Kami melayani Anda dalam desain

Kamis, 26 Juni 2008

To Make Our Earth Greener and to Create New Fresh Water Resources

Halo Saudara! Selamat datang di blog Mannusantara!



It is very suffering to see local residents of Jakarta must defended against flood that happens every year., especially in rainy weather. If flood come, condition in Jakarta was similar like huge pool, full with dirty water. This situation is as the result of wrong thinking pattern to manage problems, wrong perspective to see context of the problems, and accumulation of unfinished problems.

It is the time for Jakarta and surrounding area, and commonly in all Indonesia wide, have foresting movement again, not only to plant. The highest goal is to make new natural fresh water resources, and to avoid flood disaster. We have to change the old paradigms that pull us to exploit natural resources too much. The old paradigms that make us forget to plant, to grow, to reserve our natural resources again. Or even to create new resources. Although water as the ordinary natural resources, now has been an expensive and rare thing in almost every big city, and in area that have not rain enough or in hot summer season. In short word, we have forgot to invest our natural resources’ future.

Forest and water are two things that have very close correlation, and never been did. Even until death do men kind apart from this earth. If there are no forests on earth surface, the rainwater has no long time to come back again to the sea. And on the way to the sea, those accumulated rainwater become a huge bulky mass of water, which have huge energy to break everything on its way. So this situation becomes a disaster.

But if there are still have existed forest on earth surface, rainwater will have a long time to reach the sea again. Because the trees in the forest arrest the rainwater in their roots, and release it little by little. In hot summer season, the water deficits in the forests will released continuously and stably, and give guarantees to the nature’s life sustain.

So, it is the matter of us. Up to us, the men kind on this fragile earth. Want to take apart to reserve natural resources, so we can sustain our life. Or, even to exploit natural resources too much, then will harm our life next.





Kegagalan dapat dibagi menjadi dua sebab. Yakni, orang yang berpikir tapi tidak pernah bertindak, dan orang yang bertindak tapi tidak pernah berpikir.
(W.A. Nance)


Terima kasih sudah mengunjungi halaman ini. Silakan membuka posting artikel lain di blog ini (silakan klik posting lama, halaman muka atau posting baru di bawah tulisan ini) untuk menjelajahi wilayah lain Nusantara, menyelami pemikiran dan mengenali permasalahan, supaya kita menjadi bagian dari solusi bagi bangsa ini.

Energy Recycle and The Global Warming

Halo Saudara! Selamat datang di blog Mannusantara!

Mount Singgalang, West Sumatra, Indonesia. picture by Rob Woodal @ flicker


Our earth, where we live is a place that have super modern energy recycle process, to support the variety lives in it. Because those energy elements are very affected to form and to create life materials. Next, energy recycle processes in biological chains, or we can say that as food chains.
Life mover is energy. And energy that dominates all life forms and patterns in this earth is sunshine and sun’s heat. Especially, all life forms and patterns that connected with atmospheres. But the earth, truly has its own energy, but kept in its center as lavas. These lavas ejected sporadically and unpredictable in a geological process, as volcanic blast or as earth quake. These released energies by human kind known as natural disaster, because these are very harmful for their life. But in some places that have high volcanic activities, the volcanic energies can controlled by human and transformed as electric energy.
The main source of life on earth is the sun. There are creatures on earth that have developed and improved ability to “cook” materials and minerals from soils, air and waters of the earth and process those to become organic materials and oxygens that give life. Those creatures are plants, from one cell to the more than 50 meters height trees. Organic nutritions and oxygen which produced by plants are two things that needed by other creatures, includes human being to live.
We back again to solar energy as earth life’s main supporter. The solar energy organically used by the plants to transform the materials from soils, carbondioxide from the air, and water become organic nutritions and oxygen. Organic nutritions and oxygen are two things that needed by other creatures, includes human being to live.
Then, died organism and creatures, divided in some biological, physical and chemistrical process, even in very long time until millons years. At last those process produce fosil energy sources like oil, gas and coal. Truly, those fosil energy sources are differensial product of sun energy. These processes are similar with physical law that says energy cannot destroyed and created, but the form can change.
Paralel with increasing of human quantity, and increasing of activities diversity of human, so the huge energy sources are needed. But with huge scale of focil energy mining and consumption, caused the dangerous condition for our planet. Our planet become hotter and hotter everyday caused by the glasshouse affect of pollutants of human's activities.



Jika kamu berhasrat untuk berjaya, jangan hanya memandang ke tangga tetapi belajarlah untuk menaiki tangga itu.


Terima kasih sudah mengunjungi halaman ini. Silakan membuka posting artikel lain di blog ini (silakan klik posting lama, halaman muka atau posting baru di bawah tulisan ini) untuk menjelajahi wilayah lain Nusantara, menyelami pemikiran dan mengenali permasalahan, supaya kita menjadi bagian dari solusi bagi bangsa ini.

Sabtu, 07 Juni 2008

Slamet Riyadi Street, City of Solo / Jalan Slamet Riyadi, Solo, Jawa Tengah

Foto udara Jalan Slamet Riyadi Solo / aerial view of Slamet Riyadi street in the heart of city of Solo, Central Java, Indonesia
Klik gambar untuk memperbesar / click picture to enlarge


foto Batas Kota barat Surakarta di Jalan Slamet Riyadi, Kleco, Laweyan


foto Gapuro Kulon (Gapura Barat), Jl. Slamet Riyadi, Kleco Laweyan, Solo


foto Simpang Tugu Gladag, Patung Slamet Riyadi


foto Gapuro Gladag, Solo

Slamet Riyadi Street, City of Solo, Central Java, Indonesia
Slamet Riyadi is a name of city of Solo’s main street. This street has five kilometers length and about 30 meters wide. This street connects Solo to other cities in Java, such as Semarang, Yogyakarta and Jakarta.
Begins at Kleco traditional market at the west boundary of this city until it ends at Gladag monument in east which nearest path to Surakarta Palace square, this street is fulfill by offices, stores, public service facilities, residences, hotels, cultural and historical sites. This condition make this street become such as monumental and legendary street. And also as the longest continue public spaces in that city with national, even international reputation.
The unique part of this street is an active railway path in the southern side of the street. This linear path between rail way and the street is one and only in all Indonesia wide.
The city government of Solo has a progressive decision to revitalized this street with to remake southern lower-speed-vehicle or non-motor vehicle way become totally pedestrian way. Wow, what a big step!
Want to walk on the pedestrian way of Slamet Riyadi street ? Come and visit city of Solo, Central Java, Indonesia. Discover the high value of Javanese culture atmosphere in this city.

Jalan Slamet Riyadi, Solo, Jawa Tengah
Jalan Slamet Riyadi adalah sebuah ruas jalan utama dan terbesar di Kota Solo. Jalan ini mempunyai panjang sekitar 5 kilometer, dengan lebar sekitar 30 meter. Jalan Slamet Riyadi jika ditelusuri dari arah barat dimulai dari batas kota Solo di Pasar Kleco, dan berakhir di perempatan Gladag yang menghubungkan dengan Kraton Surakarta dan pusat pemerintahan Kota.
Jalan ini menampung empat lajur jalur cepat untuk kendaraan bermotor, dua lajur jalur lambat untuk kendaraan tidak bermotor, masing-masing di sebelah kanan dan kirinya. Kemudian ada dua lajur pembatas antara jalur cepat dan jalur lambat yang ditumbuhi tanaman. Tak ketinggalan dua lajur trotoar di kedua belah sisi jalan yang menjadi perantara antara jalan dengan properti di sepanjang jalan itu. Keunikan lain adalah terdapat jalur lintasan kereta api di pinggir selatan jalur cepat dari Purwosari menuju Gladag. Jalur KA ini masih dipakai rangkaian KA untuk mengangkut penumpang sampai Wonogiri.
Jalan ini menjadi pusat perhatian karena pemerintah Kota Solo membuat gebrakan dengan membangun city walk di sisi selatan ini. City walk yang dimaksud berupa jalur untuk pejalan kaki (jalur pedestrian) selebar sekitar 5 meter, dengan mengalihfungsikan jalur lambat di sebelah selatan. Suatu upaya yang sangat memanusiakan pejalan kaki dan warga kota umumnya. Juga suatu langkah yang sangat bervisi ke depan yang mendukung pariwisata, gerakan hemat energi, menghidupkan interaksi social masyarakat, serta tentu menyehatkan masyarakat.
Walaupun masih baru dibangun beberapa ruas, rencananya city walk ini akan dibangun secara menerus dari Purwosari sampai Pasar Gede. Tentu banyak hal yang menarik untuk dilihat di sepanjang jalan ini dengan berjalan kaki : bangunan bersejarah, museum, hotel, perkantoran, stadion Sriwedari yang bersejarah, sampai ke patung Slamet Riyadi serta pedagang makanan yang menjajakan sajian khas Solo yang menggugah selera.
Ingin berjalan-jalan di sepanjang Jalan Slamet Riyadi yang megah, anggun, bersejarah dan… romantis ini ? Silakan berkunjung ke Solo.



Sukses seringkali datang pada mereka yang berani bertindak; dan jarang menghampiri penakut yang tidak berani mengambil konsekuensi. (Jawaharlal Nehru)
silakan memberi komentar atas tulisan ini / please give a comment about the topic above
Terima kasih sudah mengunjungi halaman ini. Silakan membuka posting artikel lain di blog ini (silakan klik posting lama, halaman muka atau posting baru di bawah tulisan ini) untuk menjelajahi wilayah lain Nusantara, menyelami pemikiran dan mengenali permasalahan, supaya kita menjadi bagian dari solusi bagi bangsa ini.

Kawasan Kraton Yogyakarta / Yogyakarta Palace Area





gambar foto udara kawasan Kraton Yogyakarta / aerial picture of Yogyakarta Palace area
(klik gambar untuk memperbesar / click picture to enlarge)


foto Pasar Manuk (pasar burung) Ngasem, Kawasan Kraton Yogyakarta



foto Gapura Taman Sari, kawasan Kraton Yogyakarta



foto Alun-alun Kidul (Selatan) Kraton Yogyakarta


foto Alun-alun Lor (Utara) Kraton Yogyakarta


foto salah satu ruang jalan di kawasan Kraton Yogyakarta



peta kota Yogyakarta / Yogyakarta city map
sumber/source : www.indonesia-tourism.com
(klik gambar untuk memperbesar / click picture to enlarge)

Kawasan Kraton Yogyakarta adalah cikal bakal terbentuknya Kota Yogyakarta. Kraton dibangun di tempat yang diyakini sangat sesuai jika dilihat dari faktor pertahanan dan keamanan, yaitu terletak di antara dua buah sungai, Kali Winongo di barat dan Kali Code di timur. Sejak berdiri pada tahun 1755, kawasan ini relatif tak berubah tata ruang dan susunan jaringan jalannya. Yang berubah adalah kepadatan penduduknya yang tercermin dari kepadatan bangunan yang ada untuk berbagai fungsi.
Terdapat banyak tempat bersejarah dan obyek aktivitas warga yang menarik untuk dikunjungi wisatawan, sebut saja bangunan Kraton Yogyakarta sendiri beserta kedua ruang terbukanya di utara ( alun-alun lor) dan selatan ( alun-alun kidul ). Kemudian Mesjid Agung yang disebut Mesjid Gedhe Kauman oleh warga setempat, beserta kampung Kaumannya, dengan aktivitas warga dan arsitektur bangunannya yang khas. Kemudian ada Taman Sari yang merupakan tempat pemandian dan rekreasi bagi keluarga Kraton. Taman Sari dibangun dengan gaya arsitektur yang unik, gabungan dari arsitektur jawa dan eropa. Kemudian terdapat pula pasar burung Ngasem yang mnjual berbagai satwa peliharaan. Serta sepanjang jalan di sekitar pasar tersebut yang menawarkan produk pakaian jadi dan kain batik khas Yogyakarta.
Yang juga menarik adalah tata ruang yang dibentuk di kawasan Kraton. Kawasan Kraton sendiri dibatasi oleh benteng pertahanan yang mengelilingi bangunan Kraton, beserta fasilitas pendukungnya serta pemukiman penduduk yang dulu bekerja dalam Kraton sebagai abdi dalem. Sayangnya benteng tersebut sudah tertutup pemukiman penduduk, dan hanya beberapa bagian saja sudutnya saja yang masih kelihatan, yang dikenal sebagai “pojok beteng”. Suasana ruang jalan dan perkampungan yang padat dan bersahaja, namun akrab dan penuh nuansa kekeluargaan.
Seperti kota-kota lainnya, kawasan Kraton Yogyakarta juga tak luput dari berbagai permasalahan akibat laju pembangunan, pengaruh perubahan pandangan hidup masyarakat, sumber daya yang tersedia, sampai kepada gelombang besar yang dinamakan gelombang modernisasi dan globalisasi. Contoh paling mudah terlihat dari banyaknya bangunan di dalam kawasan Kraton Yogyakarta sebagai kawasan konsrvasi budaya yang sudah tidak memakai pakem arsitektur tradisional Jawa. Bisa jadi terpengaruh oleh bentuk dan susunan ruang yang dianggap mengikuti trend, namun banyak kasus yang menunjukkan kalau bentuk dan susunan ruang tidak sesuai dengan kebutuhan dan peruntukan.
Selain itu banyak jalan kecil di kawasan Kraton yang kurang jalur untuk pejalan kaki. Dengan semakin pesatnya kegiatan pariwisata dan perekonomian, maka jalan-jalan di kawasan Kraton Yogya yang sempit itu dipenuhi oleh kendaraan bermotor. Ada baiknya jika kawasan Kraton diprioritaskan untuk pejalan kaki dengan memperbanyak jalur pejalan kaki yang saling berhubungan dalam kawasan itu.
Harapan untuk saat ini dan untuk masa depan adalah menjadikan kawasan Kraton Yogyakarta sebagai museum hidup. Di mana dengan sejarah yang cukup panjang tetap dapat menunjukkan keandalannya dalam kebudayaan, dan unjuk kreativitas sumber daya manusianya sesuai perkembangan jaman. Dengan atmosfer masyarakat yang ramah, halus namun terbuka terhadap pembaharuan dan sadar iptek, masyarakat Yogyakarta terbukti banyak melahirkan manusia-manusia yang berwatak namun tetap menjunjung nilai-nilai kemanusiaan. Dengan menjaga kawasan Kraton Yogyakarta dari serbuan pengaruh globalisasi negatif yang menuntut penyeragaman, dehumanisasi ( tidak adanya penghargaan terhadap nilai kemanusiaan), dan materialisme, maka akan mendukung pembangunan watak dan etos masyarakat Yogyakarta.


Yogya sebenarnya tambang emas seni pergaulan rakyat sederhana yang biasa tetapi penuh peri kemanusiaan dan sumber daya-daya kreatif. Terutama dan justru di dalam kampung-kampung. Menurut pengamatan saya, letak induk kekuatan Yogya sungguh ada di dalam kampungnya. Mangunwijaya

silakan memberi komentar atas tulisan ini / please give a comment about the topic above

Terima kasih sudah mengunjungi halaman ini. Silakan membuka posting artikel lain di blog ini (silakan klik posting lama, halaman muka atau posting baru di bawah tulisan ini) untuk menjelajahi wilayah lain Nusantara, menyelami pemikiran dan mengenali permasalahan, supaya kita menjadi bagian dari solusi bagi bangsa ini.

Kamis, 05 Juni 2008

Limpahan Kepadatan Kota sebagai Konsekuensi Perkembangan Kota

Limpahan Kepadatan Kota sebagai Konsekuensi Perkembangan Kota :

Melihat Kondisi Perkembangan Kota Yogyakarta, Semarang, dan Solo


Indonesia, khususnya Pulau Jawa mencatat laju pertambahan penduduk yang cukup besar. Di samping oleh laju pertumbuhan alami dari angka kelahiran, juga diperbanyak oleh arus pendatang luar Jawa yang masuk ke |Jawa. Maka Jawa yang sudah padat, menjadi semakin penuh sesak.

Dengan tingkat pertambahan penduduk yang pesat inilah, terjadi kebutuhan ruang yang luar biasa, yang kalau bisa harus didapatkan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Maka jumlah populasi manusia adalah tekanan serius bagi tata ruang dan lingkungan hidup. Karena manusia membutuhkan dan mengubah suatu ruang demi kebutuhan fungsi dalam menjalankan kehidupan mereka. Padahal ruang untuk manusia (baca :daratan atau tanah) tidak dapat diproduksi lagi. Kecuali melakukan pengurukan laut dengan biaya yang sangat mahal. Atau yang lebih ekstrim memindahkan aktivitas kehidupan sehari-hari si atas laut, dengan sarana yang dapat mengapung di atas laut, ataupun membuat ruang baru yang kedap air di dasar laut.

Pusat –pusat tujuan urbanisasi terbesar di Jawa terjadi di beberapa wilayah, terutama yang dekat dengan kawasan industri dan pusat-pusat pemerintahan. Yang terbesar adalah wilayah |Jabodetabek dengan sekitar 20 juta jiwa penduduk. Kemudian disusul, kawasan Surabaya dan sekitarnya ( atau sering disebut kawasan Gerbangkertosusilo) dengan sekitar 7 juta jiwa penduduk. Serta kawasan Bandung Raya dengan sekitar 6 juta jiwa penduduk. Tiga wilayah ini bisa disebut tiga besar pusat urbanisasi di Jawa, yang berbanding lurus dengan tingkat aktivitas ekonomi yang dijalankan. Eiga wilayah ini masih tetap berpotensi untuk berkembang pesat, bahkan meliar tak terkendali, dan menjadi masif sulit untuk diubah jika tidak dikawal dengan kebijakan yang tepat dan penegakan hukum. Karena jika tidak, akan menimbulkan berbagai masalah susulan yang dapat menjadi kontraproduktif dengan usaha yang dilakukan.

Kemudian selain ketiga kawasan tersebut, disusul kawasan lain yang sifatnya lebih menyebar, namun tetap berpotensi bertumbuh cepat dan masif seperti tiga besar yang telah disebutkan. Antara lain kawasan pertumbuhan Serang, Karawang, Cirebon, Pantura Semarang dan sekitarnya, Solo dan sekitarnya, Yogyakarta dan sekitarnya, serta Malang dan sekitarnya.

Pertumbuhan penduduk yang bertimbal balik denagn aktivitas pertumbuhan ekonomi suatu wilayah, dalam hal ini dalam bidang industri, jasa dan perdagangan akan memunculkan dampak semakin hilangnya lahan pertanian dan hutan, beralih fungsi untuk memenuhi kebutuhan aktivitas ekonomi tersebut, termasuk untuk kebutuhan pemukiman penduduk. Maka menjadi hal yang sudah dianggap lumrah di Jawa, jika kawasan perkotaan semakin mendesak kawasan pedesaan termasuk kawasan budidaya pertanian dan kehutanan di sekitarnya, membentuk berbagai pola penyebaran dan pemadatan, mengikuti alur transportasi yang ada. Bahkan wilayah perkembangan suatu kota, sudah melewati batas wilayah administratif suatu kota tersebut, memasuki wilayah administrasi daerah otonom yang lain. Intensitas nuansa perkotaan dengan segala bentuk kepadatan penduduk serta corak kehidupan kota yang khas di wilayah yang menjadi limpahan kepadatan kota induk jauh lebih kuat daripada wilayah yang menjadi ibukota administrasi wilayah otonom yang dijasikan tempatan limpahan kepadatan kota induk.

Untuk menunjukkan hal itu, di bawah ini disajikan contoh kawasan kota yang semakin meluas, bahkan keluar dari wilayah administrasinya.





gambar foto udara Limpahan Kepadatan Kota Yogyakarta
(klik gambar untuk memperbesar / click picture to enlarge)

  1. Yogyakarta

Kota Yogyakarta dikenal mempunyai karakter khas yang mewarnai kehidupan masyarakatnya. Dengan karakter masyarakatnya yang ramah, serta terdapat salah satu pusat pemerintahan tradisional Jawa dengan keunikan budayanya, menjadikan kota ini menjadi kota yang didominasi kegiatan pendidikan dan pariwisata.

Setiap tahun banyak sekali pendatang yang hanya sekedar singgah bahkan menetap di sini, karena melakukan aktivitas yang berkaitan dengan pendidikan dan pariwisata. Kota Yogyakarta sendiri mempunyai luas sekitar 35 km persegi dengan penduduk sekitar 450 ribu jiwa. Cukup sempit dan padat memang. Oleh karena kebutuhan akan ruang untuk membangun berbagai fasilitas pendukung pendidikan dan pariwisata semakin meningkat, maka banyak sekali fasilitas yang dibangun di luar administrasi Kota Yogyakarta, yaitu ke Kabupaten Sleman dan Bantul. Sebagai pelopor pembangunan fasilitas-fasilitas itu, antara lain |Universitas Gajah Mada (tahun 1949) dan Hotel Ambarrukmo (tahun 1960-an) . keduanya berasa di Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman.

Pada perkembangan selanjutnya, ketika kebutuhan akan fasilitas pendidikan dan pariwisata serta pemukiman penduduk semakin meningkat, karena semakin meningkatnya kesadaran, membaiknya perekonomian dan aktivitas masyarakat, serta pertumbuhan penduduk, maka pembangunan semakin gencar dilakukan di semua penjuru yang berbatasan langsung dengan |Kota Yogyakarta.

Maka selain kecamatan Depok, masih ada Kecamatan Mlati dan Ngaglik di Kabupaten Sleman, kemudian Kecamatan Kasihan, |Sewon dan Banguntapan di Kabupaten Bantul yang menjadi wilayah limpahan kepadatan |Kota |Yogyakarta. Si wilayah seputaran |Kota Yogya itulah, aktivitas masyarakat, keramaian dan kepadatan penduduk semakin meningkat. Dan kondisinya lebih ramai daripada ibukota kabupatennya di Sleman dan Bantul.

Dilihat dari kepadatan penduduknya, |Kecamatan Depok sekarang menjadi kecamatan terbanyak penduduknya di Kabupaten |Sleman dengan lebih dari 100 ribu jiwa penduduk. Tak ayal sudah jarang saat ini ditemukan sawah dan ladang penduduk di kecamatan ini, karena telah disulap menjadi kampus, hotel, serta perumahan penduduk. Ke depan jika tidak dikendalikan, jumlah penduduk di Kecamatan Depok bisa menyamai Kota Yogyakarta. Dan ini tentu akan membawa masalah baru yang serius dalam hal tata ruang, lingkungan hidup, ekonomi dan sosial.





gambar foto udara Limpahan Kepadatan Kota Semarang
(klik gambar untuk memperbesar / click picture to enlarge)

2. Semarang

Semarang adalah kota yang mempunyai fungsi strategis bagi masyarakat di wilayah Jawa bagian tengah. Selain menjadi ibukota provinsi Jawa Tengah, kota ini juga mempunyai pelabuhan laut besar yang menjadi pintu gerbang aktivitas perekonomian dan perdagangan di kawasan Jawa bagian tengah. Maka, aktivitas industri, perdagangan dan jasa menjadi nafas kehidupan masyarakat Semarang dan sekitarnya.

Yang dinamakan Semarang sebelumnya adalah kawasan kota di sekitar pantai dan pelabuhan, dan perbukitan di sebelah selatannya. Namun setelah pengembangan wilayah administrasi Kota ke arah selatan dan barat, maka wilayah Kota Semarang mencapai tiga kali lebih luas dari wilayah asalnya, dengan mengambil wilayah yang sebelumnya menajdi bagian dari Kabupaten Semarang. Antara lain kecamatan Tugu, Mijen, Ngaliyan, dan Gunungpati.

Semarang yang saat ini mempunyai penduduk sekitar 1,3 juta jiwa, mempunyai luas wilayah sekitar 370 km persegi. Cukup besar bagi sebuah kota. Di atas kertas memang sangat ideal bagi perkembangan sebuah kota. Namun jika kita berkunjung ke sana, dengan topografi wilayahnya yang berbukit-bukit dan berpantai, tampaklah masalah tata ruang dan kesemrawutan kota menjadi pemandangan sehari-hari. Belum lagi masalah lingkungan hidup misalnya banjir pasang air laut (rob), kekurangan air bersih dan tanah longsor, akibat penggunaan lahan yang sembarangan.

