KOTAK PESANAN DESAIN & KONSULTASI LANGSUNG KE E-MAIL KAMI

Contact Form

Name*
Email*
Subject*
Message*
Image Verification
captcha
Please enter the text from the image:
[Refresh Image][What's This?]

Visit Indonesia : The Uncountable Beauty

Selasa, 19 Agustus 2008

Jelajah Yogyakarta : Menelusuri Jalan Mangkubumi dan Malioboro



Peta Kota Yogyakarta (Yogyakarta city map)
klik gambar untuk memperbesar / click picture to enlarge



Foto satelit Jalan Mangkubumi dan Malioboro, Yogyakarta /Aerial view picture of Mangkubumi and Malioboro street, Yogyakarta from satellite)
klik gambar untuk memperbesar / click picture to enlarge

1. Perempatan Tugu; 2. Stasiun KA Tugu; 3. Jembatan Viaduk Kewek / Kali Code; 4. Hotel Garuda; 5. DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta; 6. Pusat perbelanjaan; 7. Kepatihan / Kantor Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta; 8. Pasar Gedhe Beringharjo; 9. Istana Negara Gedung Agung; 10. Benteng Vredeburg; 11. Taman Budaya; 12. Kios buku dan taman bermain anak; 13. Bank BNI; 14. Kantor Pos besar Yogyakarta; 15. Bank Indonesia wilayah Yogyakarta.

A. Jalan Pangeran Diponegoro (Kranggan); B. Jalan Jenderal Sudirman (Gondolayu); C. Jalan AM Sangaji (Jetis); D. Jalan Pangeran Mangkubumi; E. Jalan Malioboro; F. Jalan Perwakilan; G. Jalan Mataram; H. Jalan Abu Bakar Ali (ke Kota Baru); I. Jalan Pasar Kembang; J. Jalan Sosrowijayan; K. Jalan Suryatmajan; L. Jalan A. Dahlan (Kauman); M. Jalan Panembahan Senopati.



Jalan Malioboro dan Mangkubumi adalah salah satu bagian dari sumbu imajinatif, sebagai pedoman membangun kota Yogyakarta di awal pendiriannya pada tahun 1755. Sumbu imajinatif ini menghubungkan Kraton Yogyakarta Hadiningrat dengan Gunung Merapi di utara dan Laut Selatan. Jalan Malioboro dan Mangkubumi ini menjadi sumbu yang mengorientasikan Kraton ke arah utara (Gunung Merapi) walaupun tidak persis lurus dengan puncaknya. Tata ruang kota yang memakai sumbu sebagai pedoman pembangunannya telah dipakai juga untuk tata ruang kerajaan-kerajaan Jawa di masa lalu, seperti Mataram Hindu, Majapahit, Demak, dan akhirnya Solo dan Yogyakarta sebagai pewaris kerajaan Mataram Baru (Islam) sekaligus pusat kebudayaan Jawa.

Jalan Malioboro terletak di sebelah utara alun-alun utara Kraton, dimulai dari perempatan Kantor Pos Besar lurus ke arah utara sepanjang sekitar 1,3 km sampai rel kereta api. Kemudian disambung dengan Jalan Mangkubumi yang juga lurus ke utara sampai dengan Tugu Pal Putih sepanjang sekitar 800 meter. Kedua ruas jalan ini dibangun dengan menyediakan jalur cepat bagi kendaraan bermotor di tengah, jalur lambat bagi kendaraan tidak bermotor di sisi barat dan jalur pejalan kaki di sisi timur, dengan lebar keseluruhan sekitar 25 meter. Dengan komposisi ini menjadikan ruang jalan ini berkesan dan berskala monumental.

Banyak fasilitas penting yang diwadahi di kedua jalan ini. Di Jalan Mangkubumi terutama diperuntukan bagi perkantoran, akomodasi (hotel dan penginapan),pertokoan, restoran dan usaha jasa, serta terdapat Stasiun KA Tugu, sebagai stasiun KA utama di Yogyakarta. Sedangkan Jalan Malioboro diperuntukkan bagi perdagangan komersial, pasar tradisonal Beringharjo, fasilitas akomodasi, situs sejarah seperti Benteng Vredeburg dan Istana Negara Gedung Agung, serta kantor pemerintahan seperti Kantor Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta dan DPRD Provinsi. Karena peruntukannya itulah, maka Jalan Malioboro menjadi lebih ramai daripada Jalan Mangkubumi. Juga terutama karena Malioboro menjadi salah satu tempat tujuan wisata utama di Yogyakarta.

Yang menjadi menarik di kedua ras jalan itu adalah tersedianya jalur pejalan kaki yang dibuat dengan mengambil sebagian lahan lantai bawah pertokoan yang disebut arcade, sehingga jalur pejalan kaki (pedestrian) ini terlindungi dari terik matahari dan hujan. Terutama sekali terliat dan terasa di jalan Malioboro. Dengan fasilitas jalur pejalan kaki yang nyaman inilah, pedagang kaki lima yang menjual berbagai hasil kerajinan rakyat Yogya dan sekitarnya mendapatkan tempatnya. Dan Malioboro menjadi tempat tujuan wisata, terutama disebabkan oleh kehadiran deretan pedagang kaki lima sepanjang lebih dari satu kilometer yang menjual barang kerajinan yang unik dan khas tersebut.

Yang menjadi masalah dan perhatian adalah kemacetan lalu lintas dan kurangnya lahan parkir saat ramai, apa lagi di puncak musim liburan. Jalur pejalan kaki di sisi timur jalan menjadi lahan parker kendaraan roda dua yang seprtinya dipaksakan dan dibarkan walaupun melanggar aturan. Hal ini tentunya mengurangi kenyamanan berjalan di situ. Padahal ada rencana untuk membuat Malioboro menjadi jalan yang mengutamakan pejalan kaki, namun implementasinya belum terlihat. Juga kurangnya vegetasi atau tanaman penghias dan peneduh sekaligus penyaring polusi udara. Seperti jalan-jalan lain di Indonesia, jalan Malioboro dan Mangkubumi pun kian hari kian gersang, karena pohon ditebangi namun tidak ditanami kembali. Dengan penataan dan penerapan aturan ang tegas, niscaya akan membuat Jalan Malioboro dan Mangkubumi tetap nyaman untuk dikunjungi anak cucu kita kelak.


Gambar foto suasana Perempatan Tugu dan Jalan Mangkubumi, Yogyakarta / sightseeing pictures of Mangkubumi street, Yogyakarta)
klik gambar untuk memperbesar / click picture to enlarge


Gambar foto Jalan Malioboro, Yogyakarta / sightseeing pictures Malioboro street, Yogyakarta
klik gambar untuk memperbesar / click picture to enlarge






Apa yang kamu ketahui tidaklah sepenting dengan apa yang kamu lakukan. Namun pastikan, bahwa apa yang kamu lakukan didasari oleh apa yang telah kamu ketahui.

Terima kasih sudah mengunjungi halaman ini. Silakan membuka posting artikel lain di blog ini (silakan klik posting lama, halaman muka atau posting baru di bawah tulisan ini) untuk menjelajahi wilayah lain Nusantara, menyelami pemikiran dan mengenali permasalahan, supaya kita menjadi bagian dari solusi bagi bangsa ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar