Kami Melayani Anda dalam Desain / We Serve You in Building Design

Kami Melayani Anda dalam Desain / We Serve You in Building Design

Formulir Pemesanan Desain (Silakan Diisi) / Order Form (Please Fill It)

Contact Form

Name*
Email*
Subject*
Message*
Image Verification
captcha
Please enter the text from the image:
[Refresh Image][What's This?]

Kamis, 05 Juni 2008

Limpahan Kepadatan Kota sebagai Konsekuensi Perkembangan Kota

Limpahan Kepadatan Kota sebagai Konsekuensi Perkembangan Kota :

Melihat Kondisi Perkembangan Kota Yogyakarta, Semarang, dan Solo


Indonesia, khususnya Pulau Jawa mencatat laju pertambahan penduduk yang cukup besar. Di samping oleh laju pertumbuhan alami dari angka kelahiran, juga diperbanyak oleh arus pendatang luar Jawa yang masuk ke |Jawa. Maka Jawa yang sudah padat, menjadi semakin penuh sesak.

Dengan tingkat pertambahan penduduk yang pesat inilah, terjadi kebutuhan ruang yang luar biasa, yang kalau bisa harus didapatkan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Maka jumlah populasi manusia adalah tekanan serius bagi tata ruang dan lingkungan hidup. Karena manusia membutuhkan dan mengubah suatu ruang demi kebutuhan fungsi dalam menjalankan kehidupan mereka. Padahal ruang untuk manusia (baca :daratan atau tanah) tidak dapat diproduksi lagi. Kecuali melakukan pengurukan laut dengan biaya yang sangat mahal. Atau yang lebih ekstrim memindahkan aktivitas kehidupan sehari-hari si atas laut, dengan sarana yang dapat mengapung di atas laut, ataupun membuat ruang baru yang kedap air di dasar laut.

Pusat –pusat tujuan urbanisasi terbesar di Jawa terjadi di beberapa wilayah, terutama yang dekat dengan kawasan industri dan pusat-pusat pemerintahan. Yang terbesar adalah wilayah |Jabodetabek dengan sekitar 20 juta jiwa penduduk. Kemudian disusul, kawasan Surabaya dan sekitarnya ( atau sering disebut kawasan Gerbangkertosusilo) dengan sekitar 7 juta jiwa penduduk. Serta kawasan Bandung Raya dengan sekitar 6 juta jiwa penduduk. Tiga wilayah ini bisa disebut tiga besar pusat urbanisasi di Jawa, yang berbanding lurus dengan tingkat aktivitas ekonomi yang dijalankan. Eiga wilayah ini masih tetap berpotensi untuk berkembang pesat, bahkan meliar tak terkendali, dan menjadi masif sulit untuk diubah jika tidak dikawal dengan kebijakan yang tepat dan penegakan hukum. Karena jika tidak, akan menimbulkan berbagai masalah susulan yang dapat menjadi kontraproduktif dengan usaha yang dilakukan.

Kemudian selain ketiga kawasan tersebut, disusul kawasan lain yang sifatnya lebih menyebar, namun tetap berpotensi bertumbuh cepat dan masif seperti tiga besar yang telah disebutkan. Antara lain kawasan pertumbuhan Serang, Karawang, Cirebon, Pantura Semarang dan sekitarnya, Solo dan sekitarnya, Yogyakarta dan sekitarnya, serta Malang dan sekitarnya.

Pertumbuhan penduduk yang bertimbal balik denagn aktivitas pertumbuhan ekonomi suatu wilayah, dalam hal ini dalam bidang industri, jasa dan perdagangan akan memunculkan dampak semakin hilangnya lahan pertanian dan hutan, beralih fungsi untuk memenuhi kebutuhan aktivitas ekonomi tersebut, termasuk untuk kebutuhan pemukiman penduduk. Maka menjadi hal yang sudah dianggap lumrah di Jawa, jika kawasan perkotaan semakin mendesak kawasan pedesaan termasuk kawasan budidaya pertanian dan kehutanan di sekitarnya, membentuk berbagai pola penyebaran dan pemadatan, mengikuti alur transportasi yang ada. Bahkan wilayah perkembangan suatu kota, sudah melewati batas wilayah administratif suatu kota tersebut, memasuki wilayah administrasi daerah otonom yang lain. Intensitas nuansa perkotaan dengan segala bentuk kepadatan penduduk serta corak kehidupan kota yang khas di wilayah yang menjadi limpahan kepadatan kota induk jauh lebih kuat daripada wilayah yang menjadi ibukota administrasi wilayah otonom yang dijasikan tempatan limpahan kepadatan kota induk.

Untuk menunjukkan hal itu, di bawah ini disajikan contoh kawasan kota yang semakin meluas, bahkan keluar dari wilayah administrasinya.





gambar foto udara Limpahan Kepadatan Kota Yogyakarta
(klik gambar untuk memperbesar / click picture to enlarge)

  1. Yogyakarta

Kota Yogyakarta dikenal mempunyai karakter khas yang mewarnai kehidupan masyarakatnya. Dengan karakter masyarakatnya yang ramah, serta terdapat salah satu pusat pemerintahan tradisional Jawa dengan keunikan budayanya, menjadikan kota ini menjadi kota yang didominasi kegiatan pendidikan dan pariwisata.

Setiap tahun banyak sekali pendatang yang hanya sekedar singgah bahkan menetap di sini, karena melakukan aktivitas yang berkaitan dengan pendidikan dan pariwisata. Kota Yogyakarta sendiri mempunyai luas sekitar 35 km persegi dengan penduduk sekitar 450 ribu jiwa. Cukup sempit dan padat memang. Oleh karena kebutuhan akan ruang untuk membangun berbagai fasilitas pendukung pendidikan dan pariwisata semakin meningkat, maka banyak sekali fasilitas yang dibangun di luar administrasi Kota Yogyakarta, yaitu ke Kabupaten Sleman dan Bantul. Sebagai pelopor pembangunan fasilitas-fasilitas itu, antara lain |Universitas Gajah Mada (tahun 1949) dan Hotel Ambarrukmo (tahun 1960-an) . keduanya berasa di Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman.

Pada perkembangan selanjutnya, ketika kebutuhan akan fasilitas pendidikan dan pariwisata serta pemukiman penduduk semakin meningkat, karena semakin meningkatnya kesadaran, membaiknya perekonomian dan aktivitas masyarakat, serta pertumbuhan penduduk, maka pembangunan semakin gencar dilakukan di semua penjuru yang berbatasan langsung dengan |Kota Yogyakarta.

Maka selain kecamatan Depok, masih ada Kecamatan Mlati dan Ngaglik di Kabupaten Sleman, kemudian Kecamatan Kasihan, |Sewon dan Banguntapan di Kabupaten Bantul yang menjadi wilayah limpahan kepadatan |Kota |Yogyakarta. Si wilayah seputaran |Kota Yogya itulah, aktivitas masyarakat, keramaian dan kepadatan penduduk semakin meningkat. Dan kondisinya lebih ramai daripada ibukota kabupatennya di Sleman dan Bantul.

Dilihat dari kepadatan penduduknya, |Kecamatan Depok sekarang menjadi kecamatan terbanyak penduduknya di Kabupaten |Sleman dengan lebih dari 100 ribu jiwa penduduk. Tak ayal sudah jarang saat ini ditemukan sawah dan ladang penduduk di kecamatan ini, karena telah disulap menjadi kampus, hotel, serta perumahan penduduk. Ke depan jika tidak dikendalikan, jumlah penduduk di Kecamatan Depok bisa menyamai Kota Yogyakarta. Dan ini tentu akan membawa masalah baru yang serius dalam hal tata ruang, lingkungan hidup, ekonomi dan sosial.





gambar foto udara Limpahan Kepadatan Kota Semarang
(klik gambar untuk memperbesar / click picture to enlarge)

2. Semarang

Semarang adalah kota yang mempunyai fungsi strategis bagi masyarakat di wilayah Jawa bagian tengah. Selain menjadi ibukota provinsi Jawa Tengah, kota ini juga mempunyai pelabuhan laut besar yang menjadi pintu gerbang aktivitas perekonomian dan perdagangan di kawasan Jawa bagian tengah. Maka, aktivitas industri, perdagangan dan jasa menjadi nafas kehidupan masyarakat Semarang dan sekitarnya.

Yang dinamakan Semarang sebelumnya adalah kawasan kota di sekitar pantai dan pelabuhan, dan perbukitan di sebelah selatannya. Namun setelah pengembangan wilayah administrasi Kota ke arah selatan dan barat, maka wilayah Kota Semarang mencapai tiga kali lebih luas dari wilayah asalnya, dengan mengambil wilayah yang sebelumnya menajdi bagian dari Kabupaten Semarang. Antara lain kecamatan Tugu, Mijen, Ngaliyan, dan Gunungpati.

Semarang yang saat ini mempunyai penduduk sekitar 1,3 juta jiwa, mempunyai luas wilayah sekitar 370 km persegi. Cukup besar bagi sebuah kota. Di atas kertas memang sangat ideal bagi perkembangan sebuah kota. Namun jika kita berkunjung ke sana, dengan topografi wilayahnya yang berbukit-bukit dan berpantai, tampaklah masalah tata ruang dan kesemrawutan kota menjadi pemandangan sehari-hari. Belum lagi masalah lingkungan hidup misalnya banjir pasang air laut (rob), kekurangan air bersih dan tanah longsor, akibat penggunaan lahan yang sembarangan.

Selain itu juga masalah transportasi, dimana segala bentuk kendaraan besar maupun kecil bergabung dalam satu ruas jalan. Selain kemacetan, polusi udara juga dapat membahayakan keselamatan pejalan kaki dan pengguna jalan yang meggunakan kendaraan yag lebih kecil Terutama truk-truk besar yang menjadi alat transportasi industri yang memenuhi jalan-jalan menuju kawasan industri di sekitar Semarang. Antara lain jalan menuju ke Kendal di barat, Bawen di selatan dan Demak di timur. Hampir dipastikan setiap hari kerja, jalan menjadi sangat padat. Walaupun sudah ada tol dalam kota, namun tampaknya belum memadai untuk menampung jumlah kendaraan dari luar maupun ke dalam kota Semarang.




gambar foto udara Limpahan Kepadatan Kota Solo
(klik gambar untuk memperbesar / click picture to enlarge)


3. Solo

Solo hampir serupa dengan Yogyakarta, menjadi salah satu pusat kebudayaan Jawa. Maka nafas kegiatan pariwisata pun menjadi keseharian di kota ini. Namun berbeda dengan Yogyakarta. Letaknya yang strategis di jantung pulau Jawa, kota ini menjadi simpul pertemuan jalur transportasi Jawa antara jalur utama utara, tengah dan selatan, yang menghubungkan wilayah barat dan timur pulau Jawa. Ditambah dengan dan etos kerja warganya, maka kawasan kota Solo dan sekitarnya pun menjadi salah satu tempat pertumbuhan industri, walaupun tidak seramai Semarang. Selain di dalam kota, kawasan industri juga menyebar ke beberapa wilayah, antara lain ke wilayah kecamatan Colomadu, Gondangrejo dan Jaten di Kabupaten Karang Anyar, serta kecamatan Kartasura, Baki dan Grogol di Kabupaten Sukoharjo.

Solo sendiri mempunyai penduduk sekitar 530 ribu jiwa, dengan luas wilayah sekitar 44 km persegi. Cukup padat memang. Dengan pertambahan penduduk yang pesat, maka kebutuhan akan ruang untuk fungsi pemukiman, perdagangan, jasa dan industri pun melimpah keluar dari wilayah administrasi Kota Solo. Penyebaran limpahan kepadatan tersebut melaju secepat laju penyusutan luas lahan pertanian subur di sekitar kawasan Kota.

Selain kawasan industri yang menyebar di enam kecamatan yang yang berbatasan Kota Solo yang telah tersebut di atas, kawasan pemukiman juga ikut menyebar di keenam kecamatan tersebut. Diperkirakan, keenam kecamatan yang menjadi satelit Kota Solo itu, saat ini jumlah penduduknya mencapai lebih dari 300 ribu jiwa. Dan kondisi keenam kecamatan di simpul-simpul keramaiannya itu sudah nyaris menyamai keramaian Kota Solo. Bahkan lebih ramai dari ibukota kabupatennya.

Kesimpulan

Dengan pesatnya pertambahan jumlah penduduk dan semakin berkembangnya aktivitas ekonomi masyarakat, terutama dalam bidang perdagangan, jasa dan industri, memicu pengalihfungian lahan pertanian dan kehutanan untuk memenuhi kebutuhan lahan untuk pemukiman, serta fasilitas yang mewadahi kegiatan perdagangan, jasa dan industri beserta segala fasilitas pendukungnya.

Pesatnya pertambahan penduduk dan aktivitas ekonomi nonpertanian, membuat kota-kota di Jawa bagian tengah semakin padat dan akhirnya melimpah sampai keluar dari wilayah administrasi Kota.

Harapan

Untuk menjaga perkembangan kota yang tak terkendali, yang meluas dan melimpah sampai ke wilayah pinggiran kota, perlu ditegakkan peraturan tata ruang dan hukum secara tegas dan konsisten. Hal ini untuk melindungi masyarakat dan generasi mendatang dari kerusakan lingkungan, kekekurangan pangan dan kekurangan air bersih.



Tata kota pertama-tama harus mengabdi, melindungi, dan memekarkan anak-anak serta generasi muda. Lain-lainnya, segi ekonomi, politik, dan lain-lain, dapat diatur di sekeliling tolok ukur tersebut. Itulah yang berhak mendapat predikat: kota yang berkebudayaan. Mangunwijaya


silakan memberi komentar atas tulisan ini / please give a comment about the topic above

Terima kasih sudah mengunjungi halaman ini. Silakan membuka posting artikel lain di blog ini (silakan klik posting lama, halaman muka atau posting baru di bawah tulisan ini) untuk menjelajahi wilayah lain Nusantara, menyelami pemikiran dan mengenali permasalahan, supaya kita menjadi bagian dari solusi bagi bangsa ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar