyak bangunan yang berubah fungsi menjadi tempat tinggal, kantor, bahkan gudang, sehingga perannya sangat pasif bagi aktivitas perekonomian kawasan sekitar. Maka tak heran kalau banyak bangunan tak terawat, kusam, bahkan ada yang dijual (liha gambar foto).

Sebenarnya banyak cara yang dilakukan untuk membangunkan kembali (merevitalisasi) kawasan Jalan Braga ini. Seperti memperbaiki trotoar jalur pedestrian (pejalan kaki) dengan melebarkan dan memasang tegel berkualitas baik, sampai memnanam tanaman peneduh sehingga nyaman dilalui pejalan kaki. Memang di Braga lebih enak berjalan kaki daripada melintas saja tanpa kesan dengan kendaraan bermotor. Apalagi udara Bandung juga tak terlalu galak pada siang hari. Namun tampaknya belum cukup untuk membangkitkan pamor Braga, padahal persyaratan sebagai ruang terbuka publik sudah terpenuhi.

Sayangnya usaha “seolah” membangkitkan pamor Braga dilakukan dengan mengorbankan aset bersejarah bangunan di situ. Ya, bangunan di sisi jalan Braga diruntuhkan untuk digunakan sebagai akses keluar masuk menuju pusat perbelanjaan dan apartemen yang dibangun pemodal swasta yang dibangun sekitar tiga tahun lalu yang memakai unsur nama “Braga” sebagai brandnya. Letak pusat perbelanjaan dan apartemen itu memang agak masuk di belakang Jalan Braga tepatnya di sebelah barat, berada di tengah perkampungan di sebalah timur Sungai Cikapundung. Sungguh ironis. Terlihat jelas, setelah dibangunnya fasilitas perbelanjaan dan apartemen belum menimbulkan dampak positif yang signifikan bagi bangkitnya Braga sebagai ruang publik yang bersejarah. Tetap saja, Braga hanya sekedar jalan penghubung untuk sekedar lewat melintas, bukan sebagai tujuan utama. Karena tujuan utama dan land mark kawasan Braga berpindah ke pusat perbelanjaan dan apartemen baru itu. Sayang sekali pemerintah yang mengijinkan pembangunan gedung baru itu yang sepertinya tanpa analisis mendalam yang mempertimbangkan dampaknya bagi bangkitnya ekonomi kawasan sekitar dan dampak positif bagi masyarakat sekitarnya.

Braga, braga..., kalau begini, berapa tahun lagi aku masih bisa merasakan spirit of placemu yang akrab dan romantis...


foto-foto diambil dan menjadi koleksi pribadi oleh penulis

Orang-orang hebat di bidang apapun bukan baru bekerja karena mereka terinspirasi, namun mereka menjadi terinspirasi karena mereka lebih suka bekerja. Mereka tidak menyia-nyiakan waktu untuk menunggu inspirasi. (Ernest Newman)

Terima kasih sudah mengunjungi halaman ini. Silakan membuka posting artikel lain di blog ini (silakan klik posting lama, halaman muka atau posting baru di bawah tulisan ini) untuk menjelajahi wilayah lain Nusantara, menyelami pemikiran dan mengenali permasalahan, supaya kita menjadi bagian dari solusi bagi bangsa ini.
Kontes Blogging HUT RI ke 63 by Rystiono.

Jelajah Kota Bandung : Menyusuri Kawasan Alun-alun sampai Jalan Asia Afrika

klik gambar untuk memperbesar


foto udara kawasan Alun-alun Masjid Agung Bandung - Jalan Asia Afrika
klik gambar untuk memperbesar


foto menara Masjid Agung Bandung dari selatan (jalan Jamika)
klik gambar untuk memperbesar


foto salah satu sudut alun-alun Bandung
klik gambar untuk memperbesar



Alun-alun Bandung

Kawasan Alun-alun Bandung adalah cikal bakal awal perkembangan kota Bandung. Di alun-alun ini terdapat Masjid Agung Jawa Barat di sebelah barat alun-alun. Kemudian di sebelah selatan alun-alun terdapat Pendopo Kabupaten Bandung yang masih dipergunakan oleh Pemerintah Kabupaten Bandung, walaupun ibu kota kabupaten telah pindah ke Soreang. Di sebelah utara terdapat gedung-gedung perkantoran, sedangkan di sebelah barat terdapat gedung pusat perbelanjaan dan hiburan.
Di sebelah timur alun-alun, dulu terdapat jalan yang memisahkan dengan kompleks Masjid Agung. Namun karena kebutuhan ruang yang semakin tidak memadai untuk menampung umat yang semakin bertambah, jalan di depan Masjid itu digunakan sebagai lahan perluasan bangunan Masjid. Jadilah antara Masjid dan alun-alun tidak terpisah lagi, bahkan bisa dikatakan alun-alun menjadi halaman depan Masjid.
Alun-alun sebagai salah satu ruang terbuka publik Kota Bandung ini, sangat berarti bagi masyarakat Bandung yang semakin sulit menemui ruang terbuka di lingkungan tempat tinggal mereka, akibat semakin padatnya penduduk, aktivitas masyarakat, dan pembangunan fisik yang gencar.



foto salah satu ruas Jalan Asia Afrika
klik gambar untuk memperbesar


foto Gedung Merdeka, Jalan Asia Afrika Bandung. Gedung ini pernah digunakan untuk Konferensi Asia-Afrika 1955, sekarang menjadi Museum Konferensi Asia Afrika.
klik gambar untuk memperbesar


foto Hotel Savoy Homann, Jalan Asia Afrika, Bandung
klik gambar untuk memperbesar

foto Hotel Preanger, Jalan Asia Afrika Bandung
klik gambar untuk memperbesar



Jalan Asia Afrika Bandung

Seperti telah disebutkan di atas, bahwa Alun-alun Bandung adalah cikal bakal awal perkembangan Kota Bandung. Alun-alun ini dibangun dan diletakkan di sisi selatan jalan utama yang menghubungkan dengan kota lainnya di sebelah barat maupun timur Bandung. Jalan ini adalah jalan penghubung antarkota tertua di Jawa yang menghubungkan Anyer di Serang Banten, sampai Panarukan di Situbondo, Jawa Timur sepanjang lebih dari 1000 km. Jalan ini dibangun semasa kolonial Belanda di bawah pimpinan Gubernur Jenderal Deandels, maka jalan ini disebut juga Jalan Deandels.Jalan utama itu sekarang bernama Jalan Asia Afrika yang melintang dari barat ke timur di pusat kota Bandung.

Di sepanjang Jalan Asia Afrika yang berada di sebelah timur alun-alun ini, pada awal abad ke-20 dibangun banyak perkantoran, gedung pertemuan dan hotel. Sepertinya sudah menjadi kebijakan pemerintahan kolonial dulu, kawasan sebelah barat alun-alun menjadi kawasan perniagaan, sedangkan kawasan timur menjadi kawasan perkantoran, perhotelan dan hiburan yang bergengsi di masa penjajahan, terutama tentu bagi kaum penjajah. Karena lengkapnya fasilitas di jalan ini, serta arsitekturnya yang mengawinkan antara arsitektur eropa dengan nusantara seperti di wilayah lain di Kota Bandung, maka kota ini mendapat julukan Parijs van Java. Namun kebijakan itu masih relevan dengan kondisi sekarang, terbukti masih dimanfaatkannya fasilitas-fasilitas di sepanjang Jalan Asia Afrika sesuai peruntukan awal.

Banyak fasilitas yang menyejarah di sepanjang jalan ini. Sebut saja Gedung Merdeka yang menjadi tempat Konferensi Asia Afrika tahun 1955 yang menjadi awal inspirasi semangat para pemimpin negeri terjajah di kawasan Asia dan Afrika yang kemudian membawa kemerdekaan sampai tahun 1950-an. Konferensi Asia Afrika ini menjadi cikal bakal lahirnya Gerakan Non-Blok. Para pemimpin negara peserta pun menginap di beberapa hotel di Jalan Asia Afrika ini, seperti Hotel Savoy Homann dan Preanger yang masih ada sampai sekarang. Tahukah Anda, bahwa Presiden Soekarno, selepas kuliah di Sekolah Teknik (cikal bakal ITB), turut serta terlibat membantu dosennya untuk membangun Hotel Savoy-Homann. Mengapa waktu itu dipilih kota Bandung sebagai tempat Konferensi Asia Afrika? Karena Jakarta pada masa itu belum punya fasilitas gedung pertemuan dan akomodasi sebesar dan selengkap yang ada di Bandung.

Menjadi tanggung jawab kita sekarang untuk melestarikan keberadaan alun-alun Bandung beserta Jalan Asia Afrika beserta bangunan yang ada di sekitar situ, sebagai aset bangsa yang bersejarah. Sekarang kita dapat memanfaatkannya untuk meningkatkan kualitas pendidikan, kebudayaan dan pariwisata.

foto-foto adalah koleksi pribadi penulis



Tiga sifat manusia yang merusak adalah, kikir yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti, serta sifat mengagumi diri sendiri yang berlebihan. (Nabi Muhammad SAW)
Terima kasih sudah mengunjungi halaman ini. Silakan membuka posting artikel lain di blog ini (silakan klik posting lama, halaman muka atau posting baru di bawah tulisan ini) untuk menjelajahi wilayah lain Nusantara, menyelami pemikiran dan mengenali permasalahan, supaya kita menjadi bagian dari solusi bagi bangsa ini.