Kami Melayani Anda dalam Desain / We Serve You in Building Design

Kami Melayani Anda dalam Desain / We Serve You in Building Design

Formulir Pemesanan Desain (Silakan Diisi) / Order Form (Please Fill It)

Contact Form

Name*
Email*
Subject*
Message*
Image Verification
captcha
Please enter the text from the image:
[Refresh Image][What's This?]

Rabu, 12 November 2008

Mengenang Perintis Kemerdekaan : Pemberontakan Kapal 7, tahun 1930-an

Kapal 7 adalah salah satu armada kapal perang milik pemerintah kolonial Kerajaan Belanda yang dioperasikan di perairan Nusantara pada tahun 1930-an, sebelum Perang Dunia kedua. Dikomandani oleh tentara AL Belanda, kapal ini diawaki sebagian besar oleh para pemuda pribumi dari seluruh Nusantara. Dalam memperingati hari Pahlawan tahun ini, penyusun blog ini mengangkat kisah pemberontakan awak Kapal 7 yang didapatkan secara lisan dari keluarga secara ringkas.

Karena kekurangan tenaga untuk menjadi tentara dari negerinya sendiri, maka pemerintah kolonial Belanda memanggil warga pribumi di tanah jajahannya ini sebagai tentara yang kelak menjadi awak kapal, bergabung dengan Angkatan Laut Kerajaan Belanda. Hal ini seiring dengan politik etis yang memberikan kesempatan pemuda pribumi menempuh pendidikan tinggi. Ini juga menjadi kesempatan para pemuda pribumi mengenal teknologi modern pada masa itu, belajar menggunakan persenjataan, sekaligus belajar mengembangkan taktik peperangan.

Maka jadilah, para pemuda pribumi dari seantero Nusantara bergabung menjadi tentara angkatan laut Belanda. Menjalani berbagai macam pendidikan dan pelatihan, membuat para pemuda pribumi semakin pandai, cakap dan terampil. Yang tak boleh dilupakan adalah semakin membaranya semangat persatuan dan nasionalisme antara mereka karena rasa senasib, seiring masih segarnya pernyataan Sumpah Pemuda beberapa tahun sebelumnya.

Kapal-kapal perang itu ditugaskan untuk mengamankan wilayah laut Nusantara dari gangguan perompak, mengamankan jalur perdagangan, dan untuk menumpas pemberontakan pribumi di berbagai tempat. Namun semakin lama berada di bawah naungan AL Belanda, para tentara pribumi ini semakin gerah dan terbuka matanya melihat perlakuan kejam para penjajah terhadap rakyat sebangsanya, pemerasan terhadap hasil bumi, dan penumpasan pemberontakan pribumi yang tak kenal belas kasihan.

Dengan didorongkan tekad mengusir penjajah, diperkuat oleh rasa persatuan dan nasionalisme yang semakin solid, serta didukung keterampilan teknis dan strategi perang yang semakin matang, maka para tentara pribumi yang mengawaki Kapal 7 melakukan pembelotan dengan berusaha mengambil alih kemudi dan kendali kapal itu. Setelah berhasil mengambil alih, maka segala kekuatan personel dan persenjataan dikerahkan untuk menyerang sasaran, yaitu kapal-kapal perang lainnya. Beberapa kapal Belanda berhasil ditenggelamkan.

Namun Belanda dengan segera mengetahui pembelotan itu, dan dengan segera pula menyerang balik. Setelah dilakukan pengejaran, akhirnya kapal 7 berhasil dihancurkan setelah diserang oleh beberapa kapal perang Belanda yang lain. Sebagian tentara pribumi tewas, dan sebagian lainnya berhasil meloloskan diri, namun sebagian yang lain tertangkap. Yang tertangkap beberapa yang dianggap sebagai penggeraknya dihukum mati, sedangkan yang lain dibuang ke Boven Digul, Papua, bergabung dengan para tahanan politik lainnya.

Ketika Belanda menyerah pada Jepang, para eks tentara Kapal 7 bergabung dengan pasukan Jepang. Pada masa perang kemerdekaan, setelah Proklamasi, para eks tentara kapal 7 turut serta pula berperang. Pengalaman, siasat dan keterampilan mereka sangat membantu di medan pertempuran. Setelah pengakuan kedaulatan, para eks tentara kapal 7 banyak yang bergabung menjadi TNI, namun ada pula yang menjalankan tugas-tugas sipil, seperti guru dan pegawai negeri. Presiden Soekarno memberi kehormatan dengan memberikan anugerah sebagai Perintis Kemerdekaan bagi para eks tentara Kapal 7. Dan berhak mendapatkan tunjangan pemerintah, dan diundang untuk hadir dalam upacara memperingati detik-detik Proklamasi setiap 17 Agustus di Istana Merdeka Jakarta.

Kisah ini ditulis menurut tuturan keluarga, secara khusus dipersembahkan untuk menghormati kakek penulis yang menjadi salah satu eks tentara Kapal 7. Beliau menjadi salah satu yang dibuang ke Boven Digul, Papua. Terakhir menjadi seorang guru SMP yang berjarak sekitar 5 km dari rumahnya. Beliau meninggal dunia pada 1987, ketika penulis masih sangat kecil dan belum menyadari usaha perjuangan dan pengorbanannya bagi bangsa ini.

Terima kasih, Kakek. Api semangat perjuanganmu kami teruskan.

Adakah di antara Anda yang ayah atau kakek Anda adalah eks tentara Kapal 7? Jika ya, saya sangat berterima kasih jika Anda mengirimkan e-mail kepada saya, atau tulis di kotak komentar di bawah. Nanti akan saya balas. Oya, saya dengar ada buku yang mengisahkan perjuangan tentara Kapal 7, adakah di antara Anda yang masih memilikinya? Jika Anda memilikinya, saya ingin meminjam untuk saya copy,dan saya sebarkan bagi generasi sekarang, terutama bagi keturunan para perintis kemerdekaan yang berani ini. Supaya kita menjadi generasi yang juga berani seperti mereka dalam melayani dan mengusahakan sebaik-baiknya bagi kemajuan bangsa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar