Rabu, 26 Maret 2008

SELAMATKAN ALAM DANAU TOBA


foto kondisi alam sekitar danau Toba yang semakin rusak dan gundul





GAMBAR FOTO UDARA DANAU TOBA, SUMATRA UTARA
klik gambar untuk memperbesar / click picture to enlarge


Keindahan alam Danau Toba dengan Pulau Samosirnya telah menginspirasi banyak seniman dari Tano Batak untuk menciptakan lagu-lagu yang mengunkapkan keindahan alam dan keagungan budaya setempat. Namun, Danau Toba yang pernah menjadi primadona pariwisata Sumatra Utara tahun 1990-an, saat ini dalam kondisi memprihatinkan.

Dalam foto udara (sumber maplandia.com), terlihat jelas, kawasan sekitar danau dan Pulau Samosir sudah didominasi warna kecoklatan. Warna hijau yang merupakan hutan hanya tinggal di wilayah sempit di sekitar puncak-puncak pegunungan. Dalam foto kondisi alam Toba yang juga dilampirkan, memang terlihat jelas dengan mata telanjang, bahwa pegunungan di sekitar Toba sebagian besar sudah gundul, baik sengaja dibabat, maupun berubah fungsi menjadi lahan pertanian tanaman semusim, maupun pemukiman. Pegunungan itu dapat dikatakan sudah telanjang dan tak lagi anggun membingkai danau terluas dan terdalam di Indonesia itu.

Padahal telanjangnya pegunungan tanpa hutan, akan mengakibatkan kerugian ribuan kali lipat daripada keuntungannya. Niscaya akan terjadi erosi yang mengakibatkan turunnya kesuburan tanah. Berkurangnya pasokan air bagi danau di musim kemarau yang akan mengakibatkan meningkatnya keasaman air danau sehingga berbahaya bagi biota danau. Juga terancamnya pasokan air bagi Sungai Asahan yang berhulu di danau ini dan bagi PLTA. Meningkatkan resiko tanah longsor dan kekeruhan air danau di musim hujan. Itu hanya sebagian, belum disebut dampak merugikan bagi pertanian dan pariwisata untuk jangka panjang.

Bagaimana memperbaiki kawasan yang terlanjur rusak ini ? Cara yang harus segera dilakukan adalah menanam, menanam, dan menanam pohon sebanyak-banyaknya, sebagai bentuk pertanggungjawaban manusia terhadap alam. Seharusnya setiap menebang satu pohon, harus menanam kembali 10 bibit pohon. Kedua, tegakkan peraturan dan hukum setegas-tegasnya, bagi pembalak liar, pemegang HPH yang serakah dan meliar karena (pura-pura) lupa batas area mana yang diijinkan lalu melanggarnya, dan aparat terkait yang seharusnya bertanggung jawab menjaga tanah kelahirannya tapi malah ikut terlibat menikmati hasil alam yang tidak sah. Tentu kita ingat Adelin Lis yang bebas dari tuntutan hukum pembalakan liar, dan sekarang berleha-leha menikmati hasil rampokan kekayaan alam Tano Batak tanpa diketahui rimbanya.

Ketiga penerapan kesepakatan Rencana Tata Ruang secara konsisten. Keempat memberikan pengetahuan dan pendampingan bagi masyarakat tentang cara bertani yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Keenam meningkatkan segenap potensi daerah berbasis iptek dan jasa, dan meningkatkan potensi usaha berbasis masyarakat setempat, sehingga tidak terpaku mendapatkan pendapatan daerah dengan menuai bahan mentah, seperti menebang hutan yang merupakan rekayasa pusat yang feodal. Atau menanam benih ikan yang tidak sesuai dengan kondisi Danau Toba, hasil rekayasa para teknokrat yang tidak membumi.

Kawasan Danau Toba, setelah dilakukan pemekaran daerah, saat ini dikelilingi oleh tujuh kabupaten, yaitu Tanah Karo di utara, Simalungun di timur, Toba Samosir di tenggara, Tapanuli Utara di selatan, Humbang Hasundutan di barat daya, Samosir di Pulau Samosir dan daratan sebelah barat Danau Toba, dan Dairi di sebelah barat laut. Diharapkan dengan pemekaran daerah, bukan sebagai sarana bagi-bagi kapling untuk memperkaya diri, tapi semakin meningkatkan usaha untuk pelestarian kawasan Toba secara terpadu bagi sejahteranya kehidupan masyarakat sekitar secara berkelanjutan.

Dengan lestarinya alam Danau Toba dan Tano Batak, akan lestari pula kebudayaan masyarakatnya. Dan akan tetap menjadi inspirasi tak ada habisnya bagi seniman-seniman setempat sekarang dan mendatang, untuk berdendang tentang keindahan alamnya.

Untuk saudara-saudaraku di seputaran Danau Toba dan Tano Batak : Salam Mejuah-juah. Mauliate. Horas.



Sifat pribadi yang kokoh adalah aset kita yang paling hebat karena ia kekuatan yang mengijinkan kita berhadapan dengan kesulitan hidup.


Terima kasih sudah mengunjungi halaman ini. Silakan membuka posting artikel lain di blog ini (silakan klik posting lama, halaman muka atau posting baru di bawah tulisan ini) untuk menjelajahi wilayah lain Nusantara, menyelami pemikiran dan mengenali permasalahan, supaya kita menjadi bagian dari solusi bagi bangsa ini.

1 komentar:

  1. Ayo dukung Danau Toba, Gunung Krakatau, dan Pulau Komodo sebagai Tujuh Keajaiban Dunia versi New Seven Wonders of Nature. Voting di http://www.new7wonders.com

    BalasHapus

Visit Indonesia : The Uncountable Beauty