Selain itu juga masalah transportasi, dimana segala bentuk kendaraan besar maupun kecil bergabung dalam satu ruas jalan. Selain kemacetan, polusi udara juga dapat membahayakan keselamatan pejalan kaki dan pengguna jalan yang meggunakan kendaraan yag lebih kecil Terutama truk-truk besar yang menjadi alat transportasi industri yang memenuhi jalan-jalan menuju kawasan industri di sekitar Semarang. Antara lain jalan menuju ke Kendal di barat, Bawen di selatan dan Demak di timur. Hampir dipastikan setiap hari kerja, jalan menjadi sangat padat. Walaupun sudah ada tol dalam kota, namun tampaknya belum memadai untuk menampung jumlah kendaraan dari luar maupun ke dalam kota Semarang.




gambar foto udara Limpahan Kepadatan Kota Solo
(klik gambar untuk memperbesar / click picture to enlarge)


3. Solo

Solo hampir serupa dengan Yogyakarta, menjadi salah satu pusat kebudayaan Jawa. Maka nafas kegiatan pariwisata pun menjadi keseharian di kota ini. Namun berbeda dengan Yogyakarta. Letaknya yang strategis di jantung pulau Jawa, kota ini menjadi simpul pertemuan jalur transportasi Jawa antara jalur utama utara, tengah dan selatan, yang menghubungkan wilayah barat dan timur pulau Jawa. Ditambah dengan dan etos kerja warganya, maka kawasan kota Solo dan sekitarnya pun menjadi salah satu tempat pertumbuhan industri, walaupun tidak seramai Semarang. Selain di dalam kota, kawasan industri juga menyebar ke beberapa wilayah, antara lain ke wilayah kecamatan Colomadu, Gondangrejo dan Jaten di Kabupaten Karang Anyar, serta kecamatan Kartasura, Baki dan Grogol di Kabupaten Sukoharjo.

Solo sendiri mempunyai penduduk sekitar 530 ribu jiwa, dengan luas wilayah sekitar 44 km persegi. Cukup padat memang. Dengan pertambahan penduduk yang pesat, maka kebutuhan akan ruang untuk fungsi pemukiman, perdagangan, jasa dan industri pun melimpah keluar dari wilayah administrasi Kota Solo. Penyebaran limpahan kepadatan tersebut melaju secepat laju penyusutan luas lahan pertanian subur di sekitar kawasan Kota.

Selain kawasan industri yang menyebar di enam kecamatan yang yang berbatasan Kota Solo yang telah tersebut di atas, kawasan pemukiman juga ikut menyebar di keenam kecamatan tersebut. Diperkirakan, keenam kecamatan yang menjadi satelit Kota Solo itu, saat ini jumlah penduduknya mencapai lebih dari 300 ribu jiwa. Dan kondisi keenam kecamatan di simpul-simpul keramaiannya itu sudah nyaris menyamai keramaian Kota Solo. Bahkan lebih ramai dari ibukota kabupatennya.

Kesimpulan

Dengan pesatnya pertambahan jumlah penduduk dan semakin berkembangnya aktivitas ekonomi masyarakat, terutama dalam bidang perdagangan, jasa dan industri, memicu pengalihfungian lahan pertanian dan kehutanan untuk memenuhi kebutuhan lahan untuk pemukiman, serta fasilitas yang mewadahi kegiatan perdagangan, jasa dan industri beserta segala fasilitas pendukungnya.

Pesatnya pertambahan penduduk dan aktivitas ekonomi nonpertanian, membuat kota-kota di Jawa bagian tengah semakin padat dan akhirnya melimpah sampai keluar dari wilayah administrasi Kota.

Harapan

Untuk menjaga perkembangan kota yang tak terkendali, yang meluas dan melimpah sampai ke wilayah pinggiran kota, perlu ditegakkan peraturan tata ruang dan hukum secara tegas dan konsisten. Hal ini untuk melindungi masyarakat dan generasi mendatang dari kerusakan lingkungan, kekekurangan pangan dan kekurangan air bersih.



Tata kota pertama-tama harus mengabdi, melindungi, dan memekarkan anak-anak serta generasi muda. Lain-lainnya, segi ekonomi, politik, dan lain-lain, dapat diatur di sekeliling tolok ukur tersebut. Itulah yang berhak mendapat predikat: kota yang berkebudayaan. Mangunwijaya


silakan memberi komentar atas tulisan ini / please give a comment about the topic above

Terima kasih sudah mengunjungi halaman ini. Silakan membuka posting artikel lain di blog ini (silakan klik posting lama, halaman muka atau posting baru di bawah tulisan ini) untuk menjelajahi wilayah lain Nusantara, menyelami pemikiran dan mengenali permasalahan, supaya kita menjadi bagian dari solusi bagi bangsa ini.

Visit Indonesia : The Uncountable Beauty