Kami Melayani Anda dalam Desain / We Serve You in Building Design

Kami Melayani Anda dalam Desain / We Serve You in Building Design

Formulir Pemesanan Desain (Silakan Diisi) / Order Form (Please Fill It)

Contact Form

Name*
Email*
Subject*
Message*
Image Verification
captcha
Please enter the text from the image:
[Refresh Image][What's This?]

Kamis, 27 Maret 2008

Jelajah Cimanuk

Halo Saudara! Selamat datang di blog Mannusantara!



gambar foto udara DAS CIMANUK, JAWA BARAT

KLIK GAMBAR UNTUK MEMPERBESAR / CLICK PICTURE TO ENLARGE


DAERAH RESAPAN AIR SUNGAI CIMANUK KRITIS

Cimanuk adalah nama sungai kedua terpanjang di Jawa Barat. Cimanuk mengalir sepanjang sekitar 250 km dari jantung tatar Parahyangan di Kabupaten Garut menuju ke Laut Jawa di utara, tepatnya di pantai Indramayu. Sepanjang perjalanannya menuju ke laut, Cimanuk melalui Kabupaten Sumedang dan Majalengka.

Aliran airnya dimulai dari daerah hulu yang terjauh dari muaranya yang berada di lereng Gunung Cikuray (2821 m dpl) dan Papandayan (2622 m dpl), kemudian bergerak turun ke utara, yaitu ke lembah Garut. (717 m dpl). Di lembah Garut ini, Cimanuk mendapat pasokan air dari anak-anak sungainya yang berasal dari jajaran Gunung Guntur (2240 mdpl) di sebelah barat, serta jajaran Gunung Galunggung (2169 m dpl) dan Talaga Bodas (2201 m dpl) di sebelah timurnya. Lembah Garut ini sangat subur untuk tanaman perkebunan dan padi. Kemudian aliran air mengalir deras menurun ke utara menyusuri dataran tinggi Cibatu (650 m dpl) dan Darmaraja (300 m dpl). Kemudian bergerak lagi ke utara, dan menjadi batas alami antara Kabupaten Sumedang dan Majalengka. Di sini, Cimanuk mendapat aliran air dari anak-anak sungainya yang berasal dari Gunung Bukit Unggul (2209 m dpl) dan Calangcang di sebelah barat, dan Cakrabuwana (1731 m dpl) dan Ceremai (3078 m dpl) di sebelah timur. Memasuki kawasan Tomo dan Jatiwangi (30 m dpl) di Kabupaten Majalengka, aliran air Cimanuk memasuki wilayah dataran rendah. kemudian mengalir tenang dengan membawa debit air terbesarnya menuju kawasan Jatibarang dan akhirnya sampai ke muaranya di Laut Jawa dengan melewati kota Indramayu.

Dalam perkembangannya, Cimanuk sudah banyak dipengaruhi oleh intervensi manusia. Secara teknis, untuk mengatasi banjir pada daerah muaranya, sudah dilakukan pelurusan badan sungai, yang berada di sebelah barat kota Indramayu. Sedangkan badan sungai yang asli tetap melalui kota itu. juga dilakukan pembuatan sudetan-sudetan yang selain untuk mengatasi banjir, juga untuk pengairan lahan pertanian.

Pada daerah hulu, seperti jamak terjadi di berbagai daerah di Indonesia, khususnya Jawa, sudah banyak penggundulan hutan yang kemudian ditelantarkan. Serta pengalihan fungsi lahan hutan, menjadi lahan pertanian dan pemukiman. Seperti terlihat pada gambar foto udara (sumber maplandia.com), tutupan hutan yang berwarna hijau tua meliputi kawasan yang sangat sempit, hanya terdapat di sekitar puncak-puncak gunung saja. Hutan itu langsung bersebelahan dengan lahan gundul tak terurus dan lahan pertanian, yang berwarna kecoklatan dan hijau muda. Kita bisa melihat pemandangan pegunungan dan perbukitan yang gundul dan kritis di Garut jika kita naik kereta api dari Bandung ke Tasikmalaya, melintasi kawasan kecamatan Leles, Cibatu dan Malangbong. Akan terlihat jelas pada musim kemarau yang membuat prihatin bagi yang menyaksikannya.

Hal ini tentu akan membawa dampak besar bagi ekologi dan tata air wilayah DAS Cimanuk. Di mana setiap tahun rata-rata setiap hektar kawasan DAS ini menyumbangkan 20 ton tanah yang tererosi, kemudian mengendap di perairan sekitar muara Cimanuk. Padahal luas DAS Cimanuk lebih dari 3500 km persegi. Jadi dapat dihitung sendiri berapa besar tanah subur pegunungan dan dataran rendah yang terbuang percuma ke laut akibat erosi. dengan besarnya kandungan tanah yang dibawa, maka membentuk delta di muara sungai, yang semakin menjorok ke arah laut setiap tahunnya.

Pada kemampuannya dalam mengairi sawah juga demikian. Pada musim hujan, Cimanuk mampu mengairi sawah yang beririgasi teknis di sepanjang alirannya, seluas sekitar 110.000 hektar. Pasokan airnya bahkan mampu untuk sampai menyumbangkan sebagian airnya ke kawasan Cirebon, yang berada di luar wilayah DAS-nya. Namun pada musim kemarau, hanya mampu mengairi sawah seluas 50.000 hektar, yang berarti kurang dari setengahnya. Gambaran demikian tentu akan berakibat bagi kesejahteraan petani dan ketahanan pangan wilayah itu selanjutnya.

Maka penghijauan sangat mendesak dilakukan. Serta jeda tebang dan pengalihan fungsi lahan. Juga harus ditentukan kaasan yang menjadi kawasan hutan, perkebunan dan pesawahan abadi, yang tak boleh dialihfungsikan dengan alasan apapun. Jika kita tidak melakukannya mulai sekarang, keindahan Tatar Pasundan yang tersohor itu tak lama lagi menjadi dongeng. Itu bukanlah hal yang tak mungkin terjadi. Saudara-saudaraku di tatar Parahyangan yang dikenal santun dalam pergaulan, ditunggu aksi nyatanya untuik membuktikan kesantunannya terhadap alam.

Mangga atuh, urang sadayana, sami-sami meurenahkeun deui alam Tatar Pasundan anu parantos nuju ka ruksak. Hatur nuhun. (betulkan kalau bahasa Sundanya salah, penulis)




Reputasi anda ialah apa yang orang lain pikirkan tentang diri anda; sikap pribadi Anda ialah tingkah laku Anda.


silakan memberi komentar atas tulisan ini / please give a comment about the topic above

Terima kasih sudah mengunjungi halaman ini. Silakan membuka posting artikel lain di blog ini (silakan klik posting lama, halaman muka atau posting baru di bawah tulisan ini) untuk menjelajahi wilayah lain Nusantara, menyelami pemikiran dan mengenali permasalahan, supaya kita menjadi bagian dari solusi bagi bangsa ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar