Kami Melayani Anda dalam Desain / We Serve You in Building Design

Kami Melayani Anda dalam Desain / We Serve You in Building Design

Formulir Pemesanan Desain (Silakan Diisi) / Order Form (Please Fill It)

Contact Form

Name*
Email*
Subject*
Message*
Image Verification
captcha
Please enter the text from the image:
[Refresh Image][What's This?]

Rabu, 09 Januari 2008

Kembali kepada Penghayatan Pancasila yang Benar dalam Merajut Masa Depan Indonesia


Setelah 62 tahun kemerdekaan negara kita, banyaklah masalah yang masih menumpuk dan belum terselesaikan. Manusia hidup di Indonesia senantiasa diliputi perasaan takut, terkekang (Mangunwijaya.1999). Juga kebingungan dan pikiran yang tegang mengingat kondisi yang berubah cepat dan tidak pasti, akibat permasalahan yang tak pernah tuntas terselesaikan sampai akarnya, yang akhirnya menimbulkan efek domino yang menyebar luas dengan cepat.

Berbagai masalah bangsa teraktual, dipicu oleh saling kait-mengaitnya sistem peninggalan kekuasaan lama yang kacau bercarut marut. Dengan mempermainkan ideologi dan UUD menurut seleranya, demi mementingkan nafsu materialisme dan kemakmuran semunya, telah membawa disorientasi bangsa mulai dari pemerintah hingga individu-individu rakyat. Maka masalah di bawah ini supaya dapat dipakai sebagai perenungan untuk merajut masa depan bangsa.

1. Pendidikan : belum meratanya akses pendidikan, dilihat dari aspek geografis (di pelosok pedalaman, atau pulau terpencil) dan aspek struktur sosial-ekonomi masyarakat (kaum miskin kemampuan ekonomi); juga akibat sistem yang korup dan manipulatif, yang tega menyunat subsidi yang jadi hak orang lemah supaya bisa memperoleh pendidikan; serta sistem penentuan standar nasional yang tunggal-sentralistik-mekanistik kaku-beku, instan yang berpotensi praktek manipulasi berjamaah, sangat menipu dan membelenggu, mencampakkan kreativitas dan melecehkan martabat manusia yang unik. Merupakan sebuah upaya mengejar ketertinggalan kualitas manusia Indonesia dengan cara yang tidak berperikemanuaisaan.

2. Pertanian : harga bibit dan pupuk yang semakin langka dan mahal (akibat kebijakan pemerintah dan sistem yang korup dan manipulatif), faktor kerusakan lingkungan akibat ulah manusia yang mengakibatkan banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau, kurangnya aksses petani pada teknik pertanian mutakhir (pertanian organik, teknik membuat pupuk sendiri/ swadaya, dll) akibat puluhan tahun dihegemoni sistem pertanian yang sentralistik, sehingga petani jadi tergantung pada pemerintah dan memandulkan kemampuan kemandirian bertani, juga sistem pasar yang membuat harga selalu jatuh di musim panen.

3. Kesehatan : belum meratanya akses pada fasilitas dan pengetahuan kesehatan; ketidakberpihakan pemerintah pada rakyat lemah-miskin, dengan masih adanya pasien sekarat yang ditelantarkan rumah sakit karena tidak bisa memberikan uang jaminan di muka.

4. Kemiskinan dan pengangguran : dua hal itu seperti lingkaran setan yang saling terkait erat. Miskin karena tidak ada pekerjaan, dan tidak mendapat pekerjaan karena miskin jiwa dan kemampuan individu. Lapangan kerja yang tersedia makin kurang berkontradiksi dengan potensi alam dan jumlah manusia yang besar dan sangat menjanjikan. Itu lebih disebabkan oleh manusia –manusia banyak yang masih tidur, tidak sadar akan potensi alam di sekitarnya (Sarundajang, 2005), kurangnya kemauan, rasa kemandirian, pengetahuan dan keterampilan. Kurangnya kemauan dan kesadaran dari yang berwenang untuk memperkuat dan memperluas akses yang berkeadilan dan beradab terbuka tidak membeda-bedakan apalagi menurut feodalisme gaya barui yaitu berdasarkan kemampuan ekonomi, dan jabatanisme, kenalanisme/ koncoisme/ kolusi.

5. Bencana akibat ulah manusia (banjir, tanah longsor, dan kekeringan, juga lumpur panas Sidoarjo) : Sebab utamanya adalah nafsu untuk meraih keuntungan materi sebesar-besarnya secara instan dari sumber-sumber alam, diperkuat dalam iklim yang penuh KKN, manipulasi, premanisme, dan sistem penjajahan gaya baru, sehingga sangat subur untuk mengumbar nafsu itu. Menebang tanpa menanam, mengeruk tanpa rehabilitasi, membunuh tanpa mengembangbiakkan, dan menikmati tanpa melestarikan, termasuk membuang sampah tanpa mendaur ulang. Intinya adalah menerima tanpa tahu berterima kasih apalagi memberi dan memperbaiki kembali.

Dampak negatif itu diperparah dengan kurangnya budaya perencanaan. Kurangnya kematangan perencanaan yang penuh perhitungan, sehingga resiko yang dapat terjadi, jika itu benar-benar terjadi, terutama resiko negatifnya, akan di luar perkiraan, sehingga kita akhirnya tersentak karena tidak punya kekuasaan, kekuatan dan kemampuan untuk menanggulangi, menangani dan menyelesaikan.

6. Penanganan korban pasca-bencana (baik bencana akibat ulah manusia, maupun bencana alam (gempa, tsunami, gunung meletus)) : birokrasi yang berbelit-belit, lamban, tidak tanggap, sarat KKN, manipulasi, mementingkan keuntungan diri sendiri diatas penderitaan rakyat, tidak ada panduan yang jelas. Jika terjadi bencana antusiasme untuk menolong hanya pada bulan-bulan awal pasca-bencana, baik jumlah maupun kualitasnya. Sebagian besar adalah spontanitas dari masyarakat yang peduli. Tapi tanpa program dan panduan yang jelas, pemerintah yang jadi pemandu dan berkewajiban/ bertanggung jawab penuh, tidak bisa melakukan fungsi semestinya, sehingga korban banyak yang tak tertangani seperti yang terjadi di korban Aceh, Yogya/Jateng, dan korban banjir Bengawan Solo.

Kita tinggal di alam ciptaan Tuhan yang sistem dan mekanimenya sudah sangat matang dan pintar, hasil sejarah penciptaan yang menurut para ahli sudah berlangsung milyaran tahun. Maka seharusnya kita bangun bumi dan manusia di dalamnya sebagai masa depan kita selaras hukum Tuhan dengan menyeasuaikan diri untuk mengikuti arah laras kehidupan alami ini. Manfaatkan yang baik, dan bersiap menyongsong resiko yang timbul dari alam ini ( bencana, penyakit).

7. Penyakit politik-sosial-budaya : diakibatkan pendidikan yang salah arah tujuannya dan salah kaprah pelaksanaannya, diperparah dengan pembiaran atas apa yang terjadi di masyarakat. Masyarakat seolah disuruh berjalan sendiri-sendiri menghadapi dunia sistem yang sangat abstrak bahkan kejam, dan di luar jangkauan perkiraan pemikiran dan kemampuan mereka. Sehingga rakyat seperti ayam kehilangan induknya, mencari ‘pegangan’ tanpa panduan dan akhirnya menemukan apa yang diyakininya, walaupun semu karena bertentangan dengan rasa kesusilaan dan keadilan umum. Hal itu menimbulkan dan menyuburkan naluri manusia berhukum rimba (baca: premanisme) yang bertipe memaksakan kehendak atas orang lain menurut suatu hukum suci yang mereka jadikan doktrin tunggal serba kaku yang diyakininya secara membuta, yang merasa punya jawaban-jawaban benar satu-satunya yang tidak bertoleransi terhadap interpretasi lain (Mangunwijaya, 1999). Mereka mudah ngamuk, dan tak malu mempertontonkan mental rimba liar mereka di depan masyarakat yang katanya sudah beradab ini. Tapi amukan mereka bisa berhenti jika ada kompromi yang juga tentu saja melibatkan uang. Manusia berhukum rimba bermental topeng, sangat pandai menyamar seperti serigala berbulu domba. Ketika dibiarkan mereka makin menampakkan wujud aslinya. Tapi ketika sudah ketahuan aslinya, anehnya mereka malah mengakuinya bahwa mereka memang serigala berbulu domba. Tapi lebih aneh lagi pemerintah hanya membiarkannya dan memberi akomodasi sehingga resmi jadi ormas, dan para petinggi negara pun hadir di tengah peresmian perkumpulan para serigala itu.

Memprihatinkan, karena pemerintah tidak tegas. Kita memang tidak mau kembali ke Orde Baru yang memberangus setiap ormas/ lsm/media/kelompok yang berpotensi menggoyang kekuasaan sesuai seleranya. Hal ini bisa dianalogikan dengan manusia yang makan atau minum, manusia tentu saja memilih dan menyeleksi, mana makanan/ minuman yang sehat bergizi dan mana mengandung racun yang bisa merusak kesehatan atau bahkan bisa membunuhnya. Namun Orba sangatlah ceroboh dengan membuang makanan bergizi, dan malah makan makanan yang telah busuk/ beracun namun dibungkus dengan indah dan rapi.

Di era reformasi ini kita tidak boleh mengulang kecerobohan Orba dengan bentuk lain, yaitu malah dengan memakan apa saja tanpa pandang bulu, baik itu bergizi maupun beracun.

Ada pendapat bahwa nanti yang baik dan yang buruk akan terseleksi dengan hukum alam. Maka pendapat itu amatlah menyesatkan dan membahayakan. Pertama, mengapa kita menyandarkan diri dengan hukum alam yang liar dan primitif itu, apa gunanya hukum Tuhan, hukum tata susila dan hukum positif yang dengan susah payah disusun, supaya negara ini berpijak padanya? Kedua: jika makanan baik atau yang buruk dimakan semua tanpa menyeleksi dan menguji, dan akhirnya sudah terlanjur masuk ke dalam sistem, maka akan menurunkan mutu dan merusak sistem itu bahkan menghancurkannya. Ingat rumus matematika sederhana : + ditambah - = - (akan terjadi proses penurunan).

Untuk menghadapi, mengurai untuk memecahkan dan menyelesaikan masalah bangsa, maka kita perlu untuk meredefinisikan ulang Pancasila sebagai dasar negara kita, menjadi payung segala peri-kehidupan negara. Kita telah terlalu lama meninggalkan Pancasila. Kita harus mereformasi cara pandang kita dan cara mengamalkan Pancasila. Karena Orde baru telah mengilmiahkan, menyakralkan Pancasila, sehingga nilai-nilainya tidak membumi, dan sulit tertanam pada jiwa seluruh rakyat. Akibatnya di era reformasi Pancasila banyak ditinggalkan warga negara Indonesia dengan berbagai alasan dan pertimbangan.

Tapi di era reformasi ini pula kita harus berupaya meletakkannya pada tempat yang semestinya, tapi bukan juga untuk mengagamakannya. Nilai-nilai Pancasila mempertegas bahwa Indonesia tidak menjadi negara Islam karena bertentangan dengan realitas kemajemukan bangsa, tapi juga bukan negara sekuler, karena melawan degup sanubari rakyat yang religius (Sukarno, dalam Kompas, 2001). (Susetyo Basuki)

*****

Lampiran

Ringkasan tulisan Living with Pancasila, bagian dari tulisan Mentalitas Presiden, oleh Ubaydillah, A.N., 2003)

Baik jabatan politis ataupun mentalitas, seorang Presiden (dan juga bagi seluruh rakyat Indonesia. penulis) sudah dibuatkan acuan bagaimana solusi persoalan negeri dapat diciptakan. Salah satu acuan yang dapat menjadi pembelajaran diri adalah rumusan Pancasila yang antara lain berisi ajaran tentang :

1. Meletakkan Tuhan. Tuhan adalah sumber nilai-nilai keluhuran dan kekuatan tak terbatas, dan kontrol keseimbangan hidup yang secara mekanis-teknis telah diatur dalam agama. Bertuhan mejadi kebutuhan naluriah semua manusia. Orang yang tidak merasa dirinya punya nilai-nilai luhur akan merasa tidak terlindung, tidak terkontrol olehnya yang secara psikologis mudah goyah dan gampang menciptakan deviasi penyimpangan perilaku yang merusak diri, masyarakat dan alam.

2. Kemanusiaan. Persoalan dalam negeri memerlukan proses bagaimana mengejawantahkan nilai dan kekuatan Tuhan di dalam diri manusia berdasarkan hukum alam/ bumi. Yang mendasar adalah menjalin hubungan kemanusiaan secara adil : win-win solution (berkeadilan), sikap asertif dan beradab; kredibilitas moral bermartabat dan perlakuan rasional-humanistik. Hubungan kemanusiaan sangat penting untuk menghadapi persoalan yang secara matematis tidak dapat dipecahkan oleh keterbatasan yang kita miliki. Persoalan akan selesai ketika kita punya jalinan hubungan dengan manusia lain yang kekuatannya cukup.

3. Persatuan. Persatuan adalah upaya menciptakan kreasi kekuatan ketiga yang kokoh dalam menghadapi persoalan hidup. Persatuan bukan menyatukan hal yang sudah sama, tapi menyatukan hal yang berbeda mulai tingkat internal (dengan mengerahkan sekian kekuatan yang secara alamiah berbeda fungsinya untuk menggempur tantangan internal : ragu, pikiran negatif, sikap mental yang dihegemoni oleh sikap mental tak berdaya, malas, bodoh dll) dan eksternal ( seluruh kreasi ketiga baik dalam bentuk barang ataupun jasa dihasilkan dari persatuan kekuatan yang berbeda dengan sentuhan ide kreatif).

4. Kerakyatan. Agar kreasi kita tidak menjadi bencana yang berarti menjadi awal dari masalah, maka dibutuhkan ketaatan terhadp kaidah kepemimpinan yang merujuk pada kehikmahan dan kebijaksanaan. Hikmah adalah penemuan makna hidup, dan kebijaksanaan adalah kematangan yang mempertimbangkan posisi orang lain dan alam menurut kepentingan kemaslahatan. Keduanya adalah manifestasi dari persatuan kekuatan, hubungan kemanusiaan dan Ketuhanan. Kepemimpinan yang merujuk pada kebenaran subyektif jelas akan menyengsarakan rakyat, yang akan memicu pelengseran pemimpin itu oleh kekuatan lain.

5. Keadilan. Lawan keadilan adalah kezaliman yang berarti meletakkan sesuatu terlalu berlebihan sehingga merugikan hal yang lain. Kebutuhan naluriah berTuhan harus diletakkan secara adil dengan kebutuhan alamiah menjalin hubungan kemanusiaan. Kebutuhan alamiah untuk berhubungan kemanusiaan harus diletakkan secara adil dengan kebutuhan ilmiah untuk mengasah kekuatan internal dan eksternal secara bersatu, begitupun sebaliknya. Tanpa ikatan untuk meletakkan sesuatu secara adil, sangat jauh kemungkinan untuk menciptakan persatuan atau kepemimpinan secara hikmah dan bijaksana. Dalam kondisi demikian, mungkin sekali persoalan datang seperti pasukan, dan tanggung jawab untuk merebut solusi diterima dengan cara membiarkan, sebab tidak ada cadangan untuk menyelesaikan.

Ajaran Pancasila yang sebenarnya sudah mengandung dorongan unhtuk mengasah kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual, kalau dipikirkan lebih dalam, ternyata tidak cukup diterima sebagai hafalan, tapi menuntut komitmen “LIVING WITH” yang secara tidak langsung menuntut pembelajaran diri seperti bayi belajar melangkah (baby-step learning model). ( Ringkasan tulisan Living with Pancasila ,bagian dari tulisan Mentalitas Presiden, oleh Ubaydillah, A.N., 2003)

Y.B. Mangunwijaya : Merintis Republik Indonesia yang Manusiawi (1999)

Ciri –ciri bangsa yang tidak cerdas dan hanya ikut emosi belaka / dangkal cara penggagasannya, akan :

1. Mudah sekali diadu domba, dihasut yang akan menimbulkan anarki dan kesewenang-wenangan;

2. Tidak tahu duga-prayuga (adab sopan santun);

3. Tidak tahu hubungan kausal sebab-akibat dan urutan prioritas;

4. Tidak mampu berpikir jangka panjang, terlebih dalam masyarakat yang bergaya instant, konsumtif dan hedonis sekarang ini;

5. Demokrasi tidak dimungkinkan, hanya anarki sesuka emosi;

6. Berekonomi pasar bebas dalam hubungan internasional yang hanya akan bermuara pada kesimpangsiuran nepotisme serta praktek berebutan monopoli yang saling mengganyang;

7. Tidak berdisiplin, oleh karena itu

8. Boros, tidak pernah tahu memelihara sesudah membangun sesuatu, apalagi mengelola secara hemat dan efisien, sehingga

9. Akhirnya menjadi lahan subur korupsi dan penghisapan terhadap kaum lemah;

10. Masyarakat primordialime, ledakan konflik SARA dan macam-macam sektarianisme/separatisme secara berkesinambungan, yang

11. Mudah memicu pemberontakan / timbulnya terorisme, bila ketidakcerdasan berpadu dengan frustasi, sehingga mudah mengoyahkan stabilitas, dinamika maupun kreatifitas yang mutlak diperlukan;

12. Kesetiakawanan pada bangsa yang tidak cerdas makin pudar, karena tiap orang maupun kelompok tahunya cuma membentengi diri sendiri saja pada iklim hukum rimba agar bisa bertahan. Akibat langsungnya adalah fanatisme yang mengarah pada disintegrasi bangsa yang kemudian secara cepat juga akan memanggil kekuatan-kekuatan pemecah belah dari luar, sehingga perpecahan bangsa mudah terjadi;

13. Tanpa kecerdasan tidak akan timbul kemajuan kreatif, karena tidak ada proses dialektik (berkat loyal oposition yang cerdas dan membangun) yang memungkinkan pembebasan stagnasi dan sintesis (buahinteraksi sintesis dan antitesis) berupa produktivitas serta inovasi-inovasi segar yang jadi syarat mutlak bagi bangsa yang makin canggih baik dari segi IPTEK, profesionalisme bisnis, maupun relasi-relasi manajerial yang rumit;

14. Bangsa yang tidak cerdas selalu merasa diri minder, bungkam bila perlu bicara, tapi omong bila harus diam dan suka membiakkan segi-segi negatifnya, karena persoalan tidak pernah digarap pada akar permasalahannya, tapi hanya dihindari sambil membungkam mereka yang eksploratif dan kreatif;

15. Demikianlah suatu bangsa yang tidak cerdas mudah bingung, marah, nekad-irasional karena ketumpulan daya pikir, dan akhirnya hanya tahu kekerasan, penindasan hak-hak asasi warga negara terutama yang lemah miskin, suka berbahasa teror, dan merekayasa paksaan yang akhirnya justru menjadi senjata makan tuan yaitu mempercepat disintegrasi bangsa.

Proses pencerdasan bangsa, melalui mekanisme khususnya politik dan ekonomi yang normal (bukan seolah dilakukan dalam keadaan darurat) :

1. Berdasarkan keampuhan kelembagaan (bukan keunggulan individu pemimpinnya saja);

2. Predictable (tidak berdasarkan kejutan/ percaturan taktis aneh-aneh);

3. Berdasarkan suasana melu handarbeni, partisipatif (dalam praktek sehari-hari dalam sebuah lingkup bangsa), yang bersendikan keikhlasan (bukan kekuasaan, rekayasa, paksaan, apalagi teror kasar maupun halus).

Kutipan tulisan Jansen Sinamo (2005) : MANUSIA MORAL DI DUNIA KERJA: MUNGKINKAH SUKSES ?

….Prestasi Amartya Sen terbesar adalah kajian ekonomi pembangunannya yang memasukan parameter-parameter moral sehingga indikator ekonomi pembangunan yang lebih sesuai dapat dirumuskan. Teori Sen dengan gemilang mampu memahami dan menjelaskan kelaparan dan kemiskinan di dunia yang kemudian diakui oleh PBB dengan menjadikan parameter Sen menjadi unsur penting dalam Human Development Index (Indeks yang menjelaskan tingkat kesejahteraan suatu negara. Tetapi jika diteliti lebih dalam, prestasi Sen ini sebenarnya dipandu oleh keyakinannya bahwa ilmu ekonomi tidak hanya berurusan dengan pendapatan dan kekayaan, melainkan seharusnya juga berwajah manusia. Dengan kata lain ekonomi juga harus berdimensi moral. Menurut Sen keberhasilan pembangunan tidak boleh hanya diukur dari peningkatan pendapatan per kapita, tetapi juga parameter kesejahteraan seperti pendidikan, kebebasan, dan demokrasi.

Sen membuktikan bahwa indikator-indikator kemiskinan, ketidakmerataan distribusi ekonomi, dan kelaparan ternyata erat kaitannya dengan elemen moral dalam sistem pengambilan keputusan ekonomi di tingkat atas. Menurut Sen, kelangkaan pangan bukanlah penjelasan memadai bagi bencana kelaparan. "Saya tidak pernah menjumpai kelaparan di negara demokratis dan selalu terjadi di bawah keditaktoran militer, pemerintahan satu partai atau rezim kolonial lama.", kata Sen.

Dan argumen ini memang benar. Buktinya, di negara di mana kelaparan muncul beras malah ditimbun dan diekspor. Di negara yang mendapat bantuan beras enak, rakyatnya disuruh membeli beras tak enak dengan harga mahal. Sen menyimpulkan bahwa kelaparan selalu paralel dengan kebijaksanaan distribusi pangan yang tidak mengindahkan nilai-nilai moral.

Teori Sen merupakan terobosan penting dalam ekonomi pembangunan, walaupun semula obsesi keilmuannya ini banyak dicemooh, termasuk oleh profesornya di Cambridge, yang berkata, "Tinggalkan saja omong kosong tentang moral itu!" Tetapi cemoohan terhadap teorinya tidak menyurutkan keyakinan dan kesungguhan Sen. Ia terus bekerja mengkaji dan merevisi sejumlah parameter ekonomi pembangunan. Masa kecilnya di India yang akrab dengan kemiskinan membuat Sen bertekad untuk mengenyahkannya melalui ilmu ekonomi. PBB akhirnya mengakui temuan-temuan Sen sebagai sangat signifikan untuk memetakan kemiskinan dan kelaparan di dunia. Jadi, sangatlah pantas Hadiah Nobel 1998 dianugerahkan kepada Sen yang telah melayani kaum miskin melalui ilmunya sekaligus mengangkat harkat ekonomi pembangunan dalam keluarga ilmu ekonomi.

Kisah sukses Amartya Sen di atas saya angkat untuk menunjukkan bahwa moralitas dan etika tidak bertentangan dengan sukses. Malah sebaliknya, moralitas adalah dasar yang kokoh bagi sukses besar berskala dunia. Namun harus diakui, jika yang dimaksudkan bahwa sukses adalah kaya secara instan atau berkuasa dengan cara apa saja, maka moralitas adalah sebuah jeruji penghambat. Tetapi sukses terakhir ini - dalam perspektif panjang - bukanlah sebuah sukses, melainkan bencana. Tak perlu banyak bukti, lihat saja bankir-bankir kita yang mengelola banknya suka-suka hati, mengabaikan nilai-nilai kapatutan dan keadilan, akhirnya terjerembab ke dalam lembah kenistaan, dengan mewariskan sistem perekonomian morat-marit yang membebani 200-an juta rakyat.

Memang ada sebab lain yang membuat orang terjerat mengabaikan nilai-nilai moral dan kemanusiaan dalam bekerja. Di antaranya boleh disebut:

1. Orientasi kerja yang hanya untuk "perut", dan kurang untuk "dada dan kepala".
2. Perspektif kerja yang terlalu kekinian, dan kurang berwawasan sejarah dan futuristik.
3. Pusat perhatian yang sangat self-centered, dan kurang principle-centered.
4. Pola hidup yang menumpuk, dan kurang berbagi dengan sekitar.
5. Modus kerja yang mengambil dan mengeksploitasi, dan kurang untuk menabur dan mengkonservasi.

Dalam kaitan ini, makna sukses juga harus kita reformasi. Sukses yang hanya diukur dengan kekayaan, kekuasaan, pangsa pasar, aset, fasilitas, pertumbuhan sudah tidak memadai lagi. Sudah semakin hilang daya pukaunya. Kita harus berbicara tentang sukses dalam ranah lebih fundamental seperti kemanusiaan, kebahagiaan, keadilan, kekekalan, kasih sayang, demokrasi, dan kebahagian. Dalam artian inilah motto Institut Darma Mahardika kami buat: Success Re-Invented. Saya berpendapat, yang kita butuhkan adalah emas, bukan loyang; sukses sejati dan bukan sukses palsu. Bagi saya, ciri-ciri sukses sejati itu hendaknya memenuhi enam syarat sebagai berikut:

1. Sejati: Sukses yang benar mestinya berdiri di atas kenyataan sejati, pertama-tama dalam dunia moral-spiritual, dan baru kemudian dalam dunia bio-fisikal, mental-psikologikal, dan sosio-politikal. Sebaliknya sukses semu, karena kepalsuannya, cepat atau lambat, akan menemui kesudahannya secara tragis.

2. Lengkap: Sukses yang benar harus mencakup semua dimensi kehidupan secara komprehensif, meliputi spiritual, moral, psikologikal, intelektual, fisikal, material, finansial dan sosial secara lengkap. Sebaliknya sukses parsial, monodimensional, karena ketidakseimbangannya, cepat atau lambat, akan runtuh dan bubar sendiri.

3. Menumbuhkan: Sukses yang benar mestinya menumbuhkembangkan manusia dalam sebuah ekosistem kehidupan yang sehat yang memungkinkan manusia itu hidup sepenuh-penuhnya (living to the fullest). Sebaliknya sukses yang keliru, karena justru menghambat pertumbuhan manusia bahkan merusakkannya, secara pasti akan menuju kehancuran.

4. Membebaskan: Sukses yang benar seharusnya membebaskan manusia setidaknya dari empat belenggu: (1) membebaskan manusia dari kebodohan dan takhyul, sehingga dia merdeka untuk berpikir dan bekerja secara rasional; (2) membebaskan manusia dari ketakutan dan perasaan tertindas, sehingga dia merdeka untuk berekspresi dan beraktualisasi; (3) membebaskan manusia dari kelemahan moral dan kelumpuhan mental, sehingga dia merdeka untuk proaktif dan kreatif; (4) membebaskan manusia dari kemiskinan dan kekhawatiran hidup, sehingga dia merdeka untuk memberi dan berbagi dengan sesama. Pembebasan dan kebebasan ini memungkinkan manusia menjadi makhluk merdeka yang berjalan tegak mandiri menuju cita-cita agungnya di cakrawala yang terjauh (leading to the farthest). Sebaliknya sukses yang keliru, karena justru membelenggu manusia oleh macam-macam belenggu perhambaan seperti materialisme atau hedonisme akan tiba pada kerusakan total.

5. Memperbarui: Sukses yang benar seharusnya mampu memperbarui manusia dari dalam menuju tingkat tertinggi dalam evolusi mental-spiritual manusia, sehingga perjalanan hidup manusia secara kualitatif meningkat dari waktu ke waktu (leaping to the highest). Sebaliknya sukses yang keliru, oleh karena bercokol terus di alam lama, akan ketinggalan dan kehilangan relevansinya dalam kehidupan, cepat atau lambat, akan punah dengan sendirinya.

6. Membahagiakan: Sukses yang benar seyogianya mendatangkan sukacita dan ketenteraman batin. Sukses yang benar pastilah diridhoi Allah, sehingga olehnya manusia dapat menjadi faktor berkat bagi sesama dan alam sekelilingnya. Dia tidak menjadi faktor mudarat, tidak dicemburui orang, tidak menyilaukan, tidak mengintimidasi, dan tidak menjauhkan manusia itu dari habitat sosial alamiahnya. Dia hidup harmonis dalam suasana cinta mencintai dengan kasih sayang terbaik dengan sekitarnya (loving to the best). Sebaliknya sukses yang keliru, karena sangat egoistik, akan mendatangkan ketidakpuasan batin dan rasa tak pernah cukup yang memicu keserakahan dan keangkuhan yang membuahkan kebencian dari sekitarnya yang pada gilirannya mendatangkan kehancuran dirinya sendiri.

Saya berpendapat bahwa jika konsep sukses tidak memenuhi enam syarat di atas, maka sukses macam itu tidak patut dikejar, karena sesungguhnya upaya itu tak ubahnya mengejar bayangan hampa yang dibungkus dengan kesia-siaan. Menurut Raja Salomo, hal tersebut adalah upaya menjaring angin. Percuma dan akhirnya mengecewakan.

Selanjutnya, disamping fundasi moral-etikal, untuk mencapai keberhasilan sejati di atas dibutuhkan sedikitnya empat faktor berikut ini:

1. Roh sukses sebagai sumber energi untuk berjuang mencapai sukses.
2. Kecerdasan sebagai modal untuk memahami realitas kehidupan, sehingga terbentuk akumulasi pengetahuan untuk tujuan-tujuan produktif.
3. Kompetensi sebagai basis untuk memproduksi nilai-nilai yang positif bagi kehidupan.
4. Fasilitas termasuk pelbagai bentuk modal, organisasi, dan network.

Keberhasilan yang dicapai dengan melanggar prinsip-prinsip moral pasti akan hancur. Keberhasilannya adalah keberhasilan semu, atau paling-paling keberhasilan parsial. Lama bertahannya cuma ditentukan oleh kekuatan kasar (brute power) dari orang atau sistem yang mendukungnya. Sukses Ferdinand Marcos bertahan selama 20 tahun. Sukses Soeharto lebih lama sedikit, 32 tahun. Sukses Komunisme lebih lama lagi, 75 tahun. Akan tetapi jelas sekali, cepat atau lambat akhirnya pasti hancur. Di fihak lain, keberhasilan yang ditopang dengan moralitas kegelapan, seperti bisnis Mafia misalnya, bisa bertahan sangat lama, namun mereka harus membayarnya dengan menjual jiwa mereka kepada The Father of Darkness itu sendiri. Bisnis demikian akan membawa maut di ujungnya. ***





Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri. (Bung Karno)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar