Hero

”Jangan sok pahlawan kamu!” Itulah kata-kata orang yang malas berusaha. Menghadapi orang seperti itu, katakan dalam hati, ”Kita sama-sama menunggu, tapi siapakah yang lebih giat berusaha dalam proses penantian ini? Kita sama-sama menunggu, tapi aku lebih sibuk berusaha.” Usaha untuk melayani, usaha untuk menghebatkan sesama dengan menggunakan potensi dan sumber daya biasa, dekat dan mudah diperoleh di sekitar kita.

Semangat adalah target bergerak, maka semangat selalu harus kita perbaharui. Karenanya pula, kita harus punya target bergerak, sehingga diri kita terpacu untuk selalu dinamis dalam berusaha. Yang membuat berhasil bukanlah kemampuan semata, namun lebih pada penggunaan kemampuan dan kepandaian kita secara penuh ketulusan dan penuh semangat.

Sebagai manusia, kita dituntut untuk menggunakan kualitas terberi dari Tuhan yang sudah ada dalam diri kita dengan bekerja keras. Hal ini sebagai bentuk rasa syukur kita. Karena tidak ada hidup yang setengah-setengah. Hidup ini hanya memberikan dua pilihan : terlibat sepenuhnya atau tidak sama sekali. Kalau tidak mau terlibat akan dipaksa terlibat oleh sesama yang sedang melibatkan diri dengan antusias, tulus dan gembira. Yang tidak mau terlibat akan dilibatkan sebagai pengekor, pendamping, pengawal, pelengkap penderita, bahkan si penderita kesengsaraan itu sendiri. Inilah konsekuensi termasuk bagi mereka yang memilih untuk tidak memilih. Maka pilihlah jalan hidup Anda, selamilah dan gapailah keberhasilan pada jalan yang dipilih. Karena keberhasilan adalah hak Anda pula.

Pahlawan sejati tidak butuh pengakuan. Maka jika kita melakukan kebaikan, jangan meletihkan diri untuk dipuji! Pahlawan sejati tidak dikenal ketika dia berhasil melakukan perbaikan bagi sesamanya. Tolok ukurnya adalah ketika sesama yang dia sejahterakan atau dia perbaiki hidupnya berkata, ”Ini semua karena usahaku sendiri.” Padahal orang bermental pahlawan inilah yang membawa situasi dan mengkondisikan supaya kesejahteraan dan perbaikan itu terwujud bagi sesamanya.

Resiko terbear kita semua adalah menjadi orang biasa. Maka bangunlah kepantasan diri supaya menjadi orang yang luar biasa. Kondisikan Anda untuk mebangun kepantasan diri.

Pahlawan ada dua : menjadi pahlawan karena terdesak situasi yang memaksanya bertindak penuh jiwa kepahlawanan, atau menjadi pahlawan karena mengubah situasi dunia pada jamannya! Yang penting adalah mentalnya. Mental untuk maju dan bermanfaat bagi sebaik-baiknya perbaikan sesamanya. Mohon pada Tuhan untuk mencukupkan kekurangan-kekurangan kita, sehingga kita dapat melakukan pelayanan secara lebih baik bagi sesama di tengah segala keterbatasan kita.

Orang tua adalah pahlawan bagi keluarganya. Tolok ukurnya bukanlah uang, namun sinar berbinar pada anak dan istrinya ketika menyambutnya sepulang kerja.

Pemimpin dan kemampuan berbicara. Kata-kata yang diucapkan oleh bibir adalah gudangnya arti. Kata-kata yang diucapkan menjadi baik dan bermakna, jika mendorong perbaikan, meningkatkan pelayanan dan kesejahteraan bagi sesama. Pemimpin yang baik dan berwibawa akan mengarahkan yang dipimpinnya dengan kata-katanya yang diucapkannya yang bersumber dari integritas dirinya. Pengaruh yang baik akan disebarkan dengan kata-kata yang baik pula.

Pilih mana : orang yang meyakinkan kita bahwa ia memang orang hebat, ataukah orang yang membuat kita yakin bahwa kita pun bisa dan pantas menjadi orang hebat?

Jangan lihat orang hanya sebagai wadah kosong tak bermakna. Lihatlah orang sebagai wadah yang penuh oleh harapan dan cita-cita besarnya. Berpihaklah selalu pada harapan-harapan baik sesama, dan lihatlah perbedaannya.

Disarikan dari acara Mario Teguh ”Golden Ways”, Metro TV, 9-11-08. Ditulis kembali dengan perubahan dan peringkasan seperlunya menurut penyusun (N. wongndesonensis).

Komentar

contact us on whatsapp

contact us on whatsapp

follow our social media

Postingan Populer