Kami Melayani Anda dalam Desain / We Serve You in Building Design

Kami Melayani Anda dalam Desain / We Serve You in Building Design

Formulir Pemesanan Desain (Silakan Diisi) / Order Form (Please Fill It)

Contact Form

Name*
Email*
Subject*
Message*
Image Verification
captcha
Please enter the text from the image:
[Refresh Image][What's This?]

Kamis, 27 Maret 2008

Jelajah Cimanuk

Halo Saudara! Selamat datang di blog Mannusantara!



gambar foto udara DAS CIMANUK, JAWA BARAT

KLIK GAMBAR UNTUK MEMPERBESAR / CLICK PICTURE TO ENLARGE


DAERAH RESAPAN AIR SUNGAI CIMANUK KRITIS

Cimanuk adalah nama sungai kedua terpanjang di Jawa Barat. Cimanuk mengalir sepanjang sekitar 250 km dari jantung tatar Parahyangan di Kabupaten Garut menuju ke Laut Jawa di utara, tepatnya di pantai Indramayu. Sepanjang perjalanannya menuju ke laut, Cimanuk melalui Kabupaten Sumedang dan Majalengka.

Aliran airnya dimulai dari daerah hulu yang terjauh dari muaranya yang berada di lereng Gunung Cikuray (2821 m dpl) dan Papandayan (2622 m dpl), kemudian bergerak turun ke utara, yaitu ke lembah Garut. (717 m dpl). Di lembah Garut ini, Cimanuk mendapat pasokan air dari anak-anak sungainya yang berasal dari jajaran Gunung Guntur (2240 mdpl) di sebelah barat, serta jajaran Gunung Galunggung (2169 m dpl) dan Talaga Bodas (2201 m dpl) di sebelah timurnya. Lembah Garut ini sangat subur untuk tanaman perkebunan dan padi. Kemudian aliran air mengalir deras menurun ke utara menyusuri dataran tinggi Cibatu (650 m dpl) dan Darmaraja (300 m dpl). Kemudian bergerak lagi ke utara, dan menjadi batas alami antara Kabupaten Sumedang dan Majalengka. Di sini, Cimanuk mendapat aliran air dari anak-anak sungainya yang berasal dari Gunung Bukit Unggul (2209 m dpl) dan Calangcang di sebelah barat, dan Cakrabuwana (1731 m dpl) dan Ceremai (3078 m dpl) di sebelah timur. Memasuki kawasan Tomo dan Jatiwangi (30 m dpl) di Kabupaten Majalengka, aliran air Cimanuk memasuki wilayah dataran rendah. kemudian mengalir tenang dengan membawa debit air terbesarnya menuju kawasan Jatibarang dan akhirnya sampai ke muaranya di Laut Jawa dengan melewati kota Indramayu.

Dalam perkembangannya, Cimanuk sudah banyak dipengaruhi oleh intervensi manusia. Secara teknis, untuk mengatasi banjir pada daerah muaranya, sudah dilakukan pelurusan badan sungai, yang berada di sebelah barat kota Indramayu. Sedangkan badan sungai yang asli tetap melalui kota itu. juga dilakukan pembuatan sudetan-sudetan yang selain untuk mengatasi banjir, juga untuk pengairan lahan pertanian.

Pada daerah hulu, seperti jamak terjadi di berbagai daerah di Indonesia, khususnya Jawa, sudah banyak penggundulan hutan yang kemudian ditelantarkan. Serta pengalihan fungsi lahan hutan, menjadi lahan pertanian dan pemukiman. Seperti terlihat pada gambar foto udara (sumber maplandia.com), tutupan hutan yang berwarna hijau tua meliputi kawasan yang sangat sempit, hanya terdapat di sekitar puncak-puncak gunung saja. Hutan itu langsung bersebelahan dengan lahan gundul tak terurus dan lahan pertanian, yang berwarna kecoklatan dan hijau muda. Kita bisa melihat pemandangan pegunungan dan perbukitan yang gundul dan kritis di Garut jika kita naik kereta api dari Bandung ke Tasikmalaya, melintasi kawasan kecamatan Leles, Cibatu dan Malangbong. Akan terlihat jelas pada musim kemarau yang membuat prihatin bagi yang menyaksikannya.

Hal ini tentu akan membawa dampak besar bagi ekologi dan tata air wilayah DAS Cimanuk. Di mana setiap tahun rata-rata setiap hektar kawasan DAS ini menyumbangkan 20 ton tanah yang tererosi, kemudian mengendap di perairan sekitar muara Cimanuk. Padahal luas DAS Cimanuk lebih dari 3500 km persegi. Jadi dapat dihitung sendiri berapa besar tanah subur pegunungan dan dataran rendah yang terbuang percuma ke laut akibat erosi. dengan besarnya kandungan tanah yang dibawa, maka membentuk delta di muara sungai, yang semakin menjorok ke arah laut setiap tahunnya.

Pada kemampuannya dalam mengairi sawah juga demikian. Pada musim hujan, Cimanuk mampu mengairi sawah yang beririgasi teknis di sepanjang alirannya, seluas sekitar 110.000 hektar. Pasokan airnya bahkan mampu untuk sampai menyumbangkan sebagian airnya ke kawasan Cirebon, yang berada di luar wilayah DAS-nya. Namun pada musim kemarau, hanya mampu mengairi sawah seluas 50.000 hektar, yang berarti kurang dari setengahnya. Gambaran demikian tentu akan berakibat bagi kesejahteraan petani dan ketahanan pangan wilayah itu selanjutnya.

Maka penghijauan sangat mendesak dilakukan. Serta jeda tebang dan pengalihan fungsi lahan. Juga harus ditentukan kaasan yang menjadi kawasan hutan, perkebunan dan pesawahan abadi, yang tak boleh dialihfungsikan dengan alasan apapun. Jika kita tidak melakukannya mulai sekarang, keindahan Tatar Pasundan yang tersohor itu tak lama lagi menjadi dongeng. Itu bukanlah hal yang tak mungkin terjadi. Saudara-saudaraku di tatar Parahyangan yang dikenal santun dalam pergaulan, ditunggu aksi nyatanya untuik membuktikan kesantunannya terhadap alam.

Mangga atuh, urang sadayana, sami-sami meurenahkeun deui alam Tatar Pasundan anu parantos nuju ka ruksak. Hatur nuhun. (betulkan kalau bahasa Sundanya salah, penulis)




Reputasi anda ialah apa yang orang lain pikirkan tentang diri anda; sikap pribadi Anda ialah tingkah laku Anda.


silakan memberi komentar atas tulisan ini / please give a comment about the topic above

Terima kasih sudah mengunjungi halaman ini. Silakan membuka posting artikel lain di blog ini (silakan klik posting lama, halaman muka atau posting baru di bawah tulisan ini) untuk menjelajahi wilayah lain Nusantara, menyelami pemikiran dan mengenali permasalahan, supaya kita menjadi bagian dari solusi bagi bangsa ini.

Jelajah Serayu

Halo Saudara! Selamat datang di blog Mannusantara!


foto kondisi alam pegunungan Dieng sebagai hulu dan pemasok air utama Kali Serayu, yang gundul dan memprihatinkan.


gambar kondisi alam Gunung Slamet sebagai pemasok air Kali Serayu yang semakin rusak




gambar foto udara DAS Serayu

Serayu adalah sungai yang terdapat di Jawa Tengah. Mengalir sepanjang sekitar 250 km, dari hulunya di jantung Jawa Tengah, yaitu Pegunungan Dieng di Kabupaten Wonosobo di sebelah timur, menuju ke barat dan berbelok ke selatan ke Samudra Hindia di teluk Penyu, Cilacap. Aliran sungainya membelah lembah subur yang menajdi tumpuan kehidupan masyarakat, dan menjadi pemasok pangan yang penting di Jawa Tengah dan bahkan untuk skala nasional.

Hulu terjauh berada di lereng selatan Gunung Prau (2565 m dpl) di Pegunungan Dieng bagian timur, lalu turun ke arah selatan menuju dataran tinggi Wonosobo (800 m dpl). Di sini, Serayu mendapat tambahan air dari anak-anak sungainya dari Gunung Sindoro (3151 m dpl) dan Sumbing (3371 mdpl). Sekitar 10 km di sebelah selatan kota Wonosobo, alirannya berbelok ke arah barat, dan mengalir turun dengan deras menuju wilayah Banjarnegara (250 m dpl). Di Banjarnegara inilah, telah dibangun Waduk Mrica, yang berguna selain untuk pengairan lahan pertanbian, juga untuk pembangkit listrik. Di wilayah ini pula, Serayu mendapat tambahan air dari pegunungan Dieng di utara, maupun dari Pegunungan Serayu di selatan.

Serayu terus bergerak menuju dataran yang lebih rendah di barat. Sampai di sebelah selatan Purbalingga, Serayu mendapat pasokan air cukup besar dari anak sungainya, yaitu Kali Lawing yang berasal dari Pegunungan Dieng di wilayah utara Purbalingga ini. Kemudian, Serayu menuju meliuk-liuk di dataran rendah Banyumas (30 m dpl). Di Banyumas ini, Serayu mendapatkan tambahan volume air cukup banyak dari anak-anak sungainya yang berhulu di Gunung Slamet (3428 m dpl). Di kecamatan Patikraja, Banyumas, Serayu berkelok tajam ke selatan menembus jajaran perbukitan Serayu Selatan, menuju dataran pesisir Cilacap, melalui Kecamatan Maos (10 m dpl). Dan akhirnya mencapai muaranya di Teluk Penyu di selatan Adipala, Cilacap.

Kondisi DAS Serayu saat ini

Di balik keindahan alam lembah sungai dan jajaran pegunungan yang mengelilinginya dari kejauhan, Daerah Aliran sungai (DAS) Serayu ternyata menyimpan masalah kerusakan lingkungan hidup yang parah. Terutama di lereng-lereng pegunungan yang menjadi pemasok air utamanya, yaitu Gunung Sindoro dan Sumbing di sebelah timur, Pegunungan Dieng di utara, dan Slamet di barat laut. Kerusakan itu disebabkan perambahan hutan untuk berbagai alasan, yaitu penebangan liar yang dipicu kesulitan ekonomi yang parah, yang semakin menjadi akibat krisis moneter pada akhir Orde Baru. Kejadian ini kemudian berdampak susulan dengan semakin mudahnya orang mengalihfungsikan lahan gundul itu untuk dijadikan lahan pertanian semusim dan pemukiman.

Pertanian tanaman semusim di lahan pegunungan dilakukan dengan cara-cara yang sangat sembrono, yaitu dengan menanami punggungan bukit sampai ke puncaknya, bahkan yang berkemiringan curam di atas 45 derajat. Hal ini tentu akan mempercepat erosi dan mengganggu siklus air alami. Belum lagi jenis tanaman yang ditanam adalah tembakau dan kentang, yang merupakan tanaman “manja” dan “egois”, karena lahan yang digunakan untuk menanam kedua jenis itu tidak boleh ditanami tanaman lain. Juga tidak dilakukannya tumpang sari dengan tanaman berkayu keras untuk menjaga struktur tanah dan menjaga cadangan air pegunungan yang merupakan penampung air raksasa alami. Laju erosi dan turunnya kesuburan tanah di wilayah itu 5 tahun terakhir semakin mencemaskan, karena jika musim kemarau tiba, kekeringan sudah menjadi masalah besar di situ. Jika tidak segera dihijaukan kembali, kawasan Dieng dan sekitarnya akan menjadi kawasan padang tandus yang tidak bisa memberi lagi harapan penghidupan. Kerusakan juga terjadi di Pegunungan Serayu di sebelah selatan alur Kali Serayu, namun relatif tidak parah, dan kelestarian masih bisa terjaga.

Cara yang paling ampuh adalah menyadarkan masyarakat dan pemerintah, serta memberdayakannya untuk kembali menanam pohon berkayu keras dan penghutanan kembali lahan gundul demi keberlanjutan kehidupan masyarakat. Kita harus memahami bahwa menanam pohon akan menyelesaikan beberapa masalah sekaligus. Dan akhirnya pohonlah yang bekerja untuk kita untuk menjaga kesuburan tanah, persediaan air dan penyegaran udara. Selain itu perlu dilakukan cara-cara pertanian yang ramah lingkungan, dalam arti tetap memberi kesempatan alam untuk mampu menjalankan siklus alaminya. Upaya ini harus segera dilakukan sebelum menimbulkan dampak kerusakan permanen yang dapat mengancam jiwa di kemudian hari. Dan sebelum keindahan alam Pegunungan Dieng, Sindoro, Sumbing dan Slamet betul-betul menjadi dongeng pengantar tidur anak-anak generasi mendatang.

Ayo sedulur-sedulur inyong kabeh, padha nandur kanggo ndandani alame awake dhewek. Aja nganti, edi penine alam kie mung dadi dongengan bae. Matur nuwun




Ada dua cara seseorang itu tidak dapat berhasil yaitu orang yang hanya mengerjakan apa yang disuruh dan orang yang tidak mau mengerjakan apa yang disuruh.


silakan memberi komentar atas tulisan ini / please give a comment about the topic above

Terima kasih sudah mengunjungi halaman ini. Silakan membuka posting artikel lain di blog ini (silakan klik posting lama, halaman muka atau posting baru di bawah tulisan ini) untuk menjelajahi wilayah lain Nusantara, menyelami pemikiran dan mengenali permasalahan, supaya kita menjadi bagian dari solusi bagi bangsa ini.

Rabu, 26 Maret 2008

SELAMATKAN ALAM DANAU TOBA


foto kondisi alam sekitar danau Toba yang semakin rusak dan gundul





GAMBAR FOTO UDARA DANAU TOBA, SUMATRA UTARA
klik gambar untuk memperbesar / click picture to enlarge


Keindahan alam Danau Toba dengan Pulau Samosirnya telah menginspirasi banyak seniman dari Tano Batak untuk menciptakan lagu-lagu yang mengunkapkan keindahan alam dan keagungan budaya setempat. Namun, Danau Toba yang pernah menjadi primadona pariwisata Sumatra Utara tahun 1990-an, saat ini dalam kondisi memprihatinkan.

Dalam foto udara (sumber maplandia.com), terlihat jelas, kawasan sekitar danau dan Pulau Samosir sudah didominasi warna kecoklatan. Warna hijau yang merupakan hutan hanya tinggal di wilayah sempit di sekitar puncak-puncak pegunungan. Dalam foto kondisi alam Toba yang juga dilampirkan, memang terlihat jelas dengan mata telanjang, bahwa pegunungan di sekitar Toba sebagian besar sudah gundul, baik sengaja dibabat, maupun berubah fungsi menjadi lahan pertanian tanaman semusim, maupun pemukiman. Pegunungan itu dapat dikatakan sudah telanjang dan tak lagi anggun membingkai danau terluas dan terdalam di Indonesia itu.

Padahal telanjangnya pegunungan tanpa hutan, akan mengakibatkan kerugian ribuan kali lipat daripada keuntungannya. Niscaya akan terjadi erosi yang mengakibatkan turunnya kesuburan tanah. Berkurangnya pasokan air bagi danau di musim kemarau yang akan mengakibatkan meningkatnya keasaman air danau sehingga berbahaya bagi biota danau. Juga terancamnya pasokan air bagi Sungai Asahan yang berhulu di danau ini dan bagi PLTA. Meningkatkan resiko tanah longsor dan kekeruhan air danau di musim hujan. Itu hanya sebagian, belum disebut dampak merugikan bagi pertanian dan pariwisata untuk jangka panjang.

Bagaimana memperbaiki kawasan yang terlanjur rusak ini ? Cara yang harus segera dilakukan adalah menanam, menanam, dan menanam pohon sebanyak-banyaknya, sebagai bentuk pertanggungjawaban manusia terhadap alam. Seharusnya setiap menebang satu pohon, harus menanam kembali 10 bibit pohon. Kedua, tegakkan peraturan dan hukum setegas-tegasnya, bagi pembalak liar, pemegang HPH yang serakah dan meliar karena (pura-pura) lupa batas area mana yang diijinkan lalu melanggarnya, dan aparat terkait yang seharusnya bertanggung jawab menjaga tanah kelahirannya tapi malah ikut terlibat menikmati hasil alam yang tidak sah. Tentu kita ingat Adelin Lis yang bebas dari tuntutan hukum pembalakan liar, dan sekarang berleha-leha menikmati hasil rampokan kekayaan alam Tano Batak tanpa diketahui rimbanya.

Ketiga penerapan kesepakatan Rencana Tata Ruang secara konsisten. Keempat memberikan pengetahuan dan pendampingan bagi masyarakat tentang cara bertani yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Keenam meningkatkan segenap potensi daerah berbasis iptek dan jasa, dan meningkatkan potensi usaha berbasis masyarakat setempat, sehingga tidak terpaku mendapatkan pendapatan daerah dengan menuai bahan mentah, seperti menebang hutan yang merupakan rekayasa pusat yang feodal. Atau menanam benih ikan yang tidak sesuai dengan kondisi Danau Toba, hasil rekayasa para teknokrat yang tidak membumi.

Kawasan Danau Toba, setelah dilakukan pemekaran daerah, saat ini dikelilingi oleh tujuh kabupaten, yaitu Tanah Karo di utara, Simalungun di timur, Toba Samosir di tenggara, Tapanuli Utara di selatan, Humbang Hasundutan di barat daya, Samosir di Pulau Samosir dan daratan sebelah barat Danau Toba, dan Dairi di sebelah barat laut. Diharapkan dengan pemekaran daerah, bukan sebagai sarana bagi-bagi kapling untuk memperkaya diri, tapi semakin meningkatkan usaha untuk pelestarian kawasan Toba secara terpadu bagi sejahteranya kehidupan masyarakat sekitar secara berkelanjutan.

Dengan lestarinya alam Danau Toba dan Tano Batak, akan lestari pula kebudayaan masyarakatnya. Dan akan tetap menjadi inspirasi tak ada habisnya bagi seniman-seniman setempat sekarang dan mendatang, untuk berdendang tentang keindahan alamnya.

Untuk saudara-saudaraku di seputaran Danau Toba dan Tano Batak : Salam Mejuah-juah. Mauliate. Horas.



Sifat pribadi yang kokoh adalah aset kita yang paling hebat karena ia kekuatan yang mengijinkan kita berhadapan dengan kesulitan hidup.


Terima kasih sudah mengunjungi halaman ini. Silakan membuka posting artikel lain di blog ini (silakan klik posting lama, halaman muka atau posting baru di bawah tulisan ini) untuk menjelajahi wilayah lain Nusantara, menyelami pemikiran dan mengenali permasalahan, supaya kita menjadi bagian dari solusi bagi bangsa ini.

Selasa, 18 Maret 2008

MENGHIJAUKAN INDONESIA DAN MENCIPTAKAN MATA AIR BARU

Halo Saudara! Selamat datang di blog Mannusantara!



MENGHIJAUKAN INDONESIA

DAN MENCIPTAKAN MATA AIR - MATA AIR BARU



Adalah sangat memprihatikan dengan bencana banjir yang dialami warga Jakarta dan sekitarnya setiap tahun, terutama pada masa puncak musim hujan. Jika banjir datang, Jakarta bagaikan kolam comberan raksasa. Ini adalah hasil akhir dari pola pikir yang salah kaprah, tindakan yang ceroboh dan tumpukan masalah yang tak kunjung terselesaikan.

Sudah saatnya wilayah Jakarta dan sekitarnya, terutama dan umumnya bagi seluruh wilayah Indonesia untuk dilakukan gerakan penghutanan kembali, bukan sekedar penghijauan. Dengan tujuan utama untuk menciptakan mata-mata air baru. Kita harus mengubah paradigma kita yang lama dan usang, yaitu paradigma bagaimana memanfaatkan. Kata memanfaatkan ini cenderung lebih berat kepada pengambilan, penghabisan, penggunaan, penghisapan tak terkendali yang didasarkan pada pola pikir kapitalisme ekonomi, yaitu meraih keuntungan sebanyak-banyaknya dengan daya yang sekecil-kecilnya. Maka yang ada hanyalah ambil dan ambil terus, lupa menanam kembali, melestarikan, dan menciptakan yang baru.

Maka kita harus mengubah mental set kita, kalau perlu secara revolusioner, bahwa untuk mendapatkan sesuatu, kita harus menciptakannya. Untuk mendapatkan sesuatu kita harus menggantikannya. Untuk mendapatkan sesuatu kita harus memperbanyaknya. Dan setelah mendapatkan sesuatu, kita harus bersyiukur dan berterima kasih. Cara berterima kasih yang tepat adalah dengan melestarikannya. Ini juga diterapkan dalam bisnis, namun bisnis cenderung bagaimana cara untuk menghabiskan. Dengan paradigma baru inilah, kita bersiap untuk menyongsong hari depan. Hari depan dimana penduduk makin banyak, sementara sumber daya dan ruang semakin terbatas. Hari depan dimana kebutuhan akan pangan, energi dan air akan berlipatganda daripada sekarang. Hari depan itu tidaklah jauh dari masa kita hidup sekarang. Bahkan semuanya bisa terjadi ketika kita masih hidup, karena pertumbuhan dan perkembangan yang luar biasa. Hari depan itu bisa abad mendatang, sepuluh tahun mendatang, tahun depan, bulan depan, bahkan esok hari. Siapa yang bisa menduga dengan tepat ?

Hutan dan air adalah dua elemen alam yang tidak terpisahkan. Keduanya saling mempengaruhi. Keduanya saling memperkuat dan saling menjaga satu sama lain. Jika hutan tak ada, maka air pun enggan berlama-lama di daratan dan lebih senang untuk langsung meluncur kembali ke laut. Nah, luncuran langsung inilah yang banyak menimbulkan bencana. Namun jika hutan itu ada, dalam arti baik dan terjaga kondisinya, baik kualitas maupun kuantitasnya, maka air pun betah berlama-lama tinggal di daratan. Hutan pun dengan senang dan pintarnya mengatur pengeluaran cadangan air ke tempat yang lebih rendah, sedikit demi sedikit. Sehingga pada musim hujan hutan akan menabung air, sedangkan pada musim kemarau hutan akan mengeluarkan cadangan devisa airnya untuk kesejahteraan seluruh makhluk, terutama yang tinggal di daratan.

Manusia saat ini adalah sebagai elemen alam yang paling penting, karena manusia saat ini dengan segala kepandaian dan kemampuannya bisa mengatur dan mengendalikan alam, terutama bagi kehidupannya. Dan bagai pisau bermata dua, manusia dapat juga menjadi panglima perusak alam.





Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita dapat melihat bahwa bukan kebahagiaan yang membuat kita berterimakasih, namun rasa terima kasihlah yang membuat kita berbahagia. (Albert Clarke)


Terima kasih sudah mengunjungi halaman ini. Silakan membuka posting artikel lain di blog ini (silakan klik posting lama, halaman muka atau posting baru di bawah tulisan ini) untuk menjelajahi wilayah lain Nusantara, menyelami pemikiran dan mengenali permasalahan, supaya kita menjadi bagian dari solusi bagi bangsa ini.

Daur Energi dan Pemanasan Global

Halo Saudara! Selamat datang di blog Mannusantara!


Daur Energi dan Pemanasan Global

Bumi yang kita tinggali ini adalah sebuah tempat di mana berlangsung proses daur energi yang supercanggih untuk mendukung kehidupan di dalamnya, termasuk kehidupan umat manusia. Karena unsur energi itu selain berproses melalui benda atau material mati, juga sangat berpengaruh dalam terbentuk dan terciptanya material hidup. Daur energi selanjutnya berproses dalam rantai biologi, yang lebih dikenal sebagai rantai makanan.

Penggerak kehidupan adalah energi. Dan energi yang mendominasi segala perikehidupan di bumi ini adalah sinar dan panas matahari. Terutama segala perikehidupan di permukaan bumi yang bersentuhan dengan ruang udara (atmosfer). Bumi sendiri sebenarnya mempunyai energi tersendiri, namun masih tersimpan di dalam perutnya berupa magma. Dan dikeluarkan secara sporadis dan tak teratur dalam sebuah pelepasan proses energi geologis, baik berupa letusan gunung yang disertai muntahan lahar, juga dalam wujud gempa bumi. Pelepasan energi bumi inilah yang oleh manusia dianggap sebagai bencana alam. Namun di beberapa tempat di mana aktivitas vulkanisnya sangat tinggi, namun tidak besar, dapat dimanfaatkan sebagai energi panas bumi menjadi listrik, dengan cara mengendalikan dan mengarahkannya.

Penopang kehidupan utama di bumi adalah matahari, yang mana ada jenis makhluk hidup yang susunan organiknya mampu memanfaatkan energi matahari untuk ”memasak” bahan makanan dari bumi yang notabene adalah benda mati, berupa zat-zat mineral yang terkandung dalam tanah, dan zat-zat yang terkandung di dalam udara dan air. Makhluk hidup itu adalah tumbuh-tumbuhan, dari yang bersel tunggal sampai yang berupa pohon-pohon lebat yang bisa mencapai tinggi lebih dari 40 meter di hutan tropis. Sang Pencipta telah merancang sedemikian rupa, sehingga dengan proses memasak yang menakjubkan dalam sel-sel hijau (klorofil), yang memasak zat karbondioksida dari udara, serta mineral dan air dari tanah dengan bantuan energi panas dan cahaya matahari, maka dihasilkanlah makanan berupa karbohidrat, protein, lemak dan zat organik sejenisnya dalam berbagai variasinya. Dengan adanya pangan organik hasil olahan tanaman, maka terbentuklah rantai makanan biologis yang kemudian menghasilkan dan memungkinkan terbentuknya organisme hidup yang lebih kompleks dan semakin kompleks susunannya serta bermacam-macam jenisnya, sehingga menjadi seperti kita alami hari ini berupa hewan dan manusia.

Kemudian sisa-sisa organisme hidup, akhirnya terurai dalam suatu proses biologis, kimia, fisika serta geologis dalam kurun waktu sangat lama sampai jutaan tahun, akhirnya terbentuk materi baru berupa sumber energi fosil berupa minyak, batu bara dan gas. Jadi sebetulnya, minyak, batu bara dan gas adalah hasil turunan energi anas dan energi cahaya matahari yang berubah wujud. Ini sesuai dengan salah satu hukum Fisika tentang kekekalan energi yang menyatakan bahwa energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan, namun dapat berubah wujud.

Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk (manusia) dan meningkatnya keragaman aktivitas manusia, maka dibutuhkan sumber energi yang semakin besar untuk mendukung kehidupan manusia. Sumber energi bukan hanya bahan pangan untuk mendukung kehidupan biologis manusia, namun juga sumber energi untuk menjalankan segala macam peralatan yang telah diciptakan manusia. Pilihan untuk memenuhi kebutuhan energi manusia dijatuhkan pada sumber energi minyak, batu bara dan gas untuk menggerakkan mesin dan membangkitkan energi listrik. Karena jumlah cadangannya cukup besar, paling tidak efektif untuk menopang aktivitas manusia selama seabad terakhir ini. Maka ekspansi usaha untuk menambang sumber energi minyak, batu bara dan gas digalakkan di mana-mana, terutama di wilayah-wilayah yang diketahui mempunyai cadangan yang besar dan efektif secara ekonomis, termasuk di Indonesia.

Namun dengan penambangan yang terus menerus, maka cadangan sumber energi berbasis fosil semakin menipis. Selain itu hasil pembakaran energi fosil yang telah dilakukan selama ini, yang notabene adalah proses perubahan wujud energi yang belum bisa dikendalikan dengan kepandaian manusia, telah mengakibatkan pemanasan menyeluruh di lapisan atmosfer bumi yang seketika berpengaruh buruk pada bentuk-bentuk kehidupan dan media-media tempat bentuk kehidupan itu berlangsung.

Sumber daya baru (tapi lama) diambil dari efek aktivitas manusia, baik sisa-sisa sampah, perubahan wujud energi, sisa metabolisme tubuh, dll. ITU DIDAUR ULANG DENGAN KONSEP UNTUK MENGUSAHAKAN KELAHIRAN KEDUA BAGI BENDA HASIL USAHA MANUSIA DAN PROSES ALAMI, SEHINGGA MENIMBULKAN MANFAAT YANG BARU. Bumi terancam karena manusia dididik menjadi profesional dalam lembaga pendidikan secara tersistem dengan tujuan bagaimana caranya menghabiskan isi kekayaan dunia ini bagi diri sendiri segolongan kecil, tanpa peduli pada orang-orang yang berkekurangan dan tidak peduli pada ketersediaannya bagi generasi mendatang. Tidak dididik untuk membaharui, memaksimalkan daya guna, penghematan, penciptaan sumber-sumber kesejahteraan baru, pemerataan bagi semua, dan menjamin ketersediaan dan kelangsungannya bagi generasi mendatang.
Manusia yang katanya modern, namun pola pikirnya masih kuno. Kasus pembalakan liar, penambangan pasir liar, penambangan minyak dan mineral lainnya secara manipulatif dan tertutup, dan kasus Lapindo di Sidoarjo mencerminkan kebuasan nafsu manusia Indonesia untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya tanpa mempedulikan sesamanya. Hal ini selain melanggar hukum sosial, juga memubazirkan potensi energi yang terbuang percuma, malah menjadi energi yang tak terkendali dan membahayakan kehidupan.



Berpikir secara rasional tanpa dipengaruhi oleh naluri atau emosi merupakan satu cara menyelesaikan masalah yg paling berdampak.

Terima kasih sudah mengunjungi halaman ini. Silakan membuka posting artikel lain di blog ini (silakan klik posting lama, halaman muka atau posting baru di bawah tulisan ini) untuk menjelajahi wilayah lain Nusantara, menyelami pemikiran dan mengenali permasalahan, supaya kita menjadi bagian dari solusi bagi bangsa ini.

Jelajah Kawasan Pantai Kuta, Bali / Discovering Kuta Beach Area, Bali

Halo Saudara! Selamat datang di blog Mannusantara!

gambar foto kondisi lalu lintas di kawasan Kuta, Badung, Bali

picture of traffic condition in Kuta Area, Bali, Indonesia

(klik gambar untuk memperbesar / click picture to enlarge)




gambar foto suasana Pantai Kuta saat menjelang matahari tenggelam

picture of sunset in Kuta Beach, Bali, Indonesia

(klik gambar untuk memperbesar / click picture to enlarge)


gambar foto satelit kawasan Kuta, Badung, Bali

aerial view picture of Kuta Area, Bali, Indonesia

(klik gambar untuk memperbesar / click picture to enlarge)

TULISAN BERBAHASA INDONESIA DI BAWAH TULISAN BERBAHASA INGGRIS


Kuta Area Needs Some Rescuing Steps to become more Humanistic and Environment Friendly

Administravely, Kuta is not as a part of city governance, but it is a part of a regency governance of Badung. As same as the other regencies in Indonesia, the lowest administrative function is the village. Or in Bali called as the “banjar”.

But, although administratively Kuta area is a part of the banjar, people activities in this area are similar like people activities in the cities as well. Because this area is not depending on farming or agricultural sector again. Now this area is depending on tourism sector and it’s supporting activities and facilities. So, the village’s landscape condition is not dominant by ricefields or other farming fields anymore, but have already became fields of buildings to serve tourism activities, mostly like hotels, markets and stores, offices and restaurants.

The aerial view picture of Kuta area above shows that this area is full with buildings. The area exposed in that picture is between Melasti Street in the north and Singosari Street in the south, with about two kilometers length. And also between Kuta Beach in the west and Tukad Mati (Mati River) in the east, with about one and a half kilometers wide.Centers of busiest tourism activities are spread in Kuta Beach, Jalan Pantai Kuta (Kuta Beach Street), and Jalan Raya Kuta (Kuta main street). Which have a lot of stores and shops. And also in Legian Street where have a lot of night clubs and restaurants. Hotels and other accommodation facilities spread almost in all parts of this area. These tourism facilities are standing next by the local residences, public service facilities, like government offices, schools and local praying places (Hindu temples).

As one of tourism center in Bali with international reputation, Kuta area needs to be rearranged again with some revitalization steps. Kuta area needs to be rebuild as accessible and humanistic city area. As we known as well, foreign tourists usually walk to the place where not far away. But in Kuta, the pedestrian ways are not accessible and capable for the pedestrians to walk on. That actual condition caused overlapping between transportation modes and pedestrians on the streets.

For example is Pantai Kuta Street along the shopping stores. The street on this part is very narrow, enough to fill by two cars width only. And the pedestrian ways have about one meter wide only. The vegetations are rare too, so not enough to make cooler air and protect from hot tropical sun shine. This situation makes people do not have motivate or attracted to walk on pedestrian ways along the streets.

Previously, the streets in Kuta area are the village’s streets. So, there are some alternatives to rebuild the circulation paths in this area, especially for the pedestrian ways. First alternative is to make the pedestrian ways wider, similar with two meters width in both sides of the street. So people can walk accessibly and comfortably from two directions. Second alternative is to shut several streets in this area from pollutable vehicles, and make priority for the pedestrians to walk freely and bicycles. Third alternative is a little bit more extreme is to take a few meters of building’s street level floor in both sides of the streets, to remake as a pedestrian arcades. This formation is adopting Malioboro Street, Yogyakarta, Java.

Those revitalization steps must be synergized with vegetation plantation along the street, make water absorber area, and drainages system to reduce flood risk in the rainy weather. To make Kuta area become more humanistic and environment friendly are hope of all of us.



Kawasan Kuta, Kabupaten Badung, Bali :

Perlu Langkah Penyelamatan Kawasan Kuta
Menuju Kawasan yang Manusiawi dan
Berwawasan Lingkungan



Secara administratif, Kuta bukanlah bagian dari sebuah pemerintahan Kota, tapi adalah bagian dari pemerintahan Kabupaten, yaitu Kabupaten Badung. Sebagaimana kabupaten lainnya di Indonesia, maka fungsi administrasi terbawahnya adalah Desa, atau di Bali disebut dengan Banjar.

Namun, walaupun Kuta secara administratif berupa Banjar, aktivitas kehidupan penduduknya sudah mengkota. Dalam arti tidak lagi mengandalkan sektor pertanian sebagaimana sebuah desa, namun mengandalkan sektor pariwisata dan jasa sebagai pendukung kegiatan pariwisata. Kondisi wilayahnya tidak lagi didominasi lahan sawah ataupun lahan budi daya pertanian lainnya, namun sudah berubah wujud oleh padatnya berbagai bangunan yang mewadahi dan mendukung kegiatan kepariwisataan, seperti hotel, pusat perbelanjaan, perkantoran dan restoran.

Dalam gambar foto udara yang disertakan di atas (sumber www.maplandia.com
), terlihat bahwa kawasan Kuta yang diekspos dalam gambar sudah sangat padat oleh bangunan. Kawasan yang terekspos dalam gambar meliputi kawasan antara Jalan Melasti di sebelah utara dengan Jalan Singosari di sebelah selatan, sepanjang sekitar dua kilometer. Kemudian antara pantai Kuta di sebelah barat dengan Tukad (sungai) Mati di sebelah timur, sepanjang sekitar satu setengah kilometer. Pusat-pusat keramaian pariwisata antara lain terdapat di sepanjang Pantai Kuta, Jalan Pantai Kuta dan Jalan Raya Kuta yang banyak terdapat pertokoan dan pusat perbelanjaan, dan Jalan Legian yang terdapat banyak restoran dan pusat hiburan malam. Sedangkan fasilitas hotel dan tempat penginapan lainnya tersebar merata hampir di seluruh kawasan ini. Semua fasilitas pariwisata itu saling berdampingan dengan pemukiman warga, serta fasilitas kemasyarakatan setempat, seperti kantor pemerintah, sekolah dan tempat ibadah, walaupun tidak selalu tertata dan terpadu serasi.

Sebagai kawasan pusat pariwisata Bali dengan reputasi internasional, Kuta perlu ditata lagi dengan penataan yang lebih cermat dan tegas.

Kawasan perkotaan yang manusiawi, untuk mewadahi pejalan kaki. Wisatawan mancanegara sebenarnya sudah lekat dengan budaya berjalan kaki untuk menuju tempat yang tidak terlalu jauh. Namun jalur sirkulasinya kurang layak mewadahi pejalan kaki, sehingga sering terjadi tumpang tindih dengan moda transportasi.

Contohnya jalan Pantai Kuta di sepanjang pusat perbelanjaannya. Pada ruas itu, lebar jalan cukup sempit, hanya cukup untuk dua mobil pribadi berpapasan. Namun bukan itu masalah sebenarnya. Masalah sebenarnya adalah jalur pejalan kaki (trotoar) sangat sempit, hanya berkisar satu meter saja, dengan bangunan yang terlalu mepet dengan trotoar. Hanya di beberapa tempat saja yang agak longgar karena bangunannya agak mundur dari badan trotoar. Selain itu juga kurangnya pohon peneduh pada jalur pejalan kaki yang menyebabkan semakin kurang berminatnya orang untuk berjalan kaki di jalan itu pada siang hari.

Padahal sebagian besar wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Bali telah lekat dengan budaya berjalan kaki di negara asal mereka. Dan menjadi mudah dipahami jika kebiasaan baik ini mereka bawa ketika berwisata ke Indonesia, sampai batas toleransi tertentu.

Sebenarnya jalan-jalan di kawasan Kuta sebelumnya adalah jalan desa yang difungsikan untuk mewadahi pergerakan masyarakat selingkup desa itu saja. Namun seiring bertambah banyaknya orang yang beraktivitas dan beragama aktivitas yang dilakukan, maka perlu penataan dan perancangan ulang ruang jalan tersebut.

Melebarkan jalur pedestrian sampai minimal dua meter pada kedua sisi jalan, sehingga bisa mewadahi orang yang berjalan kaki dan berhenti sekaligus. Alternatif pertama dengan menyempitkan jalur kendaraan untuk memenuhi kebutuhan ruang yang layak bagi pejalan kaki. Alternatif kedua dengan mempertahankan ruang sirkulasi kendaraan sekaligus memenuhi kebutuhan ruang pejalan kaki dengan memundurkan bangunan secukupnya.
Atau yang lebih baik, namun agak ekstrim adalah menciptakan jalur pejalan kaki yang dinaungi bangunan di sepanjang jalan, seperti jalan Malioboro Yogyakarta. Yaitu dengan mengambil lantai dasar setiap bangunan sepanjang jalan untuk dialihfungsikan sebagai jalur pejalan kaki. Jalur pejalan kaki tentu tak lepas dengan perpaduannya dengan penanaman pohon peneduh dan tersedianya tempat peresapan air setempat, dan jalur pembuangan limpahan air, untuk mengurangi resiko banjir. Tentu semua itu perlu dialog dengan warga, pemilik tempat usaha dan pemangku kepentingan setempat.

Dengan demikian diharapkan suatu saat nanti kawasan Kuta sebagai kawasan yang ramah lingkungan dan manusiawi akan terwujudkan.





Kepuasan terletak pada usaha, bukan pada hasil. Berusaha dengan keras adalah kemenangan yang hakiki. (Mahatma Gandhi)



silakan memberi komentar untuk tulisan ini /
please give a comment about the topic above

Terima kasih sudah mengunjungi halaman ini. Silakan membuka posting artikel lain di blog ini (silakan klik posting lama, halaman muka atau posting baru di bawah tulisan ini) untuk menjelajahi wilayah lain Nusantara, menyelami pemikiran dan mengenali permasalahan, supaya kita menjadi bagian dari solusi bagi bangsa ini.

Jelajah Progo


Gambar kondisi alam di kawasan hulu Kali Progo di lereng Gunung Sumbing (3371 m dpl) dan Sindoro (3151 m dpl) yang gersang.
DALAM KEADAAN BEGINIKAH KITA AKAN MEWARISKAN BUMI INI KE ANAK CUCU KITA KELAK??



gambar foto satelit kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Progo, yang meliputi wilayah Kabupaten Temanggung, Magelang di Jawa Tengah, serta Kabupaten Kulon Progo, Bantul dan Sleman di Yogyakarta.

(klik gambar untuk memperbesar / click picture to enlarge)




Rapuhnya Daya Dukung Lingkungan Daerah Aliran Sungai Progo





Progo adalah nama sebuah sungai yang terletak di dua provinsi, yaitu Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.Sungai ini mengalir dari utara ke selatan sepanjang sekitar 200 km, dan bermuara di Samudra Hindia. Daerah hulunya sebagian besar berada di Kabupaten Temanggung dan Magelang, Jawa Tengah. Mengalir di lembah indah yang dikelilingi banyak gunung berapi yang tingginya mencapai lebih dari 3000 meter.
Seperti sungai-sungai lainnya di Indonesia, Progo adalah urat nadi kehidupan bagi masyarakat sekitarnya, yang mengandalkan airnya terutama untuk kegiatan pertanian. Selain pula untuk kegiatan pariwisata seperti arung jeram dan telusur sungai. Saat ini Progo menjadi tumpuan hidup lebih dari 3 juta jiwa yang tinggal di wilayah itu, baik secara langsung maupun tidak langsung. Lembah Progo di Magelang sudah menjadi pusat peradaban yang besar di masa lalu selama ribuan tahun. Terbukti dengan peninggalan candi yang banyak terserak di daerah itu, dengan Candi Borobudur sebagai yang terbesar, hanya berjarak kurang dari dua kilometer di sebelah barat badan sungai Progo.


Seperti terlihat dalam gambar foto udara (sumber maplandia.com), daerah hulu Progo yang terletak paling jauh dari muara sungainya berada di sisi timur laut lereng Gunung Sindoro (3151 m dpl) di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Kemudian bertemu dengan anak-anak sungai dari lereng Gunung Sumbing (3371 m dpl). Kemudian alirannya meliuk ke arah timur turun ke dataran tinggi Parakan (750 m dpl) dan Temanggung (550 m dpl). Di Temanggung inilah Progo kemudian meliuk ke arah ke selatan.
Kemudian dari sisi timur lembah, terdapat aliran sungai Elo yang merupakan anak sungai utama Progo. Hulu terjauh Elo berada di lereng barat laut Gunung Merbabu (3142 m dpl). di sini Elo menjadi batas wilayah antara Kabupaten Temanggung, Magelang dan Semarang. Kemudian Elo turun dan meliuk ke barat dan selatan sambil mendapatkan tambahan air dari Gunung Telomoyo (1894 m dpl). Progo dan Elo mengarah ke selatan dan mengapit dataran yang kemudian menjadi Kota Magelang (400 m dpl).
Aliran sungai Progo mulai bertambah volumenya airnya secara signifikan setelah bergabung dengan Elo di antara kawasan Borobudur dan Mungkid (300 m dpl). Kemudian Progo mengarah ke selatan memasuki wilayah Yogyakarta dan menjadi batas wilayah alami antara Kabupaten Kulon Progo sebelah barat dengan Sleman dan Bantul di sebelah timurnya. Seraya mendapatkan tambahan air dari anak-anak sungainya dari Pegunungan Menoreh (puncak tertinggi 1022 m dpl) di sebelah barat, serta dari Gunung Merapi (2950 m dpl) dari sebelah timurnya. Akhirnya bermuara di pantai selatan Jawa antara Kulon Progo dan Bantul.



Kondisi DAS Progo Saat ini



Kondisi DAS Progo saat ini sungguh memprihatinkan. Kita lihat mulai dari kawasan hulu di lereng-lereng Gunung Sumbing dan Sindoro di Kabupaten Temanggung dan Magelang. Kawasan lereng ini sudah dapat dikatakan rusak parah, karena gundul dan pengalihan fungsi laan menjadi lahan pertanian semusim. Terutama kentang dan tembakau yang sangat merusak kesuburan tanah, karena dikerjakan pada lahan miring dan harus mendapatkan sinar matahari penuh, tanpa boleh terhalang rindangnya pohon. Ditambah lagi penebangan liar dan perambahan hutan yang semakin merusak lingkungan hidup setempat, akibat krisis moneter 1998 yang memang mencekik kehidupan rakyat. Dalam foto udara terlihat kerusakan di lereng Sumbing dan Sindoro dengan sangat sedikitnya tutupan lahan yang berwarna hijau. Yang mendominasi adalah warna kelabu dan kecoklatan yang menunjukkan gundulnya lahan. Ini diperkuat dengan foto kondisi lereng gunbung yang disertakan di atas.

Selain mengakibatkan berkurangnya kesuburan tanah dan kepunahan keanekaragaman kehidupan hewan dan tumbuhan, juga meningkatkan resiko banjir bandang dan tanah longsor di musim hujan, serta kekeringan di musim kemarau. Maka sudah bukan hal aneh lagi kalau di kawasan pegunungan yang seharusnya kaya air tersebut, pada musim kemarau harus didatangkan bantuan air bersih dari daerah lain.

Sedangkan hulu Progo di sebelah timur yang mengairi Kali Elo agak lebih baik, karena hutan di lereng barat Merbabu, Telomoyo dan Merapi relatif terjaga, walaupun tak luput dari perambahan hutan untuk lahan pertanian, serta kerusakan hutan akibat erupsi lahar dan penambangan pasir di Merapi. Juga masih relatif baiknya kondisi perkebunan kopi, karet, dan buah-buahan (kelengkeng dan durian) baik yang dikelola perusahaan maupun rakyat secara swadaya.

Dampak kerusakan lingkungan hulu Progo yang sangat terasa di musim kemarau lainnya adalah kurangnya pasokan air bagi pengairan sawah bagi daerah di bawahnya dan daerah hilir. Sehingga lahan pesawahan banyak yang menganggur di musim kemarau, terutama di daerah Yogyakarta.

Pertanian padi di Yogyakarta banyak mengandalkan pasokan air dari Progo karena di Yogyakarta telah dibangun saluran irigasi besar yang bersejarah yang dibangun sejak masa penjajahan Jepang yang bernama Selokan Mataram. Proyek besar ini adalah taktik Sri Sultan Hamengku Buwono IX untuk menghindarkan rakyat Yogyakarta dari sistem kerja paksa (romusha) bikinan Jepang yang terbukti memakan jutaan korban jiwa di Indonesia dalam waktu sekitar tiga tahun. Selokan Mataram ini dibangun dengan mengalirkan air dari Progo menuju ke arah timur sampai bermuarakan ke Sungai Opak di daerah Prambanan sepanjang sekitar 30 km. Selokan ini sangat penting bagi usaha pertanian padi di daerah Sleman dan Bantul. Sebenarnya wilayah Sleman dan Bantul secara alami juga dialiri beberapa sungai yang berhulu di lereng selatan Gunung Merapi, namun debit airnya tak cukup untuk mengaliri seluruh daerah pertanian di situ. Seiring dengan kurangnya pasokan air dari Progo di musim kemarau dalam satu dasawarsa terakhir ini, maka nilai guna Selokan Mataram mencapai titik nadirnya, karena dipastikan selokan ini mengering selama sekitar tiga bulan setiap tahunnya.


Harapan

Perlu usaha keras untuk mengembalikan hutan sebagai lumbung penyimpan air alami, terutama menyelamatkan alam lereng Gunung Sumbing dan Sindoro. Kemudian pengembalian dan peningkatan dalam usaha perlindungan penanaman hutan kembali di kawasan pegunungan lainnya yang menjadi hulu utama Kali Progo. Perlu kepedulian dan peran serta semua pihak terutama pemerintah dan masyarakat setempat untuk memulai dan menjaganya.






Orang yang luar biasa itu sederhana dalam ucapan, tetapi hebat dalam tindakan. (Confusius)

SOS!! KURANG GIZI

gambar karikatur "SOS! Kurang Gizi"

(klik gambar untuk memperbesar / click picture to enlarge)



SELAMAT TINGGAL PANGAN MURAH,
SELAMAT DATANG KEKURANGAN GIZI

Mungkin seperti itulah ungkapan kita melihat dan mendengar kejadian dalam masyarakat negeri kita, di mana kejadian kurang gizi dan kelaparan telah menjadi kejadian biasa, bahkan telah membawa korban.

Pangan murah telah menjadi kenangan karena membumbungnya harga bahan pangan pokok dalam beberapa bulan terakhir yang mengakibatkan banyak kalangan masyarakat yang berpenghasilan rendah (baca : miskin) tak mampu lagi mencukupi kebutuhan gizi keluarganya, terutama anak-anak mereka yang masih balita.

Turut berduka cita atas jatuhnya korban gizi buruk dan kelaparan di Makassar dan daerah lainnya.





Maut bukanlah kehilangan terbesar dalam hidup. Kehilangan yang terbesar adalah cinta kasih yang mati dalam sanubari sementara kita masih hidup.
(Norman Cousins)

Sabtu, 08 Maret 2008

To Make the Peaceful World


To Make the Peaceful World



“ Human’s life do believe to be cared and loved.

Human’s life is a part of nature. Life is a nature’s life that lies in every human’s soul.

Honours to human’s life that caused bay love that borned and gave by love itself.

Life have a nature that destinied to protect itself sustainly. Life is a great gift, so that must be took and defended.

Family is a right place to thankful to the gifted life, also as a place to defend life in the front of all threats that will take and kill the life.

From family does, human being can build – for the time – the culture of life and to protect and to defend it from the culture of death that always threats.

A man who love his life, will given by fertility, not only reproductive (sexuality) fertility, but also kindness, positive thinking, best serving, strong character, nice personality, and above all that is unlimited love to all of human kind and natural life. That will bring him to wealthness, happiness and peace.

Fertility not stand up by itself only, but fertility will exist if we love and protect the sustain of life.

Fertility is life itself, so that will be die and dry by itself, if we not improve it with love to the weak, and powerless ones, including children and the poors.

Fertility must be enlarged by hard work.

Life can hold fertility by itself. That’s the mystery of life. Brave to live in it’s mystery, it means believe to the power of life.” *** Taken from Javanese culture, local Indonesians values, by Sindhunata, in “Wayang Brayut” Exhibition, at Bentara Budaya, Yogyakarta, Indonesia



I am one of the world’s young people who live in Indonesia. I follow what actual happen in the world that seems become woster and worster everyday. And I am very care to human’s suffer especially in my country, and commonly in the whole world.

Our world grows very dynamically. All of energies, works, efforts, thinking, sciences and technologies are dedicating to human’s wealth, both physique and also spiritually.

But the world’s life, justice and peace are threaten by primordialism, fanaticism, racism, radicalism, and anti-dialogue attitude. Also threaten by attitude, way of thinking and act, and mind set that not give space and chance to humanity, toleration, respect, honor, and love. Those happen caused by sharp differences of interpretation that truly can be dialogued by all side of factions whom conflicting. Those steps actually can build understanding each other. Those conflicts took much victims, not only human’s life, but also materials, civilized systems, one’s or society’s future, vacations, chances and hopes.

Huge natural disaster can take much of victims and lost too. Both caused by pure earth activities, like earth quake, tsunami, volcanic blast, and storm, and also human activities that exploited nature too much, so that very harmful to the natural system. But sustainable human conflict in every ways caused damages, victims and lost that can be sustainable too. And human’s conflict can take bigger amount and longer time of lost.

Cultural and system differences in the world in every ways, shouldn’t be sharpened. Also cannot be a justification of some attack actions by one to another, and force the power and wanting too, even those culture or system do wrong and threatened human’s life.

A lot of people in the world, both collectively and also individually take apart as damaging tools that save damaged systems. They think and believe that every changes, creativities, inventions, initiatives, and reformations to the better condition and future as harmful threats. A lot of men also born without concept and destination of life. They live in unstable and immature systems and mindset collectively.

This world lived by nations that feel enough, satisfied and stopped in the process that truly not finished yet. Because, back again, the world and human life are very dynamic, including in order creating, build and implement the fair and civilized system. The problem of one nation fundamentally is an miniature of the world’s problems. Can fix and solve problems in one nation – until individual level, it means have the ability to fix and solve problems of human kind in the whole world.

The oriental life principles say that the true friendship and brotherhood of international in the world is similar with friendship and brotherhood that built between two men. True friendship an brotherhood do not give instant joys and satisfactions, but give challenge to try, give the true way of thinking, the true destination of life, give positive and introspective value of life. Those must take hard work to realize. True friend can show us our power, wrongness and weakness based on truth. So give us challenge, spirit and chance to fix our wrongness and weakness, to spare and solve problems by ourselves. Based on that, our strong and potential ability can be sharpened. The true friendship not use and exploit each other, to one side satisfaction only and become lost in other side. Those do paradigms must be changed in international relationship.

One side of this world dominated almost every human life’s aspects and needs. This side commonly in wealth and well civilized condition, but cannot be laid that this side has practiced new style of imperialism. Beside dominate in economy, culture and military power aspects, this side also dominate in information aspect that can dominate common thinking and interpretation. The methods of information spreading that unfair and immoral one give huge impact to the world’s political, cultural, and mindset constellation.

The information of one side that dominates the world’s information spreading is become popular, so that become such as a mono-justifying to what happening in the world by now. This world seems using wild-jungle logical thinking : the fastest, the strongest. And the biggest one will win, and will dominate others. The unpopular information that spread by other sides of this world will be wronged, as not tell the truth, although have tell the truth and objectively. So, the high value of democracy become a justifying tools to stress, to eject, to eliminate, and to kill the other side that not have similar way with the dominating side one. The dominating side cannot guarantee the truth of themselves. Truly, democracy also gives fair and dignified way to save and raise the truth.

There do exist the local culture value that give negative affect for human high value development, so it must dismissed from everyday life practice fairly, justify, and elegantly. Outside’s values that have similar way and principle with mindset, spirit and culture of one nation’s society can be implemented, but first must be adapted with local culture. Outside’s values that forced and then can dismissed local values just like that, will bring someone or group of society to an anominity, dehumanization, deoriginalization, disorientation, inferiority complex, and psychologically unstable and immature. Have no positive self-pride that based on true realization of self-dignity and identity.

But forcing mono-interpretation of democracy that can be wrong, by one to others, will affect the sustainable conflicts that happen by now. It will cheat the high value of democracy itself. And it seems will save the anarchy, riot, damage, and finally endangered human’s universal peace. Truth is from, by and for truth itself. Not determined under decision, speculation, prediction, like or dislike, and mono-interpretation by one side.

A lot of people do not have strong self-principles based on self realization say that everybody have right to reach and organize their self-development of dignity, similar like everybody else do the same too. Have believed mindset says that wherever live now, whenever live especially in this moment, whatever plan, however the process run by now, are the best positive-true-original individual life form of oneself in this world.

Therefore, no inferiority and arrogance, sense of the truest or wrong’s one, no ambition to force willing and wanting of ourselves to others, because always base on huge respect to other’s life and rights. Including self acceptance, which are acceptance to our family, friendship, social life, privacy, career, nation, ethnic, life zone, culture, and way of life, mindset and behavior. These are uniquely and the best someone gets and receives of life. So then to be organized, improved, developed, also with absorb the science, reach the skills, find the true ones based on universal truth from other resources also.

Don’t have these attitudes will bring someone become utopist oriented just like promised by inadaptable, and uninterpretable of outside’s values. Outside’s values that clearly not stand up on real local’s condition and history. Outside values that dominating their selfish truth, so that bring to justification that the majority and strongest ones have right to determinate and give other’s life rights limited. A lot of people will manipulate and engineered as the satisfiers, blind loyal, cheater, irresponsibility one, and insensibility one. So it will be dried land for positive creativity, inventions, goodwill, partnership, and matured growth. So at last, again, there will be no development and improvement.

Positive actions, role models, honors, dignity, brevity, kindness, responsibility, honesty, hard work, and love, that based on truth and strong human’s high dignity values, will move a lot of people to do their best they could, so it will bring peace, better life and future.

Democracy is universal values that very open and flexible. But the programs to practice and implement the democracy must be adaptable with local values and wisdoms contextually and suitably. Huge numbers of local values and wisdoms also relevant with truth and high value of whole human’s life.

Threats and cases that already happened and are happening in every nations by now can be precedent for the world peace reconciliation, economic development, human resource development and character building, also interfaith and interethnic-group toleration. A lot of nations have a long way of history of the past that directly impact to the thinking pattern, culture, act, attitude, way of life, planning pattern and individual character of the locals.

So, we can make some evaluations of what we have done, and also hope to make better world’s future. Let us altogether build the health, wealth, maturity, and peace in this world.



Sahabatmu adalah kebutuhan jiwamu yang terpenuhi. Dia lah ladang hatimu, yang dengan kasih kautaburi dan kau pungut buahnya penuh rasa terimakasih. Kau menghampirinya dikala hati gersang kelaparan, dan mencarinya dikala jiwa membutuhkan kedamaian. Janganlah ada tujuan lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya jiwa. (Kahlil Gibran)

SOS Hutan Lindung Nusantara !!


Peraturan Pemerintah (PP) No. 2/ 2008 :

Cermin Ke”mumet”an Pemerintah dalam Upaya Mengisi Pundi-Pundinya?

Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 2 tahun 2008 tentang Pemanfaatan Hutan Lindung, menyebutkan bahwa akan ada penarikan pajak bagi 13 perusahaan (HPH?) yang beroperasi di kawasan hutan yang jelas-jelas dilindungi dan diatur oleh pemerintah sendiri sebelumnya.

Satu lagi contoh ketidakkonsistenan pemerintah dalam menegakkan peraturan yang ditetapkannya sendiri. Diperparah dengan sikap pemerintah yang isinya orang-orang cerdas namun sepertinya tidak pernah mau belajar dari kasus-kasus pemanfaatan hutan secara serakah dan liar. Masih ingat Adelin Lis yang kabur setelah divonis bebas pengadilan dari tuntutan melakukan perampokan kayu di hutan-hutan Tapanuli, Sumatra Utara? Entah sandiwara dan politik apalagi yang diperbuat pemerintah. Inilah perlakuan aparat yang begitu memanjakan para penjahat lingkungan, sekaligus menindas dan menyengsarakan rakyatnya sendiri.

Namun di sisi lain, ini semakin membuktikan bahwa hukum tunduk oleh uang. Yang jelas para pengusaha HPH dan para perampok alam Indonesia lainnya, saat ini sedang berfoya-foya menikmati hasil rampokannya dengan mengorbankan masyarakat yang bodoh sebagai tumbal, dan aparat yang lembek sebagai budaknya.

Jika diantara Anda yang tertarik untuk membantu pemerintah untuk memenuhi pundi-pundi uangnya dengan menyewa hutan lindung kita supaya tetap terlindung Anda bisa menghubungi Bapak Chalid Muhamad dari WALHI Pusat di nomor telepon 081319966998. Sumbangan Anda sebesar Rp 1000,00 (seribu rupiah) bisa dimanfaatkan untuk melindungi hutan lindung (yang seharuanya memang dilindungi, tapi malah berpotensi akan diobrak-abrik) seluas sekitar 3 (tiga) meter persegi. Hal ini untuk menggantikan peran para pengusaha yang sudah pasti akan mengobrak-abrik hutan lindung sesuka hati, karena merasa sudah bisa membayar pajak pada pemerintah.

MARI KITA SELAMATKAN HUTAN LINDUNG KITA DARI SKENARIO DAGELAN YANG BERBAHAYA ANAK CUCU KITA BIKINAN PARA PENJAHAT LINGKUNGAN !!



Anda adalah produk dari lingkungan anda. Maka, pilihlah lingkungan yang terbaik bagi pengembangan anda menuju tujuan-tujuan anda.
Analisalah hidup anda melalui lingkungan anda. Apakah hal-hal yang disekitar anda membantu anda menuju sukses atau malah menahan anda? (W. Clement Stone)

MEMERDEKAKAN EKONOMI RAKYAT (II)


(bagian kedua dari dua tulisan)

Pembudayaan usaha mandiri rakyat berwawasan lingkungan hidup menuju swasembada produk dan jasa

Dengan berbagai permasalahan yang menimpa perekonomian kita, mulai sektor perbankan, industri besar, perdagangan, koperasi, sampai pelaku UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah), maka diperlukan suatu usaha untuk memulihkan dan memajukannya. UMKM adalah bentuk ekonomi rakyat yang menjadi kekhasan perekonomian Indonesia. Dengan keunggulannya dalam semangat kekeluargaan dan kegotongroyongannya, UMKM mampu bertahan menjalani krisis moneter dan menjadi penyelamat perekonomian nasional.

Namun UMKM seringkali terganjal dalam berbagai rintangan, antara lain sistem perekonomian kita yang hanya berpihak pada investasi besar dan pengusaha besar; proses birokrasi pengajuan pinjaman yang berbelit; pangsa pasar yang berubah akibat berbagai faktor, baik intrinsik (selera pasar, trend yang berlaku) maupun ekstrinsik (keadaan sosial politik), serta faktor dari diri pelaku UMKM itu sendiri ( motivasi, keuletan, tingkat kemampuan).

Basis suatu bangsa terletak pada tersedianya pangan dan energi secara berkecukupan, serta dapat diandalkan untuk jangka waktu yang lama dan berkelanjutan. Untuk mendukung hal tersebut, diperlukan sumber daya manusia yang memadai dan terampil untuk memproduksi pangan dan energi. Selain itu juga diperlukan sumber daya manusia yang memadai dan terampil untuk menjaga lingkungan hidup sebagai sandaran utama kehidupan manusia dan sebagai prasyarat utama dapat terproduksinya pangan dan energi secara berkecukupan.

Indonesia memang negeri yang kaya. Ini tercermin dari kekayaan alam hayatinya. Kalau tidak percaya, coba telitilah berapa jumlah organisme dan spesies hidup dalam sepetak tanah berukuran 1 (satu) meter persegi di dalam hutan tropis kita. Maka jumlahnya bisa belasan bahkan puluhan jenis. Coba bandingkan dengan sepetak tanah berukuran sama di Amerika Serikat atau Jepang misalnya, tentu kekayaan spesiesnya tidak ada sepersepuluhnya daripada hutan kita. Belum kekayaan lautnya, bila kita teliti. Ini adalah bukti kekayaan alam hayati kita.

Namun yang aneh, mengapa di alam yang kaya, rakyat kita hidup miskin dan tidak bisa memenuhi kebutuhan pangannya sendiri? Karena cara pengelolaan dan manajemennya yang salah kaprah. Terlalu takjub dan heran melihat kemajuan bangsa lain, namun tidak mau berusaha. Maunya langsung jadi, sehingga diperbanyaklah impor, supaya kita “kelihatan” sama maju dan modernnya. Namun, sadar atau tidak, itu sebenarnya tindakan bunuh diri.

Maka diperlukan suatu langkah untuk membudayakan suatu usaha utuk mandiri dalam berekonomi sambil dan sekaligus dalam bingkai upaya menjaga kelestarian dan keseimbangan alam. Karena bagaimanapun, berbagai usaha dan hasil yang dicapai manusia tidak akan berlangsung lama, bahkan akan menuai kerugian di masa depan jika keberhasilan itu berdiri di atas kerusakan lingkungan sebagai akibat dan efek samping dari usaha manusia.

Kearifan lokal sebagai sendi dan cara berpenghidupan kehidupan rakyat Indonesia haruslah mendapatkan tempat kembali, setelah digeser oleh kearifan pemerintah yang dipaksakan yang terbukti hanya menguntungkan sesaat namun sesudah itu merugikan secara berkelanjutan. Kearifan lokal masyarakat dalam mengelola kekayaan alamnya untuk mencukupi kebutuhan hidupnya terbukti tahan uji, bahkan bisa menjadi rujukan segala kebijakan pemerintah.

Lihatlah sekarang, berbagai usaha pertanian berbasis dan berlabel organik adalah produk perwujudan dan penduplikasian kearifan lokal, dengan sepenuhnya bertumpu pada sumber-sumber alami dalam sistem produksinya. Sudah barang tentu ini alami, ramah lingkungan, sehat, dan menguntungkan secara berkelanjutan. Dari basis alami yang kuat terpatri dalam masyarakat akan menurunkan produk-produk jasa yang bertumpu dari alam setempat, serta menghasilkan pula suatu budaya masyarakat yang berbasis alam dan kearifan lokal.


.


Belajarlah dari kesalahan orang lain. Anda tak dapat hidup cukup lama untuk melakukan semua kesalahan itu sendiri.
(Martin Vanbee)