Kami Melayani Anda dalam Desain / We Serve You in Building Design

Kami Melayani Anda dalam Desain / We Serve You in Building Design

Formulir Pemesanan Desain (Silakan Diisi) / Order Form (Please Fill It)

Contact Form

Name*
Email*
Subject*
Message*
Image Verification
captcha
Please enter the text from the image:
[Refresh Image][What's This?]

Sabtu, 08 Maret 2008

MEMERDEKAKAN EKONOMI RAKYAT (II)


(bagian kedua dari dua tulisan)

Pembudayaan usaha mandiri rakyat berwawasan lingkungan hidup menuju swasembada produk dan jasa

Dengan berbagai permasalahan yang menimpa perekonomian kita, mulai sektor perbankan, industri besar, perdagangan, koperasi, sampai pelaku UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah), maka diperlukan suatu usaha untuk memulihkan dan memajukannya. UMKM adalah bentuk ekonomi rakyat yang menjadi kekhasan perekonomian Indonesia. Dengan keunggulannya dalam semangat kekeluargaan dan kegotongroyongannya, UMKM mampu bertahan menjalani krisis moneter dan menjadi penyelamat perekonomian nasional.

Namun UMKM seringkali terganjal dalam berbagai rintangan, antara lain sistem perekonomian kita yang hanya berpihak pada investasi besar dan pengusaha besar; proses birokrasi pengajuan pinjaman yang berbelit; pangsa pasar yang berubah akibat berbagai faktor, baik intrinsik (selera pasar, trend yang berlaku) maupun ekstrinsik (keadaan sosial politik), serta faktor dari diri pelaku UMKM itu sendiri ( motivasi, keuletan, tingkat kemampuan).

Basis suatu bangsa terletak pada tersedianya pangan dan energi secara berkecukupan, serta dapat diandalkan untuk jangka waktu yang lama dan berkelanjutan. Untuk mendukung hal tersebut, diperlukan sumber daya manusia yang memadai dan terampil untuk memproduksi pangan dan energi. Selain itu juga diperlukan sumber daya manusia yang memadai dan terampil untuk menjaga lingkungan hidup sebagai sandaran utama kehidupan manusia dan sebagai prasyarat utama dapat terproduksinya pangan dan energi secara berkecukupan.

Indonesia memang negeri yang kaya. Ini tercermin dari kekayaan alam hayatinya. Kalau tidak percaya, coba telitilah berapa jumlah organisme dan spesies hidup dalam sepetak tanah berukuran 1 (satu) meter persegi di dalam hutan tropis kita. Maka jumlahnya bisa belasan bahkan puluhan jenis. Coba bandingkan dengan sepetak tanah berukuran sama di Amerika Serikat atau Jepang misalnya, tentu kekayaan spesiesnya tidak ada sepersepuluhnya daripada hutan kita. Belum kekayaan lautnya, bila kita teliti. Ini adalah bukti kekayaan alam hayati kita.

Namun yang aneh, mengapa di alam yang kaya, rakyat kita hidup miskin dan tidak bisa memenuhi kebutuhan pangannya sendiri? Karena cara pengelolaan dan manajemennya yang salah kaprah. Terlalu takjub dan heran melihat kemajuan bangsa lain, namun tidak mau berusaha. Maunya langsung jadi, sehingga diperbanyaklah impor, supaya kita “kelihatan” sama maju dan modernnya. Namun, sadar atau tidak, itu sebenarnya tindakan bunuh diri.

Maka diperlukan suatu langkah untuk membudayakan suatu usaha utuk mandiri dalam berekonomi sambil dan sekaligus dalam bingkai upaya menjaga kelestarian dan keseimbangan alam. Karena bagaimanapun, berbagai usaha dan hasil yang dicapai manusia tidak akan berlangsung lama, bahkan akan menuai kerugian di masa depan jika keberhasilan itu berdiri di atas kerusakan lingkungan sebagai akibat dan efek samping dari usaha manusia.

Kearifan lokal sebagai sendi dan cara berpenghidupan kehidupan rakyat Indonesia haruslah mendapatkan tempat kembali, setelah digeser oleh kearifan pemerintah yang dipaksakan yang terbukti hanya menguntungkan sesaat namun sesudah itu merugikan secara berkelanjutan. Kearifan lokal masyarakat dalam mengelola kekayaan alamnya untuk mencukupi kebutuhan hidupnya terbukti tahan uji, bahkan bisa menjadi rujukan segala kebijakan pemerintah.

Lihatlah sekarang, berbagai usaha pertanian berbasis dan berlabel organik adalah produk perwujudan dan penduplikasian kearifan lokal, dengan sepenuhnya bertumpu pada sumber-sumber alami dalam sistem produksinya. Sudah barang tentu ini alami, ramah lingkungan, sehat, dan menguntungkan secara berkelanjutan. Dari basis alami yang kuat terpatri dalam masyarakat akan menurunkan produk-produk jasa yang bertumpu dari alam setempat, serta menghasilkan pula suatu budaya masyarakat yang berbasis alam dan kearifan lokal.


.


Belajarlah dari kesalahan orang lain. Anda tak dapat hidup cukup lama untuk melakukan semua kesalahan itu sendiri.
(Martin Vanbee)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar