Kami Melayani Anda dalam Desain / We Serve You in Building Design

Kami Melayani Anda dalam Desain / We Serve You in Building Design

Formulir Pemesanan Desain (Silakan Diisi) / Order Form (Please Fill It)

Contact Form

Name*
Email*
Subject*
Message*
Image Verification
captcha
Please enter the text from the image:
[Refresh Image][What's This?]

Sabtu, 31 Januari 2009

Terima Kasih Yogyakarta : Soeasana Djogja Terkini

Ini adalah foto-foto suasana Yogyakarta yang dikenal dengan kesahajaannya, keharmonisan dan kehangatan komunikasinya, semangat kejuangannya, semangat menjaga tradisi dan etos kerjanya yang tinggi walaupun dibalut suasana "santai". Namun di era yang katanya modern dan serba canggih ini, Yogyakarta tak luput untuk dinamis mengikuti perkembangan jaman, dengan tetap menjaga keasliannya. Maka jadilah suasana tradisi dan modernisasi terlihat bersaing ketat dalam derap kehiduipan masyarakatnya. simak foto-fotonya di bawah ini, dan interpretasikan lah oleh Anda sendiri.


Foto : Semangat dan Kemesraan di Hari Senja
Foto : Menunggu Penghidupan 2


Foto : Menunggu Penghidupan


Foto : Lintas Generasi


Foto : Ketatnya Persaingan Hidup


Foto : Di Bawah Sang Saka


Foto : Berteduh


Foto : Ads Everywhere

Foto : Djogja : Never Ending Ads!


Terima kasih, Yogyakarta!
Kesahajaanmu yang hangat menyapa, giatmu bekerja, gigihmu berjuang, dan penghormatanmu akan luhurnya warisan leluhur sangat berkesan dan membentuk karakter dan pribadiku.
Terima kasih, Yogyakarta! Kini aku pergi darimu. Dirimu seperti seorang ayah dan ibu yang dengan cinta dan setia mendidikku, hingga tiba saatnya ketika si anak hendak meninggalkannya, maka akan melepasnya dengan doa dan kebanggaan, karena berarti telah berhasil mendidik, mendewasakan dan memanusiakan.

Terima Kasih Yogyakarta : Heritage of Kraton

Ini adalah foto-foto suasana di dalam lingkungan Kraton Yogyakarta. Silakan disimak.


Foto : Tempaan Alam


Foto : Ruang Terhormat yang Menenteramkan


Foto : Penjaga Istana


Foto : Modernisasi di Jantung Tradisi


Foto : Melintas Jaman
Foto : Generasi Penerus Warisan Luhur


Foto : Bertahan


Foto : Artefak Bencana

Terima Kasih Yogyakarta : The Last Rice Fields

Foto : The Last Rice Field
Merekam suasana sawah di sebelah timur Hotel Ambarrukmo (almarhum), Jalan Solo, Yogyakarta. Ini adalah satu-satunya sawah yang masih tersisa di sepanjang Jalan Solo di tengah deru alih fungsi lahan secara membabi buta di sekitar Yogyakarta.


Foto : A Bridge to the Last Rice Field
Merekam suasana sawah terakhir bernuansa pedesaan yang masih tersisa. Sawah ini padahal sangat subur, dan warisan ratusan tahun sejak jaman kerajaan Mataram. Sawah ini dikepung proyek perumahan yang secara gencar dibangun di sekitar kawasan Catur Tunggal, di sebelah utara Hotel Ambarrukmo. Pembangunan secara serampangan tanpa memperhatikan keseimbangan lingkungan, membuat permasalahan baru, seperti limpahan air hujan yang tak tertampung drainase, sehingga mengakibatkan jalan menjadi sungai dadakan. Ternyata Yogya yang julukannya kota pelajar, tidak mencerminkan "keterpelajarannya" dalam hal tata ruang dan penanganan lingkungan hidup. Dan tidak dapat mempertahankan budaya pertaniannya karena tergoda kenyamanan semu dan duit.

Jumat, 23 Januari 2009

Heal The World

Heal The World (Menyembuhkan Dunia)

Untuk menghentikan perang, cara terbaiknya adalah dengan berhenti perang.

Perang bukan hanya merugikan secara jiwa maupun materiil, namun juga akan menimbulkan dendam. Dendam yang berkepanjangan akibat perang akan membawa masalah baru yang akan terus melestarikan konflik.

Segala sesuatu akan lebih jelas terlihat jika dikontraskan.

Memenangkan kehidupan dengan jiwa yang baik akan lebih bernilai dari pada memenangkan perang dengan kekuatan fisik.

Menemukenali apa yang membuat jiwa Anda terenyuh dari kondisi sekitar Anda. Misalnya terenyuh melihat orang miskin yang disingkirkan, atau orang yang pendidikannya terbatas ditipu. Maka bersyukurlah, karena keterenyuhan Anda adalah tanda Anda adalah orang yang berjiwa dan berhati baik.

Kita baru akan merasakan sedihnya dan sengsaranya keadaan dalam kondisi perang, ketika kita sendirilah yang berada di dalam situasi itu, dan akan bertambah sedih jika ada yang berkata, ”Perang kan di sana, biarkan saja mereka saling berperang!”, ”Nggak usah membantu, karena jaraknya terlalu jauh dari kita.” atau, ”Lagian kita sendiri juga masih banyak masalah kok!”

Batasan adalah petunjuk jalan bagi yang baik, di mana di dalam batas itu dapat berlaku sebebas-bebasnya. Bahkan perang pun ada batas dan aturan mainnya.

Maka sangat menyengsarakan jika perang dilakukan dengan tidak mengenal batas, karena sasaran serangnya adalah wanita dan anak-anak yang merupakan pihak yang paling lemah.

Banyak orang yang menderita di sekitar kita. Tapi itu tergantung pada kesadaran kita. Apakah menempatkan penderitaan mereka dalam kesadaran kita, sehingga kita bisa melakukan sesuatu untuk membantu mereka. Maka, apa yang terjadi pada sesama yang menderita, yang dinilai nantinya adalah kita, apakah menyadari penderitaan mereka, dan mau membantu atau tidak. Yang dinilai juga adalah kekuatan kita untuk terus berharapan baik, untuk melestarikan sifat Tuhan yang Maha Penyayang.

Berilah makanan yang baik untuk bagian yang baik di hati kita (kasih, iman, harapan), dari pada memberikan makan yang untuk bagian yang jahat di hati kita (iri, picik, curang). Untuk apa menonton atau membaca gosip misalnya, jika itu tidak menjadikan kita sebagai manajer? Maka arahkan diri untuk lebih tertarik pada keberhasilan. Bandingkan apa yang Anda lakukan dengan apa yang ingin Anda capai. Sudah sesuaikah?

”Menjadikan generasi penerus sebagai generasi pecinta perdamaian.”

Guru dan orang tua mengajari anak-anak melalui jendela dan sudut pandangnya. Maka dalam mengajari anak-anak, terlebih dulu jadikan diri Anda (sebagai guru atau orang tua) sebagai bukti terdekat keindahan dan kedamaian dunia.

Jendela kecil di mata anak-anak mengambil gambar dari jendela besar guru dan orang tuanya.

”Menanggapi kondisi dunia hari ini yang penuh pertikaian.”

Keinginan kita hari ini adalah uang muka bagi kehidupan kita di masa depan. Masa lalu yang salah tidak boleh menghalangi Anda untuk berbuat baik sekarang. Masa lalu bukanlah lagi sebuah potensi. Namun masa sekaranglah adalah potensi bagi masa depan. Bersyukurlah atas apa pun dan bagaimanapun masa lalu Anda dengan lebih melayani sesama pada hari ini.

Tanpa memimpikan kehidupan yang baik di masa depan, kita sesungguhnya sedang menunjukkan ketidaktertarikan terhadap kehidupan kita dengan sepenuhnya.

”Menghadapi trauma akibat konflik yang telah berlalu.”

Apa pun apa pun yang terjadi, baik maupun buruk, kalau dilihat dari sudut pandang yang baik adalah kesempatan untuk memperbaiki diri. Seperti bola basket, yang dibanting akan melenting ke atas. Sediakan waktu tersendiri untuk bersedih atas kesusahan atau trauma yang menimpa, lalu doronglah diri untuk melakukan sendiri penaikan kita.

Seringkali kita terlalu banyak berdoa, sehingga lupa bekerja. Kerja adalah sumbangan diri kita bagi dunia supaya keadaan menjadi lebih baik, sesuai harapan dalam doa kita.

Jika jawaban dari doa Anda adalah sebuah langkah tindakan supaya Anda menemui seseorang, temuilah dia. Karena melaluinya jawaban doa Anda, misalnya berupa rejeki ”disalurkan”. Tapi Anda bilang, ” Tapi saya nggak suka sama dia!” : ikhlaslah! Karena rejeki kita disalurkan melalui orang yang tidak kita sukai, supaya kita menambah kualitas ketulusan dan berbesar hati untuk menemuinya.

Yakinlah pada kebaikan dan berpihaklah pada kebaikan. Jangan ragukan kebaikan. Karena hal itulah yang memudahkan kita untuk mencapai kebaikan. Hal-hal yang menakjubkan mudah datang kepada orang yang gelisah karena keinginannya untuk mengubah keadaan di mana dia berada sekarang.

”Bagaimana jika satu tempat orang giat berusaha untuk menciptakan kebaikan, namun di tempat lain orang sibuk merusak.”

Salah satu faktor yang melestarikan keburukan dunia, adalah keyakinan akan keburukan dunia yang tak akan pernah berhenti / tidak akan pernah bisa dihentikan oleh kita. Keyakinan buruk itulah yang ikut menyumbang terjadinya hal-hal buruk di dunia.

Yang buruk tidak akan menghasilkan yang baik, jika yang buruk tidak berubah menjadi baik. Karena yang baik tentu selalu akan menghasilkan yang baik.

Damai hanya dapat dicapai dengan kedamaian. Bayi yang luka dan tewas karena lambatnya pertolongan dan lambatnya perdamaian, maka orang yang ikut melambatkan pertolongan dan melambatkan usaha mencapai perdamaian ikut serta melukai dan membunuh bayi itu!

”Berdamai dengan diri sendiri akan membawa ketenangan diri, tapi di luar diri kita banyak permasalahan hidup yang menekan (ketidakadilan, penindasan, kemunafikan, kriminal).”

Kita adalah bangsa yang anti perang, tapi tidak anti untuk membangun kekuatan yang memberikan kemampuan untuk mencegah penistaan dan tantangan untuk berperang dari pihak lain yang menjadi lawan.

Janganlah mengkritik orang kalau kita sendiri tidak memakai cara-cara yang lebih baik daripada pihak yang kita kritik. Jangan menghujat iman orang lain yang berbeda, karena itu akan berbalik menghujat rendahnya kadar keimanan dan kebodohan kita sendiri.

Suatu kepimpinan akan dinilai dari masalah yang timbul di bawah kepemimpinan itu. Jika kepemimpinannya baik dan cerdas, maka masalah yang timbul itu berbobot dan berkelas. Jika kepemimpinannya buruk, masalah yang timbul adalah masalah yang remeh-remeh yang biasanya adalah masalah kebutuhan primer rakyat yang tidak bisa dipenuhi negara, misalnya. Atau masalah rendahnya kesejahteraan karyawan dalam suatu perusahaan.

”Bagaimana mungkin orang yang beriman berdamai dengan orang yang tidak beriman?”

Justru karena beriman, seseorang harus berlaku baik, supaya orang yang tidak beriman mengerti indahnya menjadi orang yang beriman itu. Dan mengerti indahnya perdamaian karena selalu bersyukur dan berbudi pekerti.

Akan tetapi untuk koreksi diri : banyak orang tidak beriman setelah melihat tingkah laku dan pikiran orang yang beriman, menjadi tidak melihat perlunya beriman!

Apakah berhenti berperang akan meninggalkan trauma? Apakah menahan diri akan menyiksa diri?

Jika ”an eye for an eye” atau ”mata ganti mata” diterapkan, maka dunia tidak akan punya mata lagi. Demikiankah cara kita bersyukur atas terciptanya diri kita olehNya?

Perang jika dilawan dengan perang, akan menimbulkan luka dan trauma. Itu bisa berlangsung hingga puluhan bahkan ribuan tahun sampai lintas generasi mendatang. dan keinginan balas dendam. Orang yang terluka dan begitu mendendam karena perang, sulit untuk dihentikan kemauannya untuk membalas dendam. Sulit dihentikan kesungguhannya untuk berperang. Maka, jangan membangun atau melahirkan orang-orang baru dengan kemauan dan kesungguhan berperang lebih banyak lagi karena ingin balas dendam.

Bangunlah kehidupan yang baik dengan menyebabkan kehidupan yang baik pada orang lain. Dan itu adalah dasar dari semua kekuatan untuk memenangkan kepemimpinan hidup ini.

Perdamaian dengan pemuliaan hidup orang lain sesama oleh kita. Setiap jiwa yang kita temui adalah sebagai jalan Tuhan untuk memuliakan kita sendiri dengan melayani mereka.

Kita disebut bernilai bukan karena kemenangan atau kekalahan kita dalam peperangan atau politik, tetapi karena kontribusi kita kepada jiwa kemanusiaan. Jalan raya menuju keindahan hidup kita adalah pengindahan kehidupan orang lain. Semakin besar keindahan kehidupan yang kita sebabkan kepada semakin banyak orang, akan semakin indah hidup kita.

Untuk mencapai perubahan besar, Anda tidak membutuhkan pengertian besar. Sejumput pengertian kecil yang segera Anda kuatkan dengan tindakan yang bersungguh-sungguh, akan menguatkan Anda untuk memindahkan gunung.

Alihkan kekhawatiran kita terhadap diri kita sendiri kepada orang lain.

Khawatirkanlah untuk kebaikan sesama.

Berpikirlah untuk kebaikan sesama.

Bekerjalah untuk kebaikan sesama.

Maka kita akan menikmati mudahnya kita untuk berhak atas baiknya kehidupan kita sendiri, lalu perhatikan apa yang terjadi!

Theme song : Heal The World by Michael Jackson, cover version by Jamaican Café accapela vocal group.

Mario Teguh Golden Ways, Metro TV, 180109

Senin, 12 Januari 2009

Tombo Ati (Obat Hati)

Ringkasan dari acara Mario Teguh Golden Ways, Metro TV, 11 Januari 2009


Tahun lalu mungkin adalah masa ketika kita banyak menunda melakukan hal yang sebaiknya dilakukan.

Hati mempunyai kemampuan untuk mengobati diri jika kita ikhlas.

Hati kita tahu apa yang diinginkannya, tapi kita yang sering membatalkannya dengan apa yang kita pikirkan.

Pada tahun baru, bukan harinya yang kita rayakan, tapi merayakan pribadi baru yang menjadi lebih bersungguh-sungguh.

Jika kita hanya merayakan harinya, kita akan memasuki hari yang baru di tahun yang baru dengan kemampuan dan semangat yang lama.

Transisi mental : berlaku baru. Kita awali dengan kesalahan, maka akan diakhiri dengan penyesalan. Bahkan yang dimulai dengan baik dan mulia pun juga diuji. Memulai dengan baik, setia pada proses yang baik pula. Dan setelah berhasil, bersyukur.

Hati mempunyai mekanisme tersendiri yang selalu bergerak menuju kepada kedamaian.

Cara untuk mengerti bahwa apa yang kita lakukan salah, adalah dengan menguji dengan kedamaian. Apakah yang kita alkukan akan membawa kedamaian bagi diri kita maupun sesama?

Hati mempunyai alarm untuk memperingatkan kita jika kita berbuat kesalahan. Namun alarm dalam hati itu dapat membusuk dan mati jika kita sering membiarkannya / cuek dengan peringatannya.

Orang yang jahat adalah orang baik yang belum mengerti. Bantulah mereka mencapai tempat yang baik, yaitu menuju kedamaian.

Pentingnya menjaga hati :

Hati menetukan digunakannya kekuatan. Memungkinkan seseorang yang lemah menjadi kuat. Dalam banyak kasus memungkinkan orang yang kecil fisiknya untuk memimpin sebuah bangsa.

Maka hati haruslah dipelihara, karena kondisi hati sangat fluktuatif dari waktu ke waktu. Hati dipelihara dengan memperbaharui bidikan / fokus target kita setiap saat.

Ada yang mengatakan bahwa orang yang bertindak dengan berani itu ”keterlaluan” dan dianggap ”terlalu berani”. Biasanya yang mengatakan seperti itu adalah orang yang tidak/kurang berani. Orang yang demikianlah yang sebenarnya tak punya hati. Karena kehidupan adalah proses memberanikan diri dengan memakai kekuatan dalam hati kita.

Cara melihat rencana Tuhan adalah dnegan melihat kebaikannya. Tuhan sebenarnya sangat memuliakan kita dengan mengajak kita untuk mengikuti proses menuju kemuliaanNya. Maka selalulah memilih dan memutuskan yang terbaik. Jika kita berhenti berharap, maka kita sedang membatalkan sifat Tuhan yang Maha Pengasih dalam diri kita.

Supaya matang dalam berpikir dan bertindak, sehingga menciptakan tata rasa, tata pikir dan tata tindak dalam hidup. Pertama-tama ikhlaskan bahwa kita sedang dalam proses bertumbuh. Dalam pertumbuhan ini, tertawalah dengan penuh ketulusan ketika kita melakukan kesalahan, dan dengan tulus pula segeralah memperbaikinya. Menghindari kesalahan berarti kita tidak mau bertumbuh. Dengan menghindari kesalahan, akan berarti juga kita menghindar untuk mengetahui dan melakukan apa yang benar.

Jika kita menasehatkan suatu hal pada seseorang, pastikan kita sudah punya pengalaman tentang yang kita nasehatkan. Jika belum punya pengalaman, tapi kita bisa memberikan nasehat yang baik, maka kita akan dikondisikan untuk mengalaminya yang kita nasehatkan.

Sesama kita adalah cermin. Termasuk lawan/ musuh kita, mereka mengabdikan hidup mereka untuk mencari-cari kesalahan kita, dan akan memberikan masukan yang paling jujur tentang kekurangan kita.

Tujuan budi pekerti ada dua, yaitu untuk tujuan kemanusiaan dan tujuan ketuhanan. Tujuan kemanusiaan adalah supaya kita menjadi pribadi yang berguna bagi sesama. Tujuan ketuhanan supaya kita menjadi kekasih Tuhan, sehingga apa yang tidak dimungkinkan bagi kita jika menjadi salah satu kekasihNya? Maka yang dimungkinkan Tuhan itu dapat berguna bagi sesama.

Jika kita menjadi kekasih Tuhan, maka dalam melakukan segala sesuatu, akan tertanam bahwa yang kita lakukan diawali dengan nama Tuhan, kita lakukan karena Tuhan dan untuk Tuhan. Maka kita akan mendapatkan banyak hal yang dimilikiNya, karena kita masuk ke dalam ring 1 (lingkaran terdalam) kuasaNya, yang akan menghadiahi kita kebaikan dan kedamaian.

Besarkan anak-anak kita dengan membesarkan hati mereka. Besarkan diri kita dengan membesarkan hati kita. Hati tidak ada yang kuat kalau setiap hari hanya diisi ketakutan atau ditakut-takuti oleh kesuraman masa depan yang sebenarnya belum pasti.

Cara mengingatkan bahwa kita ini sebenarnya punya hati, lho...

Pandailah merasa, melihat dengan pikiran, dan mendengar dengan hati. Targetnya adalah jadikan sesama menjadi lebih baik setelah bertemu Anda.

Sikap ikhlas dan pamrih di masa kini ketika memperhitungkan bahwa hidup juga ada biayanya (There’s no free lunch).

Tuhan mempunyaisistem approval tersendiri. Jika kita mempunyai niat untuk melakukan hal yang baik dan berguna walaupun gak punya modal, tetap mulailah dengan langkah awal, percayakan modal itu pada Tuhan. Percaya pada penyertaan Tuhan dan percaya Tuhan akan mencukupkan adalah modal utama.

Mau memberi sesama tapi gak punya apa yang akan diberikan, Tuhan akan memberikan untuk kita berikan pada sesama.

Pamrih terimdah adalah kecintaan Tuhan pada kita. Soal kita bersyukur dan berterima kasih, tergantung pendidikan orangtua kita masing-masing.

Penampilan diri yang terindah adalah penampilan yang berasal dari hati yang terindah.

Hati vs logika, haruskah mengikuti kata hati?

Dalam menghadapi suatu masalah untuk kemudian harus memutuskan suatu tindakan, kita harus membuat beberapa pertimbangan. Namun pertimbangan berasal dari pikiran kita yang dibatasi oleh pengetahuan, sumber daya, organisani, keluarga / rekan kita.

Cara pertimbangan yang lengkap adalah dengan RASA. Supaya kita mempunyai ketepatan keputusan, latihlah rasa, bukan pikiran.

Percayalah pada hati, tempat di mana Tuhan melatih Anda.

Lorong pencerahan dari Tuhan akan terbuka lebar melalui hati yang peka dan terasah.

Gunakan keikhlasan sebagai kekuatan pekerjaan Anda, dan gunakan kekuatan keberserahan sebagai kekuatan penantian hasil Anda, lalu perhatikan apa yang terjadi.