Kami Melayani Anda dalam Desain / We Serve You in Building Design

Kami Melayani Anda dalam Desain / We Serve You in Building Design

Formulir Pemesanan Desain (Silakan Diisi) / Order Form (Please Fill It)

Contact Form

Name*
Email*
Subject*
Message*
Image Verification
captcha
Please enter the text from the image:
[Refresh Image][What's This?]

Sabtu, 26 Januari 2008

Salute to Cak Munir

Intisari dari Monolog : “Matinya Sang Pejuang” oleh Whani Dharmawan

Ø gagasan yang harus ada di kepala setiap orang yang seharusnya bisa banyak dilakukan oleh manusia yang masih punya kepala, dengan memperjuangkan kehidupan yang lebih baik yang penuh keadilan dan martabat.

Ø Ketakutan bukanlah bagian dari hidupku.

Ø Tetap memancarkan aura kehangatan, kerendahan hati, martabat manusia.

Ø “siap mati”, tapi dikatakan dengan tatapan tajam, penuh gejolak semangat kehidupan.

Ø Aku akan sangat mengecewakannya kalau perasaan sedihku menghancurkan hidupku sendiri.

Ø Kamu memperjuangkan peraaan dan akal sehatmu dalam menempuh hidup, dalam meraih cita-citamu. Karena itu aku sangat menghormatimu, kawan!

Ø Kamu sudah dalam posisi hidup dalam human dignity. Sedangkan aku ? Aku masih di basic level.

Ø Perjuangkan nilai-nilai dan kewarasanmu! Integritas dan harga dirimu!~

Ø “mereka telah membunuh sahabat orang-orang tertindas!”

Ø Kematiannya : tonggak baru dalam hidupku sendiri bagi sebuah perubahan besar.

Ø Penyakit kebanyakan orang : takut pada perubahan. Perubahan adalah kunci dan hukum utama kehidupan.

Ø Ketakutan : kita dan rakyat udah lama berpuluh tahun minum racun ketakutan.

Ø Lawan ketakutan dengan pasrah. Pasrah dalam keberanian dan gelegak kehidupan.

Ø “meyakini : kematian sebagai sebuah keniscayaan dan kehidupan sebagai tanggung jawab.”

Ø “ Mereka telah membunuh sebuah cara baru dalam kehidupan, yang telah melekat dalam diri sahabatku.”

Ø Dia telah membawa terang di tengah kegelapan.

Gedung Taman Budaya. Societet Militer, Sriwedani Yogyakarta 13 /11/05.

Saresehan dari Monolog Matinya Sang Pejuang, Societet Yogya 13 /11/05

Negara melakukan pengingkaran, Munir berani mengambil resiko-resiko.

Ada wewenang tim pencari fakta (TPF) yang dilemahkan oleh Keppres.

Problem : 1. Keppres, 2. Polisi, yang belum menemukan titik terang.

Menyuarakan apa yang menjadi isi hati dan pikiran. Kita terbiasa untuk membiarkan sesuatu hal yang tidak benar terus terjadi, tanpa kita berbuat sesuatu apa pun untuk mencagah atau menanggulanginya.

Kematiannya bukan matinya sejarah, namun inspirasi untuk spirit bagi kita untuk menggalang solidaritas. Bukannya untuk mematikan nyali / perjuangan, karena perjuangan belum seleai.

Ancam-mengancam adalah bagian dari usaha untuk menegakkan demokrasi di Indonesia.

Yang kita petik adalah semangatnya untuk menjalankan agenda demokrasi. Tidak banyak orang yang melakukan itu.

Intelektual : diharapkan tidak hanya di bangku kuliah yang menyebarkan nilai-nilai anti-sosial.

Sekat-sekat itu bukan kita yang membuat. Hukum alam akan menghancurkannya dan kita berjalan seiring dengan alam.

Suciwati : kita harus mencari keadilan terhadap penganiayaan. Daripada menunggu itikad baik pemerintah untuk mengabari yang tak kunjung terwujud, lebih baik berinisiatif untuk berusaha mencari. Polisi sudah seharusnya bertugas ,”sudah tugasnya, harus jauh-jauh hari mencari fakta.” Orang yang seperti Munir saja bisa dikebiri, apalagi aktivis muda, wartawan yang memperjuangkan HAM!

Masalah Munir bukanlah masalah pribadi, tapi kita bersama yang memperjuangkan HAM demi kelangsungan peradaban manusia.

Jangan sampai pihak kita mengatakan apa yang telah kita raih sebagai prestasi, namun pihal lain menganggap apa yang kita raih itu ngomong sudah tidak relevan dan penting lagi sekarang. Hal yang sudah lama/ kadaluwarsa, ketinggalan momentumnya.

Bangsa kita cepat melupakan sesuatu yang sangat penting bagi kelangsungan hidup. Cepat terkejut di awal, lantas dengan cepat menjadi lupa.

Kita semua adalah bagian dari program penindasan. Bukan Cuma mereka yang terbunuh atau teraniaya yang menjadi korban. Masalahnya bukan antara yang telah terbunuh/ teraniaya dengan yang masih selamat. Yang (masih) selamat bukan saja berpotensi menjadi korban, tapi telah menjadi korban-korban itu sendiri dalam arti yang sesungguhnya, seperti orang-orang yang nggembel kleleran di jalan-jalan. (penindasan telah terjadi dan diterapkan pada rakyat kita, tanpa disadari. Ya !~! ketidaksadaran itulah sarana yang dibuat/ direkayasa oleh penguasa atau oleh dark hands sebagai jalur penindasan, supaya penindasan terus berlangsung dengan aman sentosa !! (tambahan oleh penyusun)

TIDAK BERBUAT ADALAH SUATU PILIHAN, TIDAK MENYADARI ADALAH SUATU PERBUATAN. Tetap lihat arah pelabuhan mana yang dituju, bukan sibuk memperindah kapal.

Ketika aku berani berdoa padaNya, maka konsekwensinya aku harus berani memihak pada yang miskin dan teraniaya, dan mengambil pilihan hidup yang sulit untuk diwujudkan, memerintahkan perintah-perintah itu, seperti membela korban, sebab aku telah menghadapkan wajahku. Menghadap ke mana? Kepada kehidupan, kebenaran, keadilan, harapan dan cita-cita.” Salut to Munir. Sumber “ Cak Munir, Engkau tak Pernah Pergi”, Ludriatin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar