Kami melayani Anda dalam desain

Hubungi Kami untuk Konsultasi Desain (silakan isi)

Contact Form

Name*
Email*
Subject*
Message*
Image Verification
captcha
Please enter the text from the image:
[Refresh Image][What's This?]

Selasa, 18 Maret 2008

Jelajah Progo


Gambar kondisi alam di kawasan hulu Kali Progo di lereng Gunung Sumbing (3371 m dpl) dan Sindoro (3151 m dpl) yang gersang.
DALAM KEADAAN BEGINIKAH KITA AKAN MEWARISKAN BUMI INI KE ANAK CUCU KITA KELAK??



gambar foto satelit kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Progo, yang meliputi wilayah Kabupaten Temanggung, Magelang di Jawa Tengah, serta Kabupaten Kulon Progo, Bantul dan Sleman di Yogyakarta.

(klik gambar untuk memperbesar / click picture to enlarge)




Rapuhnya Daya Dukung Lingkungan Daerah Aliran Sungai Progo





Progo adalah nama sebuah sungai yang terletak di dua provinsi, yaitu Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.Sungai ini mengalir dari utara ke selatan sepanjang sekitar 200 km, dan bermuara di Samudra Hindia. Daerah hulunya sebagian besar berada di Kabupaten Temanggung dan Magelang, Jawa Tengah. Mengalir di lembah indah yang dikelilingi banyak gunung berapi yang tingginya mencapai lebih dari 3000 meter.
Seperti sungai-sungai lainnya di Indonesia, Progo adalah urat nadi kehidupan bagi masyarakat sekitarnya, yang mengandalkan airnya terutama untuk kegiatan pertanian. Selain pula untuk kegiatan pariwisata seperti arung jeram dan telusur sungai. Saat ini Progo menjadi tumpuan hidup lebih dari 3 juta jiwa yang tinggal di wilayah itu, baik secara langsung maupun tidak langsung. Lembah Progo di Magelang sudah menjadi pusat peradaban yang besar di masa lalu selama ribuan tahun. Terbukti dengan peninggalan candi yang banyak terserak di daerah itu, dengan Candi Borobudur sebagai yang terbesar, hanya berjarak kurang dari dua kilometer di sebelah barat badan sungai Progo.


Seperti terlihat dalam gambar foto udara (sumber maplandia.com), daerah hulu Progo yang terletak paling jauh dari muara sungainya berada di sisi timur laut lereng Gunung Sindoro (3151 m dpl) di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Kemudian bertemu dengan anak-anak sungai dari lereng Gunung Sumbing (3371 m dpl). Kemudian alirannya meliuk ke arah timur turun ke dataran tinggi Parakan (750 m dpl) dan Temanggung (550 m dpl). Di Temanggung inilah Progo kemudian meliuk ke arah ke selatan.
Kemudian dari sisi timur lembah, terdapat aliran sungai Elo yang merupakan anak sungai utama Progo. Hulu terjauh Elo berada di lereng barat laut Gunung Merbabu (3142 m dpl). di sini Elo menjadi batas wilayah antara Kabupaten Temanggung, Magelang dan Semarang. Kemudian Elo turun dan meliuk ke barat dan selatan sambil mendapatkan tambahan air dari Gunung Telomoyo (1894 m dpl). Progo dan Elo mengarah ke selatan dan mengapit dataran yang kemudian menjadi Kota Magelang (400 m dpl).
Aliran sungai Progo mulai bertambah volumenya airnya secara signifikan setelah bergabung dengan Elo di antara kawasan Borobudur dan Mungkid (300 m dpl). Kemudian Progo mengarah ke selatan memasuki wilayah Yogyakarta dan menjadi batas wilayah alami antara Kabupaten Kulon Progo sebelah barat dengan Sleman dan Bantul di sebelah timurnya. Seraya mendapatkan tambahan air dari anak-anak sungainya dari Pegunungan Menoreh (puncak tertinggi 1022 m dpl) di sebelah barat, serta dari Gunung Merapi (2950 m dpl) dari sebelah timurnya. Akhirnya bermuara di pantai selatan Jawa antara Kulon Progo dan Bantul.



Kondisi DAS Progo Saat ini



Kondisi DAS Progo saat ini sungguh memprihatinkan. Kita lihat mulai dari kawasan hulu di lereng-lereng Gunung Sumbing dan Sindoro di Kabupaten Temanggung dan Magelang. Kawasan lereng ini sudah dapat dikatakan rusak parah, karena gundul dan pengalihan fungsi laan menjadi lahan pertanian semusim. Terutama kentang dan tembakau yang sangat merusak kesuburan tanah, karena dikerjakan pada lahan miring dan harus mendapatkan sinar matahari penuh, tanpa boleh terhalang rindangnya pohon. Ditambah lagi penebangan liar dan perambahan hutan yang semakin merusak lingkungan hidup setempat, akibat krisis moneter 1998 yang memang mencekik kehidupan rakyat. Dalam foto udara terlihat kerusakan di lereng Sumbing dan Sindoro dengan sangat sedikitnya tutupan lahan yang berwarna hijau. Yang mendominasi adalah warna kelabu dan kecoklatan yang menunjukkan gundulnya lahan. Ini diperkuat dengan foto kondisi lereng gunbung yang disertakan di atas.

Selain mengakibatkan berkurangnya kesuburan tanah dan kepunahan keanekaragaman kehidupan hewan dan tumbuhan, juga meningkatkan resiko banjir bandang dan tanah longsor di musim hujan, serta kekeringan di musim kemarau. Maka sudah bukan hal aneh lagi kalau di kawasan pegunungan yang seharusnya kaya air tersebut, pada musim kemarau harus didatangkan bantuan air bersih dari daerah lain.

Sedangkan hulu Progo di sebelah timur yang mengairi Kali Elo agak lebih baik, karena hutan di lereng barat Merbabu, Telomoyo dan Merapi relatif terjaga, walaupun tak luput dari perambahan hutan untuk lahan pertanian, serta kerusakan hutan akibat erupsi lahar dan penambangan pasir di Merapi. Juga masih relatif baiknya kondisi perkebunan kopi, karet, dan buah-buahan (kelengkeng dan durian) baik yang dikelola perusahaan maupun rakyat secara swadaya.

Dampak kerusakan lingkungan hulu Progo yang sangat terasa di musim kemarau lainnya adalah kurangnya pasokan air bagi pengairan sawah bagi daerah di bawahnya dan daerah hilir. Sehingga lahan pesawahan banyak yang menganggur di musim kemarau, terutama di daerah Yogyakarta.

Pertanian padi di Yogyakarta banyak mengandalkan pasokan air dari Progo karena di Yogyakarta telah dibangun saluran irigasi besar yang bersejarah yang dibangun sejak masa penjajahan Jepang yang bernama Selokan Mataram. Proyek besar ini adalah taktik Sri Sultan Hamengku Buwono IX untuk menghindarkan rakyat Yogyakarta dari sistem kerja paksa (romusha) bikinan Jepang yang terbukti memakan jutaan korban jiwa di Indonesia dalam waktu sekitar tiga tahun. Selokan Mataram ini dibangun dengan mengalirkan air dari Progo menuju ke arah timur sampai bermuarakan ke Sungai Opak di daerah Prambanan sepanjang sekitar 30 km. Selokan ini sangat penting bagi usaha pertanian padi di daerah Sleman dan Bantul. Sebenarnya wilayah Sleman dan Bantul secara alami juga dialiri beberapa sungai yang berhulu di lereng selatan Gunung Merapi, namun debit airnya tak cukup untuk mengaliri seluruh daerah pertanian di situ. Seiring dengan kurangnya pasokan air dari Progo di musim kemarau dalam satu dasawarsa terakhir ini, maka nilai guna Selokan Mataram mencapai titik nadirnya, karena dipastikan selokan ini mengering selama sekitar tiga bulan setiap tahunnya.


Harapan

Perlu usaha keras untuk mengembalikan hutan sebagai lumbung penyimpan air alami, terutama menyelamatkan alam lereng Gunung Sumbing dan Sindoro. Kemudian pengembalian dan peningkatan dalam usaha perlindungan penanaman hutan kembali di kawasan pegunungan lainnya yang menjadi hulu utama Kali Progo. Perlu kepedulian dan peran serta semua pihak terutama pemerintah dan masyarakat setempat untuk memulai dan menjaganya.






Orang yang luar biasa itu sederhana dalam ucapan, tetapi hebat dalam tindakan. (Confusius)

1 komentar:

  1. Artikel di blog ini menarik & bagus. Untuk lebih mempopulerkan artikel (berita/video/ foto) ini, Anda bisa mempromosikan di infoGue.com yang akan berguna bagi semua pembaca di tanah air. Telah tersedia plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!
    http://lingkungan.infogue.com
    http://lingkungan.infogue.com/jelajah_progo

    BalasHapus

Visit Indonesia : The Uncountable Beauty