Kami Melayani Anda dalam Desain / We Serve You in Building Design

Kami Melayani Anda dalam Desain / We Serve You in Building Design

Formulir Pemesanan Desain (Silakan Diisi) / Order Form (Please Fill It)

Contact Form

Name*
Email*
Subject*
Message*
Image Verification
captcha
Please enter the text from the image:
[Refresh Image][What's This?]

Selasa, 19 Februari 2008

SOS ! BANJIR PATI



Gambar foto satelit kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Juwana, Pati, Jawa Tengah.

(klik gambar untuk memperbesar / click picture to enlarge)


Gundulnya Hutan Sebabkan Banjir di Kabupaten Pati

Hujan lebat yang sering terjadi pada minggu lalu di kawasan Kabupaten Pati, menyebabkan banjir yang berkepanjangan. Banjir terjadi karena meluapnya aliran Kali Juwono beserta nak-anak sungainya yang tidak mampu lagi menampung besarnya limpahan air hujan yang lebat dalam beberap hari terakhir.

Banjir berakibat pada terputusnya jalur lalu lintas utama Pantura Jawa ruas Kudus – Pati – Rembang. Bahkan sekarang jalur itu ditutup dan dialihkan melalui Solo menuju Surabaya, demikian pula sebaliknya. Penutupan jalur ini dilakukan sampai cuaca kembali normal dan jalur sudah tidak tergenang banjir lagi. Kompas (17/2) memberitakan akibat banjir, terjadi kemacetan luar biasa yang terjadi sepanjang sekitar 34 km, antara Kecamatan Jekulo, Kab. Kudus sampai Kecamatan Kaliori, Kab. Rembang. Sebagian diantaranya adalah truk-truk besar pengangkut berbagai barang, termasuk kebutuhan pokok. Dengan kemacetan ini dikhawatirkan penyediaan berbagai kebutuhan untuk berbagai kota di Jawa menjadi terhambat.

Banjir itu dapat dijelaskan dalam urutan yang logis. Dimulai dengan kritisnya lahan di wilayah tangkapan air Kali Juwono di Gunung Muria (1600 m dpl) dan di Pegunungan Kapur Utara (berketinggian bervariasi, puncak tertinggi mencapai 535 m dpl). Gunung Muria terletak di sebelah utara Kudus dan Pati, sedangkan Pegunungan Kapur Utara berada di sebelah selatan kedua kota itu. Sehingga air hujan selama beberapa hari dalam intensitas yang lebat tidak mampu diserap oleh tanah, sehingga langsung menjadi air permukaan yang memenuhi badan-badan sungai. Namun akibat terbatasnya daya tampung badan sungai, akhirnya air sungai meluap menjadi banjir berkepanjangan mengikuti frekuensi hujan yang terjadi tanpa bisa dicegah dan dijinakkan.

Banjir menjadi berkepanjangan juga diakibatkan posisi ketinggian tanah di sepanjang aliran utama Kali Juwana yang rendah dan melandai. Di badan sungai Juwana di selatan Kota Pati hanya berketinggian 5 meter di atas permukaan laut. Sedangkan di wilaah Kecamatan Juwana di dekat muara Kali Juwana hanya berketinggian dua meter dua meter di atas permukaan laut. Jarak Pati sampai Juwana adalah 15 km. Maka tak heran jika banjir terparah terkonsentrasi di sepanjang dua kota itu.

Dalam gambar foto udara (sumber : maplandia.com, 2006) terlihat jelas gundulnya hutan di Pegunungan Kapur Utara yang ditampakkan dengan warna putih kecoklatan yang sudah merata dari selatan Kudus sampai selatan Rembang. tutupan hutan yang ditampakkan dengan warna hijau tua tersisa sangat sedikit. Tampak hanya berupa bercak-bercak hijau di kawasan pegunungan itu. Di Kabupaten Pati sendiri, gundulnya hutan jati terparah terlihat di Kecamatan Tambak Romo dan Sukolilo. Sedangkan kerusakan hutan di wilayah Gunung Muria terlihat jelas di wilayah Kecamatan Gembong, Pati. Penebangan liar di wilayah itu dipicu oleh krisis ekonomi tahun 1997 menjelang jatuhnya Orde Baru. Namun karena tidak adanya tindakan hukum yang tegas bagi pelaku, maka usaha penebangan liar pohon jati berlanjut hingga kini. Sudah menjadi rahasia umum di masyarakat setempat, bahwa aparat yang berwenang juga terlibat untuk membekingi penebangan liar itu. Sebelum penebangan liar itu terjadi, kawasan itu sangat terjaga kelestariannya, dan jarang terjadi banjir. Kalau pun ada, hanya terjadi secara sporadis serta hanya melanda wilayah hilir Kali Juwana.

Dengan demikian daya dukung lingkungan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Juwana sudah sangat rapuh, akibat perilaku sebagian masyarakat yang tidak bertanggung jawab. Dampaknya yang sangat parah dapat dirasakan sekarang, dengan terhambatnya kegiatan ekonomi skala antarprovinsi akibat terputusnya jalur transportasi, serta rusaknya lahan pertanian yang produktif. Tak ketinggalan pula ancaman kekeringan begitu musim kemarau tiba nanti. Setiap perusakan lingkungan memang harus dibayar mahal dengan kerugian yang berlipat, serta proses pemiskinan masyarakat setempat yang berlanjut.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar